Setelah berhenti bermain instagram, aku menaruh ponsel di sisi bantal, lalu menarik selimut untuk persiapan tidur.
“Katanya mau nikah di umur dua puluh tiga tahun. Kok, sampai sekarang nggak kejadian?”
Mulut siapa itu?!
Aku yang nyaris terlelap ini spontan membuka mata lebar. Sumber suara itu sudah mengambil tempat di sampingku, berbaring menghadapku.
Ah, dia lagi.
Tatapan nyalak kuberikan padanya. Tidak ada perasaan takut, gadis remaja itu malah tersenyum. “Katamu dulu paling lambat umur dua puluh lima, lho,” lanjutnya.
Biadab betul! Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Kenapa dia suka muncul di waktu aku ingin tidur, sih? Kenapa?!
“Bisa diam, nggak?” pintaku.
Dia menggeleng tegas. “Jawab dulu, nanti kamu baru bisa tidur.”
“Tapi aku lagi ngantuk, lho!”
“No, no, no….” Telunjuk tangannya bergerak tanda tidak setuju.
Sialan!
Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, jika tidak dipaksa pergi, gadis ini tidak akan menghilang. Karena kesabaranku menipis, aku mencekik lehernya sekuat tenaga. Daripada mengerang kesakitan, dia malah tertawa. Apa aku kelihatan lucu di matanya?
Melihatnya semakin bahagia, aku jadi merasa kalah.
Aku membuang napas berat, terpaksa menjawab pertanyaannya. “Aku belum siap.” Genggaman tanganku di lehernya merenggang.
“Kenapa?” tanyanya dengan wajah menyendu. Aku bisa melihat kulit pipinya yang masih mulus seperti belum mengenal berbagai macam produk kecantikan.
“Banyak hal yang harus dipikirkan, tahu. Ini bukan soal dana pernikahan, tapi lebih pada substansi pernikahannya. Cinta doang nggak cukup. Kehidupan era dewasa itu memang banyak yang nggak sesuai ekspektasi.” Aku menjeda saat melihat keningnya berkerut. “Ngerti, nggak?”
“Makanya kalo ngomong itu dipikir dulu, jangan suka janji-janji.”
“LAH, KITA KAN ORANG YANG SAMA, KOCAK! MAKANYA KALO MASIH SEKOLAH ITU MULUTNYA JANGAN SUKA ASAL BUNYI!!”
Gadis itu tertawa, lalu sepersekian detik sosoknya memudar bagai uap air yang keluar dari ketel panas.
Melihat dia benar-benar pergi, aku meremas rambutku dan berdecak kesal. Sudah pukul satu lewat sepuluh. Aku menarik selimut hingga menutupi dagu, mencoba kembali terpejam, tapi kantukku sudah benar-benar hilang.
Ah, dia besok pasti bakal datang lagi.[]
— Deharuka 2026 —