Hari ini adalah hari ulang tahunku. Tepat sembilan bulan lalu, aku menjadi penghuni baru di dunia ini.
Pagi-pagi sekali, aku duduk di taman depan rumah sambil menikmati segelas kopi hitam. Seperti biasa, aku menunggu hadiah dari keluargaku di bumi. Entah bagaimana, di dunia ini, kasih sayang masih bisa menyeberangi batas antara kami.
“Bima, kamu mendapat hadiah lagi!” seru seseorang berbaju krem dari balik pagar.
Ia adalah pengantar paket. Kami cukup dekat karena hampir setiap hari ia mampir ke rumahku untuk mengantarkan hadiah-hadiah dari bumi.
Aku menerima beberapa kotak kecil. Satu dari adikku, beberapa dari teman-temanku, dan satu dari Ibu.
Aku membawa semua hadiah itu ke taman. Kotak dari Ibu sengaja kusimpan paling terakhir.
Aku membuka hadiah dari adikku terlebih dahulu, kemudian hadiah-hadiah dari teman-temanku. Satu per satu kubuka sambil tersenyum mengingat mereka.
Terakhir, tinggal kotak dari Ibu.
Ukurannya kecil. Tidak ada nama barang di bagian luarnya. Hanya namaku yang tertulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
Doa untukmu, Nak.
Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Tidak ada hadiah lain. Hanya empat kata. Namun, entah kenapa, aku tersenyum.
Mungkin memang begitu cara Ibu mencintaiku. Bahkan ketika kami sudah berada di dunia yang berbeda, ia tetap tahu bahwa aku tidak membutuhkan banyak hal.
Aku menyimpan kertas itu di saku.
Saat itulah aku merasa seperti sedang diperhatikan.
Aku mengangkat kepala. Di kejauhan, berdiri seorang perempuan kecil.
Aku menatapnya lama.
Entah kenapa, wajahnya terasa begitu akrab. Bukan karena aku pernah melihatnya, tetapi karena ada sesuatu dalam sorot matanya yang mengingatkanku pada cerita-cerita Ibu.
Tapi itu tidak mungkin.
Kakakku masih hidup. Ia masih berada di bumi.
Lalu, siapa perempuan itu?
Aku mencoba mendekatinya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun, sebelum aku sempat bertanya, ia berbalik dan pergi.
Aku hanya bisa memandang punggungnya yang semakin jauh.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku bertanya-tanya,
Apakah misi kakakku di bumi sudah selesai?
***
Keesokan harinya, aku pergi ke pusat administrasi.
Aku mengantre cukup lama sebelum akhirnya tiba di depan seorang petugas.
“Ada yang bisa kami bantu?”
“Aku ingin mengecek apakah kakakku sudah datang.”
“Boleh kami tahu nomor kedatanganmu?”
Aku menyebutkannya.
Petugas itu mengetik beberapa angka di komputer. Wajahnya datar, seperti sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam ini.
“Misinya belum selesai. Dia masih di bumi.”
Aku menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Petugas itu kembali mengetik.
Namun, beberapa detik kemudian, ia berhenti.
“Tapi ada satu hal.”
“Apa?”
“Ternyata ada satu lagi.”
Aku terdiam.
“Misinya sudah selesai dua puluh enam tahun lalu.”
Dua puluh enam tahun.
Aku mengernyitkan dahi. Lalu sebuah ingatan lama muncul begitu saja. Aku pernah mendengar Ibu bercerita tentang anak keduanya. Tentang kehamilan yang tidak pernah sampai pada kelahiran. Tentang seorang kakak yang bahkan tidak sempat diberi kesempatan untuk mengenal dunia.
“Apakah dia masih di sini?” tanyaku pelan. “Atau sudah mendapat misi baru?”
“Dia masih di sini.”
Petugas itu menyerahkan sebuah alamat.
“Dia tinggal di Line 2000. Tempat orang-orang yang misinya selesai sebelum sempat dimulai.”
Aku menatap alamat itu beberapa saat.
“Bisa aku menemuinya?”
Petugas itu mengangguk.
“Tentu.”
***
Aku menaiki bus menuju Line 2000.
Perjalanan terasa panjang.
Entah bagaimana, dunia ini memiliki cara sendiri untuk menyimpan waktu. Untuk menemukan seseorang yang sudah menungguku selama dua puluh enam tahun, aku harus menempuh perjalanan selama berjam-jam.
Ketika tiba, aku memasuki Line 2000 Blok A. Suasana di tempat ini berbeda dari lingkungan tempat tinggalku. Rumah-rumah berdiri rapi di sepanjang jalan. Sebagian besar memiliki halaman luas dengan taman yang terawat.
Aku menggenggam erat alamat yang diberikan petugas di pusat administrasi. Sebuah rumah bercat putih. Itulah tujuanku.
Aku berjalan beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di sebuah pos kecil di persimpangan. Seorang petugas berbaju krem duduk di sana. Aku menghampirinya dan menunjukkan alamat di tanganku.
“Permisi. Apakah Anda tahu rumah ini?”
Petugas itu membaca alamat tersebut, lalu mengangguk.
“Tahu. Rumahnya tidak jauh dari sini.”
Ia menunjuk sebuah jalan di sebelah kanan.
“Lurus sampai ujung, lalu belok kiri. Rumah bercat putih dengan pohon kecil di depan pagarnya.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Aku melangkah mengikuti petunjuknya.
Semakin dekat, jantungku terasa semakin berdebar.
Aku tidak tahu seperti apa kakak yang selama ini hanya kukenal melalui cerita Ibu.
Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan ketika akhirnya bertemu dengannya.
Beberapa menit kemudian, aku melihat sebuah rumah bercat putih di ujung jalan.
Di depannya tumbuh sebuah pohon kecil.
Aku berhenti.
Alamat di tanganku sama persis dengan alamat yang diberikan petugas di pusat administrasi.
Aku berdiri di depan pintu. Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku menekan bel.
Sekali.
Tidak ada jawaban.
Dua kali.
Masih tidak ada.
Untuk ketiga kalinya, pintu terbuka.
Seorang anak perempuan berdiri di sana.
Aku mengenalinya.
Perempuan kecil yang kulihat di taman.
Ia menatapku beberapa detik.
Lalu tersenyum.
Senyum yang anehnya terasa begitu dekat.
“Hai, adikku.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Ia melangkah mendekat.
“Maaf membuatmu menunggu selama dua puluh enam tahun.”
“Dua puluh enam tahun,” ulangku.
Aku menatap wajahnya. Ia masih terlihat seperti seorang anak perempuan.
Di dunia ini, rupanya waktu tidak bekerja seperti di bumi.
“Jadi... kamu kakakku?”
Ia mengangguk.
“Aku sudah menunggumu.”
Aku menelan ludah.
“Tapi kenapa kamu tidak pernah datang ke bumi?”
Ia tersenyum kecil.
“Karena aku tidak pernah sempat sampai ke sana.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti.
Ada manusia yang datang ke dunia untuk menjalankan misi.
Ada yang tinggal selama puluhan tahun.
Ada yang hanya beberapa bulan.
Dan ada yang bahkan tidak sempat menarik napas pertama.
Namun ternyata, tidak sempat hidup bukan berarti tidak sempat menjadi keluarga.
Ia menggenggam tanganku.
Hangat.
“Ayo masuk,” katanya. “Aku ingin mendengar semua cerita tentang Ibu.”
Aku tersenyum, meski mataku mulai basah.
“Banyak sekali yang ingin kuceritakan.”
“Aku punya waktu untuk mendengarnya.”
Kami berjalan masuk bersama.
Selama dua puluh enam tahun, kami hidup di dunia yang berbeda.
Ia menungguku di sini.
Aku tumbuh di bumi tanpa pernah mengenalnya.
Namun ternyata, waktu tidak selalu digunakan untuk menjauhkan seseorang.
Kadang, waktu hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk mempertemukan. Dan hari ini, akhirnya kami bertemu.