Disukai
0
Dilihat
53
PATTERNS
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tidak ada jam di lorong itu. Tidak ada jendela. Hanya lampu putih yang berdengung pelan, serupa dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar diam.

Di sanalah Lenya kerap bersembunyi dari dirinya sendiri. Dari luar, ia tampak seperti patung porselen yang dirawat dengan sangat baik; rambut pixie hitam kecoklatannya tertata rapi membingkai wajahnya, dan sepasang matanya selalu siap memancarkan binar yang menyenangkan. Ia menguasai seni kepura-puraan dengan sangat anggun, mengenakan senyum ramah di bibirnya seolah itu adalah pakaian wajib sehari-hari—senyum milik manusia yang mengutuk dirinya sendiri untuk selalu "baik-baik saja". Namun di tempat seasing ini, seni itu runtuh. Di balik tulang rusuknya, ada debar yang tak sanggup ia beri nama, sebuah ingatan purba yang berbisik bahwa ini bukan pertama kalinya ia tersesat di labirin batinnya sendiri.

Lorong itu panjang dan sempit, dengan dinding abu-abu pucat yang terlalu bersih untuk terasa nyata. Garis-garis tipis membentang di lantai, membentuk pola berulang—lurus, belok, lurus, belok—seperti labirin yang sengaja dirancang agar tak pernah berujung.

Di ujung lorong, seorang gadis duduk di lantai. Rambut hitam legamnya dikuncir kuda rendah, jatuh lurus menyentuh punggung. Parasnya lembut, hampir rapuh, tapi sorot matanya dingin dan jujur—tatapan seseorang yang sudah terlalu sering melihat kebenaran tanpa tameng. 

Lenya mengenalnya. Ia menghela napas kecil, lalu melangkah mendekat. “Hai,” kata Lenya, mencoba menyisipkan nada kasual yang biasa ia gunakan di dunia luar, seolah kata sederhana itu sanggup menjadi mantra pelindung dari sunyinya lorong ini.

“Tumben, tidak seperti biasanya, Len,” gumam gadis yang duduk di lantai itu. Wajahnya masih lurus menatap kekosongan di depannya.

Ada beberapa detik jeda yang senyap, sebelum akhirnya ia memutar kepala perlahan. Tatapannya kosong. “Sudahlah, lupakan. Setidaknya kamu datang lebih awal kali ini.” Nada suaranya datar. Tidak menuduh, namun juga tidak menaruh harap.

Lenya berjongkok di hadapannya. Dari jarak dekat, Idila terlihat lebih muda dari yang Lenya ingat—atau mungkin, memang Lenya yang kian hari kian terkikis lelah. 

“Aku bawa kabar baik, Idila. Kali ini benar-benar beda,” kata Lenya menggebu-gebu. Ia memamerkan deretan gigi kecilnya, membentuk sebuah senyuman khas—sebatang gummy smile yang dipasang terlalu lebar, hingga gusi atasnya terekspos. “Aku sudah menemukan caranya. Kita bisa keluar, Idila.”

Idila menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—sejenis senyum yang lebih mirip dengan helaan napas pasrah. “Kamu selalu bilang begitu, Lenya.”

Lenya tidak tersinggung. Ia sudah kebal. Justru keraguan Idila memberinya bahan bakar untuk tetap tegak. Selama Idila belum percaya, artinya Lenya masih punya alasan untuk menjadi pahlawan.

Mereka mulai berjalan menyusuri lorong. Setiap langkah terasa ringan, namun mengambang. Lenya bicara sepanjang jalan tentang rencana, tentang kemungkinan, dan tentang janji bahwa hidup akan lebih baik setelah mereka keluar dari sana. Idila menyimak, selalu menyimak, tapi langkahnya tak pernah benar-benar selaras.

“Kenapa kamu selalu duduk di lantai waktu aku datang?” tanya Lenya memecah kesunyian. “Karena berdiri membuatku berharap,” jawab Idila singkat. “Dan bagiku, harapan itu terlalu mahal harganya.”

Lenya tertawa kecil, menganggapnya sebagai candaan gelap. “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Idila.” Langkah Idila terhenti. “Bukan, Lenya. Kamu yang terlalu lembut dalam membohongi dirimu sendiri.” 

Mereka sampai di sebuah belokan yang buntu pada sebuah pintu hitam pekat. Pintu itu seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Tanpa gagang, tanpa tanda. Hanya ada satu garis tipis di tengahnya, serupa bekas jahitan yang rapi pada kulit.

Dada Lenya berdebar. “Ini dia,” katanya yakin. “Aku bisa merasakannya.” Idila berdiri beberapa langkah di belakang, mematung. “Setiap pintu selalu terlihat meyakinkan bagi orang yang putus asa.”

Lenya tidak memperdulikan perkataan Idila. Atensinya terkunci rapat, sepenuhnya fokus pada permukaan pintu hitam di hadapannya. Perlahan, tangannya menjulur, mendekati badan pintu yang dingin. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan itu, pintu terbuka tanpa suara. Di baliknya, terbentang ruang luas yang seolah dijahit dari potongan-potongan mimpi terbaik Lenya. Cahaya mengalir hangat, menyentuh kulitnya seperti pelukan yang sudah lama ia rindukan. 

Udara di sini tidak lagi berdengung, ia berbisik lewat semilir angin yang membawa aroma tanah basah dan bunga yang baru mekar. "Lihat?" Lenya menoleh, matanya berkaca-kaca oleh binar kemenangan. "Aku janji, kan? Kali ini aku tidak salah pilih pintu."

Idila melangkah masuk dengan ragu, jarinya menyentuh bangku kayu seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. Untuk beberapa menit yang terasa seperti selamanya, mereka benar-benar istirahat. Lenya menceritakan detail masa depan yang ia susun—tentang kopi di pagi hari tanpa rasa cemas, tentang tidur tanpa perlu memikirkan lorong. Ia bicara begitu cepat, seolah-olah jika ia berhenti bicara, ruangan itu akan menyadari bahwa ia tidak seharusnya ada di sana.

Lenya sedang tertawa lepas—sebuah tawa langka yang tidak menyisakan beban di pundaknya—ketika mata Idila menangkap sesuatu yang ganjil. Di atas hamparan rumput hijau yang baru saja dipuji Lenya, sebaris warna hitam pekat mendadak muncul. Garis itu tipis, namun memotong tanah dengan kejam. Ia lurus, lalu membelok tajam. Sempurna, kaku, dan dingin. Pola lorong itu telah merembes masuk.

"Tidak," bisik Lenya, tawanya mati seketika seperti lilin yang ditiup paksa. Wajahnya pias. Ia buru-buru berlutut, menangkupkan kedua telapak tangannya di atas garis hitam itu, mencoba menyembunyikannya dari pandangan seolah-olah jika ia tidak melihatnya, maka hal itu tidak nyata. "Tidak sekarang. Tolong, jangan sekarang."

"Lenya, lihat ke atas," suara Idila terdengar hampa, bergaung tipis. 

Langit yang tadinya memendarkan warna pucat yang hangat mulai retak. Suara gemeretak keras mengguncang udara. Potongan-potongan awan palsu berjatuhan seperti serpihan porselen, membentur tanah dan hancur menjadi debu, memperlihatkan langit-langit beton abu-abu yang kaku di baliknya. Dalam hitungan detik, pohon-pohonan meranggas hebat, daun-daun hijaunya mengering dan luruh sebelum sempat menyentuh bumi, menyisakan tiang-tiang kayu mati yang mencuat seperti jemari monster yang kelaparan.

"Aku bisa memperbaikinya!" Lenya bangkit berdiri dengan nafas memburu. Panik mulai mengambil alih akal sehatnya. Ia melompat, mencoba menggapai udara kosong, meraba-raba dengan jemarinya yang gemetar seolah-olah ia punya jarum dan benang gaib yang bisa menjahit kembali langit yang runtuh.

 "Kita hanya perlu percaya lebih kuat, Idila! Ayo, bantu aku! Tutup matamu dan bayangkan sesuatu yang indah! Kumohon, bayangkan!"

Idila tetap duduk, tak bergeming bahkan ketika bangku kayu di bawahnya mulai mengelupas, kehilangan tekstur alaminya, dan berubah kembali menjadi lantai beton yang sedingin es.

"Kamu tidak bisa menjahit air, Lenya. Ini ilusi," kata Idila, menatap Lenya dengan kelembutan yang menyakitkan. "Kamu sedang mencoba membangun rumah di atas luka yang belum kering."

"DIAM!" teriak Lenya histeris. Suaranya melengking tinggi, menabrak batas ruang yang kian menyempit. "AKU MELAKUKAN INI UNTUKMU!" Suara itu memantul liar di dinding abu-abu yang berderit maju, merapat, dan siap mengurung mereka kembali.

Taman itu habis. Terkikis oleh realitas yang tidak bisa disogok dengan imajinasi. Mereka kembali ke sana—di lorong yang sempit, di bawah lampu putih yang berdengung lebih keras, seolah menertawakan kegagalan mereka.

Lenya berdiri mematung, nafasnya tersengal. Kemarahannya meluap, bukan pada lorong itu, tapi pada dirinya yang kembali gagal.

"Kenapa kamu tidak membantuku?" tuntut Lenya, suaranya parau. "Kenapa kamu selalu menyerah lebih dulu?" 

Idila bangkit berdiri perlahan, menatap Lenya dengan tatapan yang membuat Lenya merasa telanjang. "Karena aku lelah menjadi alasanmu untuk melarikan diri."

"Aku tidak lari! Aku mencoba menyelamatkan kita!"

"Tidak," Idila maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka. "Kamu mencoba menyelamatkan citra dirimu yang 'baik-baik saja'. Kamu benci melihatku karena aku adalah bukti bahwa kamu pernah terluka. Kamu ingin aku sembuh supaya kamu tidak perlu lagi merasa malu saat berkaca."

Kata-kata itu menghantam Lenya tepat di ulu hati. Ia ingin membantah, ingin mengeluarkan ribuan alasan logis, tapi lidahnya kelu. Seluruh usaha yang ia lakukan selama ini—pintu-pintu yang ia buka, taman-taman yang ia bangun—semuanya terasa seperti tumpukan kertas yang basah.

Lenya mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin. Ia merosot turun, lututnya lemas. Senyum yang biasanya terpasang sebagai tameng kini benar-benar hancur, meninggalkan wajah yang pucat dan mata yang redup. "Aku cuma ingin merasa berguna," bisik Lenya, akhirnya jujur. "Kalau aku tidak bisa membuatmu bahagia, lalu untuk apa aku diciptakan?"

Idila tidak menjawab dengan teori atau motivasi. Ia hanya ikut duduk di lantai. Di samping Lenya. Di lorong yang masih gelap dan sempit itu. "Untuk ada," jawab Idila pelan. "Cukup untuk ada, Lenya."

Hening jatuh di antara mereka. Lorong terasa lebih sempit, atau mungkin dinding-dinding itu akhirnya berhenti menyembunyikan batas yang sebenarnya. Kenangan muncul bukan sebagai peristiwa, melainkan sebagai sensasi; tentang hari-hari ketika dunia terasa terlalu terang dan suara terlalu ramai, memaksa senyumnya bekerja lebih keras daripada jiwanya. Masa-masa ketika ia terpaksa menjadi kuat karena memang tak ada pilihan lain.

“Aku pikir kalau aku menyelamatkanmu,” bisik Lenya, “aku akan sembuh.” Ia menoleh ke arah gadis di sampingnya. Kini, Lenya tak bisa lagi menyangkal kemiripan mereka—cara mereka bernapas, cara bahu mereka merosot saat lelah.

“Kamu tidak pernah bertanya apa yang aku butuhkan, Len,” kata Idila lembut, nyaris seperti bisikan angin. “Kamu hanya terus bertanya bagaimana caranya agar aku berhenti mengganggumu.”

Kalimat itu menghantam sisa-sisa pertahanan Lenya. Ia menutup matanya rapat-rapat, membiarkan air mata yang sejak tadi ia bendung luruh melewati pipinya, merusak topeng ketegaran yang selama bertahun-tahun ia rawat.

“Aku takut,” akui Lenya akhirnya. Suaranya mencicit kecil, seperti anak kecil yang tersesat di kegelapan. “Aku takut sekali, Idila. Aku takut kalau aku tidak terlihat bahagia, dunia akan meninggalkanku.”

Idila menatapnya tanpa secercah pun penghakiman. “Aku tahu.”

“Aku sering merasa kosong,” lanjut Lenya, dadanya kembang kempis, meremas kemeja rapinya yang kini mulai kusut. “Bahkan saat aku tertawa paling keras di luar sana, di dalam sini... rasanya sepi. Sangat sepi hingga membuatku sesak.”

“Aku tahu, Lenya. Aku merasakannya juga,” sahut Idila, meraih tangan Lenya yang gemetar dan menggenggamnya dingin.

“Jadi... selama ini kau adalah aku?” tanya Lenya lirih, menatap sepasang mata Idila yang kini memantulkan seluruh kesedihan yang selama ini ia salahkan. Idila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merapat, lalu perlahan menyandarkan bahunya pada bahu Lenya—menyatukan dua potongan jiwa yang sempat saling mengutuk.

“Aku tidak butuh kamu memperbaiki aku,” kata Idila pelan, membiarkan kepalanya bersandar nyaman. “Aku tidak butuh taman palsu atau pintu-pintu ajaib itu. Aku hanya butuh kamu mengakui bahwa aku ada. Bahwa rasa sakit ini nyata, dan kamu tidak perlu malu memilikinya.”

Lenya menarik napas dalam-dalam, merasakan udara lorong yang kini terasa lebih lega di paru-parunya. Tidak ada pintu rahasia yang terbuka. Tidak ada janji muluk untuk segera keluar. Hanya ada keberadaan yang telanjang, jujur, dan utuh.

“Aku... aku tidak tahu caranya,” akui Lenya jujur, mengakui ketidakberdayaannya untuk pertama kali.

“Kamu tidak harus tahu sekarang,” jawab Idila, jemarinya mengusap punggung tangan Lenya. “Cukup tinggallah bersamaku di sini, Lenya. Jangan lari lagi.”

Mereka kembali berjalan. Lorong tetap memanjang, pola berulang itu tetap membentang kaku di lantai. Namun, langkah Lenya telah berubah. Ia tidak lagi menghentakkan kakinya untuk menantang ruang itu, tidak lagi melangkah terburu-buru untuk berlari darinya.

“Apa kamu masih ingin keluar?” tanya Idila setelah lama mereka berjalan dalam keheningan yang damai.

Lenya berpikir sejenak, membiarkan senyumnya terukir tipis—kali ini tanpa beban, tanpa gummy smile yang dipaksakan. “Aku ingin. Tapi aku tidak ingin membencimu lagi hanya karena kita belum sampai di sana. Bertahan dan merangkulmu pun... adalah sebuah proses.”

Mereka melewati deretan dinding yang penuh goresan dalam—bekas kuku dan benturan dari upaya-upaya masa lalu Lenya yang hancur. “Menurutmu, itu semua kegagalan?” tanya Lenya, menatap goresan-goresan itu tanpa rasa sesak yang dulu selalu muncul. “Bukan,” jawab Idila, menggandeng lengan Lenya lebih erat. “Itu bukti nyata bahwa kamu adalah petarung. Kamu pernah mencoba sejauh itu untuk bertahan hidup.”

Kini, Lenya belajar mengenali tanda-tandanya. Setiap kali lampu putih di lorong mulai berdengung lebih keras, ia tidak lagi menutup telinga dengan panik. Ia memilih berhenti, duduk bersandar pada dinding abu-abu, dan mengenali peta batinnya sendiri. Ada titik di mana ia merasa harus menyenangkan semua orang hingga kehilangan diri sendiri—sebuah sudut berbahaya tempat ia harus mengurangi kecepatan. Ada pula sudut keheningan tempat Idila biasa merenung. 

Dulu, Lenya takut setengah mati pada kesunyian itu. Namun sekarang, ia tahu bahwa di dalam keheningan itulah semua jawaban yang ia cari justru tersimpan. Di sana, tidak ada tuntutan untuk menjadi kuat.

“Kau tahu,” kata Lenya suatu sore, saat mereka berjalan beriringan. “Aku dulu sangat membencimu karena kau tidak pernah mau lari bersamaku.”

Idila menoleh, rambut hitamnya bergoyang pelan. “Kalau aku ikut lari, siapa yang akan memberitahumu saat kau sudah kehilangan arah?”

Lenya tersenyum, dan kali ini senyum itu tidak bekerja lebih keras dari jiwanya. Senyum itu ringan, seadanya, dan jujur. “Benar. Aku akan terus berlari sampai aku lenyap.”

Suatu kali, Lenya menemukan sebuah pintu lain. Pintu itu tidak hitam pekat seperti sebelumnya. Tidak megah, tidak juga menjanjikan keajaiban. Ia hanya sebuah pintu biasa yang setengah terbuka, seolah-olah ia sendiri tidak yakin ingin ditemukan. Lenya berhenti di depannya. Refleks lamanya sempat bergolak—keinginan untuk menyusun rencana matang dan memastikan bahwa di baliknya adalah keselamatan. Namun, ia menahan diri. Ia menoleh ke belakang.

Idila berdiri beberapa langkah di belakang dengan ekspresi tenang. Ia tidak mendorong, tidak pula menahan. Ia hanya menunggu. “Kamu mau mencobanya?” tanya Idila pelan.

Lenya menatap celah pintu itu cukup lama. Jantungnya berdebar, tapi bukan karena terobsesi untuk keluar. Ia berdebar karena sadar bahwa kini ia memiliki pilihan. 

“Tidak sekarang,” jawab Lenya akhirnya.

Idila mengangguk, menerima keputusan itu. Mereka tidak berbalik arah, melainkan memilih untuk melangkah melampauinya. Untuk pertama kalinya, Lenya tidak merasa kalah hanya karena memilih tinggal sedikit lebih lama. Lorong abu-abu ini mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang dari kepalanya. Namun, tempat ini bukan lagi sebuah labirin yang menyesatkan. Lorong ini adalah sebuah peta. Dan Lenya mulai belajar cara membacanya.

Bagi Lenya, pulang bukan lagi berarti menemukan pintu keluar yang megah atau melintasi ambang batas menuju dunia yang sempurna. Pulang adalah tindakan sederhana untuk berhenti berperang dengan bayangannya sendiri. Idila bukanlah musuh yang harus dikalahkan, melainkan jangkar yang menjaganya agar tetap jujur di tengah badai ekspektasi dunia.

Di atas mereka, lampu putih itu masih berdengung, namun suaranya kini terdengar seperti detak jantung yang stabil. Langkah kaki Lenya tidak lagi terburu-buru. Ia berjalan dengan ritme yang tenang, membiarkan jarinya menyentuh retakan dinding abu-abu—retakan yang kini ia pandang sebagai saksi bisu dari perjuangannya untuk bertahan.

Peta itu kini telah lengkap di tangannya. Garis-garisnya bukan lagi sekadar instruksi tentang ke mana harus pergi, melainkan pengakuan tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Di tempat di mana tidak ada lagi yang perlu diperbaiki—hanya perlu dicintai.

"Terima kasih karena sudah bertahan sampai detik ini," bisik Lenya, sebelum akhirnya menarik Idila ke dalam sebuah pelukan erat. Pelukan yang tidak lagi berusaha menyembuhkan, melainkan merayakan keberadaan.

-THE END-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)