Disukai
0
Dilihat
118
The Last Place We Belong
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

(Trigger Warning: Cerpen ini mungkin mengandung konten yang sensitif bagi sebagian pembaca, mulai dari suicidal thought, sexual violence, dan human trafficking. Dimohon dengan kesadaran penuh untuk bijak dalam membaca dan memilih bacaan.)

***

SABTU MALAM sudah jadi rutinitas bagiku untuk menyendiri di belakang rusun tempatku tinggal. Banyak uang maupun tanpa penghasilan, tempat sunyi itu cocok jadi pelarian. Sambil mengeluarkan setengah batang rokok dari saku jaket, aku berjalan menghampiri seorang yang tengah duduk di bangku kayu, di bawah pohon flambyoan yang daunnya mulai berguguran.

Tanganku menepuk pundaknya pelan, “Hai, Jian.”

Kulihat dia hanya mengangguk tak bersemangat dengan senyuman tipis.

Mungkin suasana hatinya kurang baik.

Aku lantas menggeser batu besar di dekat bangku kayu sebagai tempat duduk daripada bersebelahan dengannya. Kini kami duduk berhadapan di tepi anak sungai yang aliran airnya berkilau diterangi sinar rembulan. Warna airnya sedikit pekat dengan bau amis yang menyengat.

Aku merapatkan tudung jaket untuk menutupi kepala. Udara dingin malam ini berhasil membuat daun telingaku jadi kaku. Langit nampak kelam, hanya suara jangkrik dan angin yang mengisi kesunyian. Dengan cuaca sedamai ini, harusnya aku bisa dengan mudah memejamkan mata dan beristirahat sejenak.

Hanya saja, perutku tidak bisa diajak kompromi. Tanpa ba-bi-bu, kusulut rokok setengah batang dalam genggaman untuk mengganjal rasa lapar.

Jian masih diam di tempatnya, nampak enggan memulai percakapan. Aku pun demikian. Hisapan terakhir rokok di mulutku mengeluarkan asap yang mengarah pada wajahnya.

Salahkan angin, bukan aku!

Aku terkikik saat laki-laki itu mengalihkan pandangan karena tidak tahan dengan bau asap yang menyengat.

“Sialan, Ra!” Dia mengumpat sembari menggeser badan menjauhiku karena ludahku jatuh tepat di dekat kakinya.

Sungguh aku tidak sengaja. Ada sisa bulir tembakau yang menempel pada langit mulutku. Dia tidak tahu saja, harumnya tembakau tidak serta merta membuatku ingin menelanya juga. Kalau saja hari ini setoranku sudah cair, tidak bakalan aku mengisi perut dengan asap rokok saat jam makan malam sudah terlewat.

Aku melihat Jian kembali melamun. Dia memang sering seperti itu. Setiap malam habis bekerja mengantar barang, dia pasti akan datang ke sini — entah untuk beristirahat atau melamun.

Mataku tidak lepas memperhatikan wajahnya yang terlihat kusut. Kutemukan tanda lebam di ujung kiri kelopak mata, pelipis, serta ujung bibir tebalnya yang membuat hatiku terhenyak.

“Wajahmu makin tampan saja.” Kucondongkan tubuh lebih dekat untuk mengecek keparahan lukanya. Sebelum tanganku menjangkau wajahnya, Jian menepis tanganku.

Tanpa suara, hanya gelengan kepala, Jian memilih merapatkan tudung jaketnya dan menghindari tatapanku.

Apa dia mencoba kabur lagi? Atau ada rekan yang menjahilinya?

Aku tersenyum masam. “Apalagi ulahmu hari ini?” tanyaku. Aku hafal betul, dia pasti sudah membuat pembina marah sehingga mendapat pukulan sebanyak itu.

Selama mengenalnya, aku jadi tahu kelemahan laki-laki dengan tinggi badan tanggung ini. Jian tergolong manusia yang naif, tidak tegaan — bahkan dia kurang pintar dalam memahami karakter orang. Kebaikannya yang mudah menolong orang sering dimanfaatkan oleh manusia-manusia berakal dangkal.

Mengingatnya kembali, aku jadi kasihan. Jian hanya kurang beruntung hingga berada di lingkaran kebejatan kami.

Pandanganku mengawang ke arah deretan bintang yang menawan di langit malam.

“Jian, andai aku wanita konglomerat yang nggak bisa melahirkan anak. Mungkin saat ini aku sudah mengadopsi dirimu. Hidupmu pasti terjamin sebagai pewaris kekayaanku.” Ada setitik rasa bahagia bila angan itu jadi kenyataan.

