"Menangis? Mana mungkin aku menangis.”
"Ada-ada saja kau ini."
"Tidak, aku tidak sedang mengada-ada. Aku mendengarmu menangis dengan jelas."
"Berhentilah berbohong, aku lelah dengan semua sikapmu."
"Jika saja aku bisa meninggalkanmu, sudah pasti aku lakukan sejak dulu."
Ucapannya membuatku diam, tak berkutik. Aku tidak bisa lagi mengelak. Semua ucapannya benar, aku menangis dan aku berbohong. Tatapannya semakin membuatku terlihat begitu menyedihkan seperti manusia tanpa harapan.
"Menangislah jika kau ingin, menangis sama sekali tidak membuatmu terlihat lemah dan menyedihkan."
Aku mulai terisak, menangis seorang diri di dalam ruang mimpi nan fana. Lagi-lagi aku merasa sedih, bingung, dan khawatir tanpa sebab. Rasanya dunia ini terlalu gelap untukku.
"Kau tak pernah tau bagaimana perasaanku," kataku lirih.
"Kau tak akan pernah bisa mengerti!"
"Kau salah, justru aku lebih mengerti darimu. Aku merasakannya lebih dari yang kau rasakan. Saat kau sedih, aku akan jauh lebih sedih darimu."
"Kau selalu menyiksaku, kau sama sekali tak pernah memberiku kesempatan untuk bahagia. Meski sebenarnya kau bisa melakukan itu!"
"Apa maksudmu?" tanyaku mengernyit.
"Lepaskanlah semua. Lepaskanlah rasa lelah, bimbang, sedih, cemas, dan khawatirmu. Keluarlah dari belenggu itu. Asal esok kau masih bisa makan, rasanya kau tak perlu cemas dan khawatir berlebihan. Dan biarkanlah semua tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya sampai pada akhirnya waktu akan menjawab semua pertanyaan dan keresahanmu."
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku dalam isak tangis.
Dia terdiam dan tersenyum kepadaku, senyuman yang terlihat begitu menenangkan.
"Kau tau jika aku adalah bagian dari dirimu. Tidak banyak yang bisa kau lakukan selain melepaskan semuanya yang telah terjadi. Aku mengerti jika ini bukanlah suatu hal yang mudah untukmu tapi bukan berarti ini mustahil untuk dilakukan."
"Berhentilah membandingkan dirimu dengan sang liyan karena jika kau terus melakukan itu, kau akan semakin membuatku menderita. Kau percaya dengan waktu?”
Aku mengangguk.
"Setiap orang pasti memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Cukup fokus dengan hal-hal yang membuatmu bahagia agar kau bisa menjadi manusia yang lebih baik. Jika kau bahagia sudah pasti aku akan bahagia."
Aku tertunduk, mengiyakan semua ucapannya. Ucapan yang sebenarnya sudah terdengar cukup lama dari dalam diri ini, hanya saja sering kali tertutup oleh kabar-kabar keberhasilan orang lain. Dan semua itu hanya akan berakhir dengan menyalahkan diri sendiri yang tak bisa apa-apa seperti mereka.
"Teruslah berusaha, tetapi jangan terlalu berlebihan untuk mengharapkan sesuatu. Berharap memang tidak salah namun, terkadang harapan itu justru yang akan membuat kita terluka semakin dalam."
"Justru kau harus berhati-hati dengan harapan karena harapanmu yang terlalu tinggi dapat membunuhmu dengan sangat perlahan, tetapi begitu menyakitkan. Dan yang terpenting, harapan tidak selalu menyenangkan jika dipertemukan dengan realita."
Aku masih diam termenung, mencerna semua ucapannya yang sama sekali tidak bisa aku perdebatkan. Sorot matanya tajam, menatapku dengan penuh keyakinan bahwa aku bisa melewati masa-masa ini. Tak selang beberapa lama, ia kembali berucap memberiku sebuah perintah.
"Boleh aku mintamu untuk melakukan sesuatu?"
"Apa?" jawabku bingung.
"Berterima kasih lah pada dirimu sendiri karena sudah bertahan selama ini. Kau hebat!"
Aku terperanjat, mataku mulai terbuka secara perlahan. Air mataku masih terasa mengalir meski aku sudah terjaga. Senyumannya yang selalu aku lihat ketika bercermin, secara perlahan mulai terlihat samar manakala kesadaranku sudah mulai kembali. Lagi-lagi, dia datang ketika aku merasa tak berdaya dan tak berguna sama sekali. Kedatangannya kali ini semakin menyadarkan aku untuk selalu berterima kasih dan mencintai diri sendiri apapun yang terjadi.