Leherku dijerat senyap bayangan dingin, sepasang tangan setia melingkar tanpa pernah aku minta kehadirannya. Cekikannya sunyi, tapi terasa begitu mencekat. Ia memutar tubuhku, memaksaku menghadap jendela nako yang tak pernah benar-benar terbuka. Di balik kaca, langit tampak begitu merah, sama sekali tak menunjukkan keakrabannya kepadaku.
Air mataku jatuh tanpa suara, mengalir seperti arus balik sungai yang mati. Mulutku ingin berteriak, tapi suaraku telah tenggelam entah sejak kapan. Aku ingin melompat, tapi kakiku tertambat oleh akar yang tumbuh dari ubin. Jika pun aku meloncat, tak ada tanah yang bisa aku tapaki, bahkan tak akan ada yang peduli. Hanya udara yang mungkin akan menyambutku dalam keheningan yang lebih kejam.
Ruangan ini kosong, tapi penuh olehnya, sosok tanpa nama yang terus menyiksaku tanpa jeda. Kadang ia terlihat seperti bayangan di dinding, kadang terdengar seperti suara dari langit-langit, dan terkadang seperti pantulan cermin yang gemar menertawakanku. Aku bertahan dalam kekusutan ini karena di kejauhan, sebuah mimpi menungguku. Aku harus mengejarnya, walau malam selalu mengikatku dengan rantai tak kasatmata. Hari-hari bersamanya membuatku seperti tak lagi tinggal di tubuh yang sama dengan milikku.
Setiap hari, ruangan ini terasa semakin menyempit membuatku merasa sesak seperti paru-paru yang terus disesaki asap rokok tanpa henti. Benang-benang merah menjuntai dari langit-langit, merambah ke lantai, dan melilit pergelangan tanganku hingga aku tak tahu lagi mana tubuhku dan mana jeratnya. Dia terus berbicara dalam bisikan halus, menyuruhku untuk menyerah dan memintaku agar melupakan caranya bernapas.
Aku telah mencoba mengurai benang kusut itu satu per satu, tapi simpulnya selalu kembali, lebih rumit, lebih rapat. Ruangan ini seolah sedang tertawa atas keadaanku dan menantang kewarasanku. Aku memohon. Dengan air mata, dengan suara yang semakin lemah.
Kukatakan, enyahlah.
Tapi, ia justru tertawa. Kepalanya semakin membesar, seakan bangga atas tubuhku yang mulai membungkuk. Semakin keras aku merintih, semakin teguh ia bertahan. Semakin lemah aku, semakin ia tumbuh kuat. Dan ruangan ini, tak lagi seperti tempat yang lumrah. Setiap sudut dipenuhi lilitan yang diciptakan olehnya dan aku tak tahu lagi mana ujung yang bisa aku tarik untuk mendapatkan kebebasan jiwa.
Aku hampir mengibarkan bendera putihku sendiri, selembar kain yang melambai-lambai di tengah keterpurukan dan keputusasaan. Lelah ini bukan hanya milik tubuh, tapi lebih dari itu. Sebuah pelapukan ruh, sebuah luka yang tak mampu lagi dijelaskan dengan kata-kata biasa karena tak akan ada yang benar-benar bisa mengerti dan memahami rasa lelah ini.
Aku ingin berhenti, tapi dia, bayangan itu, suara itu, kembali menyeretku masuk ke dalam ruangan ini. Ia tak pernah rela melepaskanku pergi menghirup udara bebas. Ia terus mengikuti setiap langkah kaki ini yang pergi tanpa arah, tak kenal lelah, dan tak pernah menjauh. Sering aku berpikir dan membayangkan, mungkin saja kehidupan di dalam tanah jauh lebih baik daripada di ruangan ini. Setidaknya, di sana aku sendirian, tanpa harus selalu berbagi udara dengannya.
Di sini, pintu selalu terkunci dengan suara tawa kecilnya yang selalu memenuhi ruangan, jendela hanya menampilkan langit merah, tanpa balkon untuk menikmati udara segar. Diriku kian kabur dan kian asing. Agaknya, hidup ini memang bukan diciptakan untuk orang-orang sepertiku. Mungkin dunia ini akan berjalan dengan lebih ringan tanpa harus turut memikul beban kehadiranku yang tak pernah utuh. Kini, aku terjebak di antara kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tak pernah menjadi nyata.
Tak ada arah.
Tak ada langit cerah.
Dan tak akan ada tawa bahagia.
Aku hanya mematung berdiri di tengah rungan ini bersama langkah yang selalu ragu aku ayunkan. Aku tertidur di atas lembaran kardus yang sudah lama kehilangan aroma kayu. Air malam menetes dari atap, membasahi pipi yang bahkan tak sempat mengering. Malam ini berbeda, ia tak mencekikku seperti biasa. Ia datang justru dengan membawa sebilah pisau, bukan sebagai ancaman, tapi semacam untuk perjanjian ganjil.
Matanya tetap menyala merah. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, seperti kabut yang tahu cara menyelinap ke dalam dada. Pelan-pelan ia meletakan pisau itu di depanku, seolah sedang meletakkan bunga di altar pemakaman.
“Bunuh aku,” bisiknya, lebih pelan dari detak jarum jam yang tak pernah ada di ruangan ini.
Aku menatapnya, tanganku tak lagi gemetar. Pikiranku tak lagi ribut oleh ketakutan. Wajahku datar tanpa gairah.
“Aku tak bisa,” jawabku dengan suara yang seperti ranting patah di musim gugur.
“Aku tak bisa membiarkanmu seperti ini terus menerus,” ujarnya, seolah begitu peduli terhadap kehancuranku yang ia ciptakan sendiri.
Aku tersenyum, bukan senyum hidup melainkan senyum penuh kegetiran dari luka yang sudah terlalu dalam.
Tawaku meluncur dari kerongkongan, bukan karena lucu, tapi karena rasa putus asa yang akhirnya punya suara.
“Kau yang membuatku seperti ini!” ucapku tak lagi bisa menahan air mata dan kemarahan.
“Kau yang menarikku ke ruangan ini, mengunciku dengan rantai yang kau buat lewat kata-katamu. Kau mencuri akalku, menghancurkan hari-hariku, membuatku kehilangan semua yang aku punya dan sekarang kau datang sebagai pahlawan kesiangan seperti seorang pecundang.”
Ia tak menjawab.
Aku tahu, ia esok akan kembali datang merayu dengan kebohongan lain yang berbeda. Dan aku akan tetap bertahan, entah untuk menghancurkannya atau hancur bersamanya.
“Aku tak pernah membelenggumu. Kau yang terlalu lemah dan kelemahamu membuatku semakin gemar mempermainkanmu” katanya yang terdengar menyerupai lagu usang dari kotak musik yang retak.
Aku berteriak.
Bukan satu suara, tapi seribu suara yang keluar dari tenggorokanku yang patah. Jerit histeris yang tak hanya mengguncangkan seluruh ruangan, namun juga mengguncang kesadaranku sendiri.
“Bunuh aku sekarang,” katanya dingin.
Ia masih menatapku dengan mata merah menyala penuh api.
“Aku memberimu satu kesempatan sebelum aku akan menyiksamu lebih dalam lagi.”
Pisau itu terasa begitu dingin di tanganku, tapi keraguan jauh lebih dingin membelenggu. Kami telah hidup bersama terlalu lama, seperti dua jiwa dalam satu tubuh yang saling melukai untuk tetap hidup. Tapi, aku pun tak ingin selamanya terikat pada diri yang selalu membuatku lemah tak berdaya dan merasa tak layak untuk terus menapaki dunia yang penuh kefanaan ini.
Di tengah keraguan dan napas yang memburu, aku menikamnya. Pisau itu menembus tubuhnya, tapi ia tak roboh apalagi hancur. Ia tetap berdiri, seperti bayangan yang menolak hilang meski matahari tak lagi bersinar. Di sekelilingku, benang-benang kusut semakin kencang menjerat. Tapi, aku tahu inilah saatnya peralihan harus dimulai. Dengan pisau itu, aku mengiris simpul-simpul kusut yang selama ini terus mengikat. Tangan dan jari-jariku berdarah, luka dari benang yang seolah terbuat dari kawat berduri. Tapi, aku tak lagi peduli, meski harus berdarah-darah sekali pun, aku tetap merapikannya. Rasa ini tak lagi menakutkan ketika aku memilih untuk melawan dan memutuskan untuk hidup.
Kenyataannya, tak semua benang bisa rapi. Beberapa tetap kusut, membatu, bahkan sulit disentuh. Namun, sebagian besar mulai membuka ruang dan dalam ruangan ini, aku akhirnya bisa bernapas dengan lega. Aku gunakan pisau itu untuk menghacurkan jendela nako. Pecahannya menyambutku dengan pelukan berdarah, menghiasi telapak tanganku dengan serpihan cahaya dan luka. Tapi, dari celah kaca yang remuk, matahari akhirnya menyentuh wajahku. Udara segar aku hirup dalam-dalam, menyapu bersih debu-debu yang selama ini memenuhi ruangan.
Aku masih berdarah, tapi aku hidup.
Pintu itu menatapku seperti jiwa yang terluka. Kutatap balik pintu itu dengan sisa tenagaku, kutikam kuncinya, kurusak badannya. Ruangan ini akhirnya terbuka. Sosok yang selama ini mengisi pikiranku, masih berdiri di sana. Namun, tak lagi murka dan tak lagi haus sukma.
Aku berdiri berdampingan dengannya. Dua makhluk dalam satu kepala. Dua sisi dari satu jiwa yang terluka. Seekor anjing hitam kini duduk dengan tenang, ekornya tak lagi menggila. Dan kini, aku bisa hidup bersama di ruang bernama pikiran, berdampingan bersamanya yang akhirnya bisa aku kendalikan.