Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
186
Perjanjian Pikiran
Misteri
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Ini minggu ketiga bulan Agustus 2026, tepatnya tanggal 21. Hampir kuselesaikan puisi terbaruku tentang kritik sosial. Tentang keadaan masyarakat global terkini, yang bagai dihantam batu setelah terjebak lumpur hisap.

‎Keadaan dunia memang sedang kacau. Iran dan negaraku sekarang tinggal, Amerika, tak ada yang mau mengalah. Semuanya demi kehormatan bangsa. "Kehormatanmu sendiri!" Bentakku dalam hati.

‎Seperti biasa, dalam menulis aku mencari referensi ke berbagai karya. Baik lirik lagu, buku, maupun film. Dimana dari dulu kusadari satu hal. Keadaan dunia dengan karya para maestro tersebut, seolah selalu relevan.

‎Banyak teori yang bermunculan, semisal mereka berkomplot dengan elit global. Tapi tidak ada bukti kuat. Meski kekayaan dan hak eksklusif mereka akan ketenaran, sedikit membuat jiwa sosialku terpantik.

‎Aku kembali menulis. Kupikir dari dua puluh tujuh bait yang sudah jadi, tinggal baik terakhir yang kugarap. Seperti biasa bait terakhir adalah kesimpulan dari semua bait sebelumnya. Jadi jika lima bait dirangkum jadi satu untuk yang terakhir, ada sekitar enam larik dalam bait terakhir yang harus kutulis.

‎Aku pun membaca bait pertama, dan berpikir sejenak untuk menulis larik pertama bait terakhir. Semua lancar hingga tersisa dua larik.

‎Bait ke 21 sampai ke 25 tentang hampir terciptanya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat. Dari berita yang beredar kedua pihak sudah 99 persen bersiap damai.

‎Tapi aku mendadak kepikiran sesuatu. Sudah belasan tahun aku jadi penulis, mungkin jiwaku yang memang sombong. Sudah banyak penulis seangkatanku yang sekarang punya nama. Tapi sesungguhnya kualitasnya jauh di bawahku. Kupikir itu keberuntungan, tapi jika dinalar memang agak janggal.

‎Misalnya buku yang ditulis kawanku tentang suatu wabah, terbit tiga bulan sebelum wabah covid. Atau pamanku yang sebelum tahun 2008, bahkan hidup menumpang orang tuanya, sukses setelah bukunya dianggap tepat memprediksi krisis global, beberapa minggu sebelumnya.

‎Kesamaan dari keduanya adalah keduanya bukan penulis cakap pun miskin diksi. Aku bahkan tidak percaya mereka menulis karya sendiri. Seolah ada tim profesional.

‎Maksudku bukan gaya bahasa atau typo, karena banyak penulis pun mengandalkan editor. Yang aku maksud adalah kedalaman tema, dimana buku keduanya terasa sangat intelek, padahal kutahu keduanya bodoh.

‎Satu lagi, waktu itu belum ada AI. Jadi aku menghapus kemungkinan mereka curang dengan cara seperti itu.

‎Kesamaan keduanya ialah, mereka seolah jauh dari agama setelah itu. Aku tidak mendiskreditkan atheis. Tapi keduanya seolah meraih kesuksesan setelah jauh dari Tuhan. Layaknya dongeng dimana ada yang jauh dari keyakinan yang mereka peluk, setelah bersekutu dengan iblis.

‎Lalu ada kesamaan lagi. Mereka berdua sudah tiada. Cara yang tidak wajar atas kepergian mereka, membuatku bergidik. Dan hampir saja mempengaruhi otakku.

‎Dimana aku berniat membumbui larik tersebut dengan unsur konspirasi. Tapi aku urungkan, karena aku tahu itu bisa menyinggung, dan mungkin berakhir rumit. Ah, tak perlu kupikir lagi, jika ujungnya berakhir tak baik.

‎Aku kembali fokus pada larik kelima bait terakhir. Sebelumnya aku menenggak alprazolam. Ya, karena tak kunjung sukses, kejiwaanku terganggu. Aku mengantuk, lalu tidur.

‎Saat terbangun aku terkejut, larik kelima dan terakhir sudah selesai ditulis. Aku bingung, bagaimana bisa, sedang aku ketiduran. Juga kuncinya hanya aku yang pegang, karena memang aku tinggal sendiri.

‎Lalu muncul pikiran di kepalaku, seperti ingatan pendek yang muncul beberapa detik sekali, kalau memang benar aku yang menulisnya.

‎Juga dalam ingatan itu aku merasa, ada sesuatu yang bukan sosok, bukan bayangan. Pokoknya sangat sulit dideskripsikan dengan indera serta logika manusia.

‎Sosok itu seolah berbicara pada jiwaku, suaranya sangat jelas. Tapi tak pernah kudengar dimanapun. Seolah memiliki kekhasan, bahwa itu hanya milik satu pribadi.

‎Ia menawarkan bahwa puisiku tersebut akan dibicarakan sampai hari akhir. Aku kemudian sadar, yang sedang menawariku adalah iblis. Aku pun bertanya resikonya. Ia hanya berkata dia tak perlu jiwaku, karena sudah terlalu banyak yang melayani, hingga dirinya merasa risih.

‎Satu hal yang pasti, ia ingin aku jauh dari moral. Tak perlu jauh dari agama seperti yang aku perkirakan. Iblis berkata, itu cuma bonus terima kasih padanya. Ia tak peduli jika aku mempersembahkan ritual jauh dari agama atau tidak.

‎Aku mengiyakan, sebab aku sudah bosan dengan nyinyiran, baik keluarga maupun lingkungan sekitar. Aku sudah bosan belasan tahun berkarir sebagai penulis gagal, sehingga aku mengiyakan.

‎Setelah deal, saat itu juga aku merasa seperti sedang berjabat tangan. Tangannya besar, dinginnya seperti es, dan membuat sendi lengan juga tanganku lemas.

‎Lalu aku terjaga, peristiwa dalam otakku terasa sangat nyata. Kupandangi alprazolamku. Aku linglung apakah benar tadi aku sudah meminumnya.

‎Tapi aku tak mau meminum obat ganda dalam satu waktu, jadi kunyalakan saja televisi. Seperti yang kuduga, Amerika dan Iran tak jadi berdamai. Penyebabnya Iran menganggap Amerika melakukan sabotase halus.

‎Aku tak kaget. Tapi tetap gemetar karena sebentar lagi aku akan meraih ketenaran. Tentu berkaitan dengan larik kelima serta keenam dari bait terakhir. Sajaknya tentang rasa curiga dan tuduhan sabotase.

‎Neraka? Kupikir belakangan, karena aku ingin menikmati yang ada di depan mata dulu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi