Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
5
KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

FLASH FICTION

KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN

EDISODE V

─────────────────   

REF-INDEX: 011-120-221-331-415

═════════════════

Fajar datang tanpa permisi.

Cahaya abu-abu merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang lapuk, menyentuh lantai tanah yang lembab, menyentuh karung-karung kosong yang perutnya menganga, menyentuh bayangan panjang yang tergantung di dinding lumbung.

Bayangan itu bergoyang pelan. Hanya sedikit. Hanya sekadar ayunan yang hampir tidak terlihat, seperti gerakan terakhir dari sesuatu yang baru saja berhenti bernapas. Di dinding kayu, bayangan itu menari dengan irama yang sama perlahan, tanpa tujuan, seperti daun yang jatuh dari pohon yang telah mati.

Di bawah bayangan itu, bangku kayu tergeletak miring di lantai. Kayunya masih berderit pelan, seperti masih mengingat berat tubuh yang baru saja meninggalkannya.

Lumbung itu sunyi.

Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada dengung ponsel. Tidak ada tetesan air dari atap bocor. Hanya angin pagi yang berhembus melalui celah-celah dinding, membawa bau tanah basah dan rumput yang baru dipotong. Hanya keheningan yang padat, yang berat, seperti sesuatu yang telah berhenti bernapas.

 

Pak Rahmat datang meminjam garam.

Ia melihat pintu lumbung terbuka. Ia melihat cahaya pagi yang masuk melalui celah-celah dinding. Ia mendengar keheningan yang aneh bukan keheningan biasa, tapi keheningan yang seperti benda padat, yang bisa disentuh, yang bisa dirasakan di udara.

"Pak Darman?" panggilnya, suaranya menggema di antara karung-karung kosong. "Pak?"

Tidak ada jawaban.

Pak Rahmat melangkah masuk. Kakinya menginjak lantai tanah yang lembab, dan baunya bau gabah tengik bercampur lumpur menyengat hidungnya. Di sudut, ia melihat bangku yang roboh, dan di atasnya, bayangan panjang yang bergoyang-goyang di dinding kayu.

Ia mengangkat kepalanya.

Dan ia berteriak.

 

Yati datang berlari.

Kaki telanjangnya menciprat lumpur, sarungnya basah oleh genangan air, dan rambutnya yang dulu selalu ia sisir rapi kini kusut dan kacau. Ia berhenti di ambang pintu lumbung. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, di batas antara cahaya pagi dan kegelapan di dalam.

Ia menatap ke dalam. Ia melihat bangku yang roboh. Ia melihat kabel data putih yang menggantung dari balok atap. Ia melihat bayangan di dinding bayangan yang tidak lagi bergerak, yang telah berhenti bergoyang, yang telah menjadi diam.

Dan di antara semua itu, ia melihat tubuh suaminya. Tubuh yang menggantung. Tubuh yang tenang. Tubuh yang anehnya terlihat seperti sedang tidur.

Yati tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, matanya kosong, pupilnya mengecil, tidak ada pantulan cahaya dari tubuh suaminya.

Ia melihat Darman. Tapi ia tidak melihat suaminya. Suaminya telah mati lama sebelum malam ini. Mati ketika ia mulai menatap ponsel lebih lama daripada menatap anak-anaknya. Mati ketika ia mulai memilih dadu emas daripada keluarganya. Mati ketika ia pulang larut malam dan tidak bisa lagi melihat matanya.

Yang tergantung di lumbung ini hanyalah mayat. Mayat yang telah lama ditinggalkan oleh jiwanya.

Di dalam kepalanya, Yati mendengar suara-suara dari masa lalu. Ia mendengar suara Darman yang tertawa di ladang. Ia mendengar suara Darman yang memanggil anak-anaknya. Ia mendengar suara Darman yang berbisik di malam pernikahan mereka: "Aku akan menjagamu selamanya."

Tapi suara-suara itu semakin jauh. Semakin redup. Seperti siaran radio yang kehilangan sinyal.

Yati tidak menangis. Kematian emosinya telah terjadi lebih dulu jauh lebih dulu pada malam-malam ketika ia duduk sendirian di meja dapur, menunggu suaminya pulang, dan menyadari bahwa suaminya tidak akan pernah benar-benar pulang.

Sekarang, yang tersisa hanyalah formalitas. Kematian fisik yang hanya mengikuti kematian emosional yang telah terjadi berbulan-bulan lalu.

 

Anak-anaknya datang.

Rudi memeluk ibunya, tangannya yang masih muda menggenggam lengan Yati dengan erat. Sari menangis, air mata mengalir deras di pipinya yang masih polos. Budi Budi yang berusia tujuh tahun, Budi yang belum mengerti apa pun berlari ke lumbung.

Ia melihat ayahnya. Ia melihat kabel data yang melilit leher ayahnya. Ia melihat wajah ayahnya yang tenang, seperti sedang tidur.

"Bapak," bisiknya. "Bapak bangun, Pak."

Ia mengguncang tangan ayahnya. Tangan yang sudah dingin. Tangan yang sudah kaku. Tangan yang tidak akan pernah memeluknya lagi. Ia mengguncangnya pelan, seperti biasa, ketika ia membangunkan ayahnya di pagi hari untuk pergi ke sawah. Tapi kali ini, ayahnya tidak bangun.

"Bapak bangun!" katanya lagi, suaranya lebih keras. "Janji, Pak! Bapak janji!"

Tidak ada yang menjawab.

 

Keheningan turun seperti kain kafan.

Di lumbung itu, di antara karung-karung kosong dan kabel data yang masih menggantung, tidak ada suara. Tidak ada tangisan. Tidak ada teriakan. Hanya angin pagi yang berhembus, dan burung-burung pipit yang mulai berkicau di ladang, seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Yati berdiri di ambang pintu. Matanya masih kosong. Pupilnya masih mengecil. Ia masih tidak menangis.

Dan di dalam lumbung, bayangan di dinding kayu telah berhenti bergoyang. Ia telah menjadi diam. Ia telah menjadi bagian dari kegelapan.

Bersambung.....

Episode 5 selesai.

─────────────────  

Mari kita lanjutkan ke :

Episode 6 "Dengung yang tidak pernah Tidur".



═════════════════

RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221

─────────────────  

TOURTALESLIGHTS

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK

─────────────────  

BERKAS: 331 - FILE: 415 - EPISODE V

KLASIFIKASI: BUKU I KMP -

NEGERI SONOHARU

═════════════════ 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi