Malam itu hujan. Dika baru sampai rumah jam sepuluh malam, bajunya masih agak basah karena kehujanan. Sari sudah menunggu di depan rumahnya sambil beracak pinggang.
"Dari mana?" tanya Sari, nadanya datar.
"Anterin Mbak Rani ke RS, Sar," jawab Dika sambil melepas jaket, "Dia kontraksi dini. Suaminya lagi di luar kota."
Sari tertawa pendek. "Anterin ke RS? Jam segini?"
Sari mengangkat ponsel. "Tadi aku baca ramalan. Katanya hari ini zodiak Scorpio rawan dikhianati sama orang terdekat. Terus di tarot keluar kartu Three of Swords. Artinya perselingkuhan."
Dika mengusap wajahnya yang lelah. Rasa kesal mulai menyelimuti. Bagaimana tidak? Sudah pulang malam, malah dituduh yang aneh-aneh sama pacarnya.
"Sayang, Mbak Rani itu atasan aku. Umurnya 38 tahun, anaknya dua. Aku beneran cuma nganter," ucap Dika, pelan.
"Terus kenapa nggak bilang dari awal?" sergah Sari, "Kenapa baru cerita pas udah pulang?"
"Aku panik. Di jalan macet, terus di RS juga ribet ngurusin," jawab Dika, "Aku chat kamu tapi kamu centang satu."
"Alasan," potong Sari cepat, "Ramalan nggak pernah bohong, Dik. Minggu lalu juga gitu. Katanya aku harus hati-hati sama 'air'. Kamu kan zodiaknya Cancer. Elemen air."
Sehari setelahnya kejadian lagi. Dika pulang agak malam karena lembur.
"Kamu sama siapa?" tanya Sari. Perempuan itu sudah menunggunya di depan rumahnya seperti biasa.
"Sendiri. Lembur beresin laporan," jawab Dika.
Sari mendekat, mengendus baju Dika. "Ini wangi parfum cewek."
" Itu parfum Mbak Rani ketumpahan di mobil pas kemarin," jelas Dika, "Aku udah bilang, kan?"
"Terus kenapa di ramalan hari ini tertulis: 'Waspada, pasanganmu menyembunyikan sesuatu'?" ujar Sari sambil nunjukin layar ponsel. "Aku nggak nuduh. Aku cuma percaya sama tanda."
Dika duduk. Bahunya turun.
"Sar, kalau tiap aku pulang telat kamu cocokin sama ramalan, aku capek," ucap Dika, "Aku nggak selingkuh. Aku kerja."
"Terus kenapa semesta ngingetin aku terus?" tanya Sari, matanya mulai berkaca-kaca, "Aku takut, Dik. Aku nggak mau jadi korban."
Sebulan kemudian puncaknya.
Dika izin pamit. Dia mengirimkan pesan ke Sari.
Aku ada kerjaan di kantor cabang, ya. Mungkin pulang jam 11.
Sari yang membaca pesan dari Dika langsung mengeryitkan dahi. Rasa curiga itu langsung menyerang pikirannya.
Sari membalas :
Malam-malam ke kantor cabang? Zodiak hari ini bilang: Jangan percaya janji manis.
Dika membalas :
Bukan janji manis, Sar. Ini kerjaan.
Jam sebelas malam, Dika belum pulang. Jam dua belas chat tidak dibalas. Jam satu malam Sari sudah nangis di kamar.
Dia buka aplikasi ramalan. Tulisan merah menyala:
“Hari ini kamu akan dikhianati oleh orang yang paling kamu percaya.”_
Pagi harinya Dika datang ke rumah Sari untuk menjelaskan. Dia paham pacarnya ini punya sifat overthingkingan akut. Dengan wajahnya kusut, Dika duduk di teras rumah Sari.
"Aku tidur di kantor, Sar. Server down. Semua tim juga nginep," kata Dika sambil menyodorkan foto timnya begadang.
Sari melihat foto itu, lalu membuang muka.
"Kamu bisa aja cari alasan," jawab Sari. "Kamu selingkuh, ya?"
Dika terdiam lama.
"Aku udah jelasin pakai bukti, pakai waktu, pakai tenaga," ujar Dika pelan, "Tapi kamu milih percaya sama ramalan bodohmu itu daripada percaya sama aku!"
"Aku cuma mau jaga hubungan kita," sahut Sari defensif.
"Dengan menuduh aku tiap hari?" balas Dika. "Ini bukan jaga. Ini nyiksa."
Minggu depannya Dika lembur kerja. Dia titip pesan lewat adik Sari. Dika sudah capek dengan drama Sari dan ramalan bodohnya itu.
Bilang ke Mbak Sari, aku nggak kuat. Aku kalah sama ramalan.
Sari membaca chat itu sambil menggenggam ponsel adiknya. Sari cuma tersenyum.
Notifikasi baru masuk dari ramalan itu : Melepaskan adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri.
Sari mengangguk pelan, seolah menang.
Tapi malamnya, untuk pertama kali, dia mematikan notifikasi aplikasi ramalan itu. Dia mengira ramalan
yang dia percaya itu benar, padahal Sari kehilangan seseorang yang tulus.