Dia tak datang saat bersanding.
Tapi, dia justru datang dan menangis kepadaku mengabarkan perpisahannya.
Dia memintaku memberinya lahan. Aku memberinya.
Hidupnya mulai membaik.
Kain dan boga kerap aku beri karena kedua tangannya kerap menengadah di depanku.
Tak jarang, aku mengajaknya keliling kota, lalu bersantap mewah.
Aku mengira kita terikat, ternyata tidak. Dia hanya menyukai apa yang diberi, bukan siapa yang memberi.
Dia meracuni semua untuk turut membenciku. Hasadnya begitu tinggi saat melihat lahan yang aku tanam dan rawat siang malam berbuah manis.
Dia terus berkoar, tapi hanya berani di belakangku.
Dia terlalu pengecut untuk aku yang senang bercengkerama.
Aku memintanya pergi dari lahan.
Dia mengamuk, tanpa tahu siapa dirinya. Dia pergi dengan congkaknya yang tak melebur sedikitpun. Dia kehilangan lahan, lontang lantung ke sana ke mari menjajakan air dengan pemanis buatan.
Aku tak mencarinya, tak juga penasaran. Tapi kabar itu datang tanpa aku minta.
Hidupnya tidak tak kunjung membaik. Begitu juga dengan tingkah congkaknya.
Kabar terakhir yang datang kepadaku, aku melihatnya pergi ke sebuah pesta pora, tertawa nyaring dengan memakai kebaya kutu baru berwarna merah yang aku beli dan aku sumbangkan untuk pengemis itu.