Aroma kopi Gayo dan tawa Kirana biasanya adalah kombinasi yang menenangkan. Tapi sore itu, di sudut kafe langganan kami udara terasa statis. Aku duduk di sana menyesap americano dinginku sambil menyaksikan sebuah pengkhianatan kosmik yang terpampang nyata.
Di jari kelingking kanan Arya, seutas benang merah—setipis serat sutra namun berpijar seperti neon—keluar dengan angkuh. Ia tidak mengarah padaku. Benang itu meliuk malas di antara cangkir-cangkir kami, lalu menancap kuat pada kelingking Kirana yang sedang asyik mendemonstrasikan bagaimana kucing barunya mengejar bayangan.
Setiap kali Kirana tertawa, benang itu berdenyut. Persis seperti detak jantung yang sinkron.
Aku melirik kelingkingku sendiri. Benangku menegang tertarik kencang ke arah timur—ke luar jendela menuju entah siapa di belahan kota ini. Sebuah "rumah" yang sudah disiapkan takdir untukku, tapi pintunya bahkan tidak ingin kuketuk.
"Yu, kamu melamun?" Suara Arya memecah lamunanku.
Aku menatapnya. Arya tidak melihat benang itu. Dia hanya melihatku dengan tatapan teduh yang selalu membuatku merasa aman. Tapi aku bisa melihat bagaimana matanya sesekali tergelincir ke arah Kirana. Bukan karena dia jahat, tapi karena jiwanya sedang dipanggil pulang oleh semesta.
"Aku cuma sedang berpikir," kataku, suaraku datar namun tegas. "Tentang seberapa sering kita dipaksa menghuni rumah yang tidak kita pilih."
Kirana berhenti tertawa, wajahnya bingung. "Maksudmu, apartemen barumu?"
Aku tersenyum tipis, menatap benang merah yang menghubungkan mereka berdua. Benang itu berkilau lebih terang sekarang, seolah-olah sedang menertawakanku.
"Bukan. Tentang takdir, Ran. Tentang bagaimana semesta kadang-kadang bersikap seperti diktator," jawabku. Aku meletakkan cangkirku, suaranya berdenting keras di atas meja marmer.
Aku memutuskan untuk tidak menjadi korban hari ini. Jika aku harus menderita karena mencintai seseorang yang bukan 'milikku' secara teknis, maka biarlah penderitaan itu menjadi bahan bakar jiwaku. Aku tidak akan lari ke arah Timur hanya karena sebuah benang merah menyuruhku.
"Arya," panggilku pelan.
"Ya?"
"Kalau suatu saat semesta berteriak di telingamu bahwa kita adalah sebuah kesalahan, apa kamu akan menutup telingamu bersamaku?"
Arya tertegun. Benang di tangannya bergetar hebat saat ia meraih jemariku. Takdir menariknya ke arah Kirana, tapi otot dan kehendaknya memilih untuk menggenggamku.
"Aku akan memakai penutup telinga yang paling rapat, Yu," bisiknya.
Di antara tarikan takdir yang berlawanan, kami menciptakan ruang hampa kami sendiri. Sebuah rumah yang tidak terdaftar di peta semesta, tapi sah milik kami.