PATTERNS
by Demalabyrinth
Tidak ada jam di lorong itu. Tidak ada jendela. Hanya lampu putih yang berdengung pelan, serupa dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar diam.
Di sanalah Lenya kerap bersembunyi dari dirinya sendiri. Dari luar, ia tampak seperti patung porselen yang dirawat dengan sangat baik; rambut pixie hitam kecoklatannya tertata rapi membingkai wajahnya, dan sepasang matanya selalu siap memancarkan binar yang menyenangkan. Ia menguasai seni kepura-puraan dengan sangat anggun, mengenakan senyum ramah di bibirnya seolah itu adalah pakaian wajib sehari-hari—senyum milik manusia yang mengutuk dirinya sendiri untuk selalu "baik-baik saja". Namun di tempat seasing ini, seni itu runtuh. Di balik tulang rusuknya, ada debar yang tak sanggup ia beri nama, sebuah ingatan purba yang berbisik bahwa ini bukan pertama kalinya ia tersesat di labirin batinnya sendiri.
Lorong itu panjang dan sempit, dengan dinding abu-abu pucat yang terlalu bersih untuk terasa nyata. Garis-garis tipis membentang di lantai, membe...