Jian menoleh cepat, mendengus. “Habis minum, ya?” Dia pikir ucapanku lelucon.

Aku menggeleng penuh keyakinan. “Aku ini bicara serius! Kamu itu terlalu baik jadi orang. Saat kedatanganmu pertama kali saja … aku langsung tahu kamu pasti telah tertipu komplotan kelompok ini.”

Ekspersi Jian kembali murung. Sedetik kemudian, dia menghindari tatapanku. Lagi dan lagi.

Maaf, Jian. Tapi, aku ingin membahasnya sekali saja.

Bisa kudengar embusan napas beratnya. “Itu sudah sangat lama, Ra. Lagipula … semua orang di tempat ini sudah nggak ada bedanya sekarang,” lirihnya seraya menatapku dalam.

“Tetap berbeda. Sejak awal aku lahir dari keluarga yang minus moral,” sanggahku cepat. Aku jelas keberatan. Sangat menyakitkan mengingat anak sepolos Jian harus bertahan hidup dengan cara seperti ini.

Sudah dua tahun lamanya kami menjadi teman. Disatukan oleh nasib sial yang tidak kami inginkan. Temanku hanya Jian? Tentu saja. Aku masih bisa melihat Jian sebagai ‘manusia’ di tengah para penghuni bangsat rusun kebangsaan kami. Dia masih bisa diajak bicara dan berpikir. Yang lainnya sudah tidak ada harapan, otak mereka kopong tergerus obat-obatan.

Tatapan intens Jian terasa menusukku. Sepertinya jawabanku barusan sudah mengganggu pikirannya. Dengan jelas, aku bisa merasakan manik coklat laki-laki itu mulai meniti rambut cepak warna hitam kecoklatan milikku. Lalu pandangannya turun ke arah jaket tudung navi yang nampak kusut dan punya beberapa lubang. Pun aku mengikuti kemana akhirnya mata itu tertuju; celana jeans panjang lusuh dan sepatu converse abu-abu yang kupakai.

Ya, tahu. Aku terlihat sangat norak dengan gaya begini. Penampilanku tidak seperti wanita pada umumnya. Karena memang jalan hidupku tidak umum didapatkan oleh wanita di luar sana.

Jian mengerutkan kening, bibirnya terbuka sedikit. Ada tatapan bertanya dari mata kecilnya. “Aku tahu selama ini kamu memilih diam, belum ingin menceritakan yang sebenarnya kenapa kamu ada di tempat ini. Jika nggak keberatan, aku mau mendengarkan, kok. Aku bukan tipe yang suka menghakimi orang,” tawarnya, penuh hati-hati.

Ya, aku tahu. Tapi, harushkah?

Entah mengapa, aku merasa percakapan ini akan menguras energi.

“Jian, kuberi tahu, ya. Yang kamu lihat ini adalah gaya terbaik versiku.” Aku membentangkan tangan, setengah berputar ke kiri dan ke kanan agar dia bisa melihat gaya pakaianku dengan jelas. Senyum tidak lupa kusematkan karena kupikir akan lebih sulit jika membawakannya dalam mode serius.

“Jika saja aku tetap terlihat normal dan tinggal dengan orang tuaku, mungkin di tahun ini … aku sudah punya tiga anak dari pelanggan mereka,” ungkapku.

Mata Jian terbelalak, barangkali apa yang aku ucapkan ini cukup gila baginya. Lipatan kerut di keningnya semakin terlihat banyak. Dia terlihat lucu sekali.

Ada ketakutan samar yang muncul di balik wajahnya. “Tunggu dulu. Maksudmu … pro-prostitusi?” tebak Jian ragu.

Ada gelenyar aneh yang menghampiri dadaku. Kata itu seperti memanggil kembali ingatan buruk yang ingin kusimpan dalam-dalam. Aku menganggukan kepala, tebakannya memang benar.

Memilih hidup di kampung prostitusi itu bagaikan hidup dalam papan permainan ular tangga. Aku tidak tahu besarnya angka yang akan muncul pada dadu yang kugulir. Aku tidak tahu kapan nasib buruk akan memakanku hidup-hidup, lantas membuatku terperosok dan merana sepanjang usia.

Aku tidak mau hidup seperti itu!

“Aku datang ke kota ini ketika berusia lima belas tahun, Jian. Masih sangat muda, kan? Masih buta keadaan dunia luar. Saat itu aku hanya ingin lari yang jauh dari rumah, lalu bebas melakukan apapun yang aku suka.” Aku mulai bercerita tentang nasibku yang ditipu oleh oknum keparat — perempuan paruh baya yang aku percayai untuk membawaku bekerja di luar negeri dengan gaji yang layak.

Obsesiku yang ingin kabur dari rumah membutakanku. Tanpa mencari tahu latar belakang orang itu, aku dengan bodohnya menyerahkan diri — rela dijual menjadi budak pada organisasi judi dan bandar narkoba.

“Saat ini berapa usiamu?” tanyaku sembari menepuk pundaknya pelan.

Jian menjawab, “Dua puluh.”

“Aku dua puluh dua. Berarti aku lebih muda darimu saat dibawa oleh pembina ke tempat memuakkan ini.”

Kami terdiam, sama-sama merenungi apa yang terjadi. Aku bukannya tidak sakit membahas tentang masa lalu, hanya coba membawa dialog tidak waras ini terlihat lebih normal saja.

“Mungkin …. Entahlah, aku nggak tahu.” Aku menggaruk kening, menelan getir. “Tapi bisa jadi setelah aku melarikan diri, adik pertamaku yang menggantikanku menikah dengan pelanggan setia ayah. Kamu tahu menikah dengan siapa? Menikah dengan kakek-kakek hidung belang … ewwhh, memikirkannya saja aku jijik!” Aku bergidik ngeri.

“Demi uang, anak saja bisa dijadikan tumbal. Orang tuaku memang begitu. Serakah,” cibirku.

Aku kembali duduk di atas batu, lantas tenggelam dalam ingatan masa lalu— masa dimana aku masih hidup di desa bersama ayah yang menyebalkan itu.

“Awalnya aku benci ayah, lalu aku membenci makhluk berwujud lelaki. Karena muak sekali, aku pernah bersumpah nggak akan menikah sampai aku mati.” Dengan memeluk lutut, untuk pertama kalinya, aku berani memuntahkan racunku.

Jian bungkam. Aku tahu dia pasti bingung harus merespon apa.

Aku melanjutkan dengan napas yang semakin sesak. “Kamu bisa melihat usahaku sejauh ini dari apa yang kupakai, Jian.” Tanganku meremas jaket lusuhku. “Tapi orang-orang sialan di sekitarku malah berpikir aku perempuan yang menyimpang. Apa benci laki-laki sama dengan doyan perempuan?”

“Saat jadi perempuan, aku nggak bisa melawan. Katanya, kodratku hanya untuk memuaskan. Terus terang saja aku nggak sepaham. Aku sudah terjebak sejauh ini, jadi kenapa nggak sekalian saja menyerupai kaum-mu?” keluhku.

Benar. Aku membaur dengan kalian hanya untuk bertahan hidup dan memperjuangkan sisa-sisa harapanku. Seperti konsep hanya laki-laki yang bisa melawan laki-laki.

Jian menatapku gusar. “Jadi kamu benci aku?” simpulnya.

“Nggak juga.”

“Lalu?”

“Kamu pengecualian.”

Jian bernapas lega setelah tahu dia bukan dari bagian kebencianku. “Nggak semua laki-laki itu binatang, Ra,” protesnya.

“Tapi mayoritas mereka yang kukenal kelakuannya seperti babi.”

“Sialan!” Jian terbahak. “Omonganmu juga nggak sepenuhnya salah.” Sebagai laki-laki, Jian juga berpikir demikian.

Setelah belajar mengenal karakter orang, aku menyimpulkan bahwa hidupku banyak dikelilingi oleh laki-laki yang tidak tahu diri. Jadi, aku tidak pernah melihat perilaku-perilaku baik seperti Jian. Meskipun begitu, dari hati yang terdalam, perasaan benciku pada laki-laki tidak bisa hilang.

Jian mengernyitkan dahi, lalu seperti menemukan jawaban, dia mulai menyipitkan mata. “Oh … jadi itu alasanmu gemar memukul anak-anak di rusun?”

Aku mengangguk semangat. Kelompok kami mayoritas diisi oleh laki-laki. Jadi, aku hanya memanfaatkan keadaan untuk melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan di saat kondisi normal. Lebih tepatnya, saat menjadi perempuan.

“Aku tidak menyangka kamu datang dengan cara begini, Ra,” jujurnya dengan tatapan malang.

Setelah percakapan itu, kami kembali tak bersuara. Sesekali Jian menyengir. Barangkali dia terngiang dengan ocehanku yang sedikit tidak masuk di akal itu.

“Lara, apa kamu nggak lelah seperti ini terus?” Pertanyaan Jian akhirnya memecah kesunyian di antara kami.

Laki-laki itu sudah tahu bahwa aku banyak melakukan usaha untuk kabur dari organisasi gelap ini. Tapi sebanyak itu juga cara yang kupakai, usahaku tetap tidak membuahkan hasil. Hingga kegigihanku untuk melarikan diri melebur entah kemana.

“Sangat, Jian. Kamu?”

“Nggak ada yang nggak lelah hidup dalam penjara ketakutan setiap hari, Ra.”

Kepala Jian mendongak ke arah langit sambil menyandarkan punggungnya di pohon. Gugusan bintang nampak cantik, kontras sekali dengan kemalangan kami.

“Dosa dan kematian, keduanya mengerikan. Tapi jika bisa, aku ingin mati tanpa menanggung dosa sebesar ini,” lirihnya dengan raut sesal yang tercetak jelas di wajahnya.

Jian hanya ingin bertemu dengan orang tua kandungnya, sementara aku ingin kabur dari rumah agar terbebas dari jeratan bisnis kotor keluarga. Namun, mengapa Tuhan malah mengirimkan kami ke tempat yang sangat jauh? Jauh dari apa yang kami berdua harapkan.

“Aku penasaran, apa yang sudah aku janjikan pada Tuhan ketika memilih jadi manusia, dulu.”

“Jangan pernah menyalahkan Tuhan.”

“Nggak, mana ada aku menyalahkan, cuma bertanya saja. Kenapa nasib kita harus seburuk ini?”

“Setiap orang pasti memiliki masalah. Mungkin begini bentuk ujian yang harus kita hadapi.”

Aku menggeleng tidak percaya.

“Eh, nggak. Aku keberatan. Ujian hidup harusnya nggak semenyakitkan ini, Jian. Kamu mau bilang ujian macam ini harus kita terima sepanjang hidup kita? Gila saja! Aku tahu dunia memang nggak adil, tapi sekarang kita sudah terperangkap dalam lingkaran iblis.

Sejak awal kita hidup dengan orang-orang yang berdosa. Hingga orang saleh pun rasanya enggan menengok dan menolong kita. Bahkan mereka mungkin saja ragu kalau kita bisa bertobat,” jelasku panjang lebar.

Wajahku mendongak menatap Jian dan bertanya, “Apa kamu masih mau bertahan?” Lalu aku melempar asal sebatang ranting kurus ke arah sungai. “Tapi … sudah nggak ada jalan lagi untuk keluar dari sini,” lanjutku kesal.

Kecuali dalam keadaan mati.

Budak seperti kami tidak bisa melarikan diri dengan mudah. Setiap langkah kami akan selalu dipantau oleh pembina. Saat bertugas menjadi kurir, makan, mandi, bahkan untuk istirahat saja, semua barang di sekitarku seperti memiliki mata. Tiada hari tanpa gelisah.

Akses komunikasi kami dibatasi, tidak ada orang luar yang bisa kami tuju dan mintai tolong. Sudah lama juga aku tidak melihat rupa ponsel. Bahkan aku tidak tahu aktor dan aktris siapa yang sedang trending di zaman ini. Benar-benar memuakkan!

Hanya ada dua jalan yang bisa kami pilih. Jika ketahuan kabur, kami akan dikejar dan dihabisi oleh kelompok hingga mati — atau jika memilih bertahan, kami akan menanggung dosa seumur hidup sampai ajal menjemput.

Bagi kami, keduanya sama-sama mengerikan.

Jian membalas tatapanku penuh harap. “Ada, Ra. Pasti ada jalan,” lirihnya dengan anggukan.

***

Tidak hanya aku dan Jian saja yang menderita. Banyak dari kami yang datang penuh harapan hidup, tapi harapan itu luntur dihantam oleh realitas yang menyakitkan. Kami ditempatkan di satu tempat — sebuah rusun yang hanya diisi oleh imigran gelap sepertiku dan Jian. Banyak dari anggota yang berasal dari negara berbeda.

Awalnya aku mengira kami dikirim di sebuah kota terpencil di Negara Tiongkok, jika melihat dari struktur wajah dan logat bahasa penduduknya. Namun, setelah aku mengamati lebih jauh, kami ternyata menjadi pesuruh organisasi narkoba yang berbasis di Vietnam.

Sulit bagi kami untuk kabur begitu saja. Kendala bahasa dan pengetahuan medan menjadi kelemahan besar. Oleh karena itu, kebanyakan dari kami memilih tunduk kepada pembina agar tidak mengalami masalah seperti kelaparan dan penganiayaan.

Taktik mengendalikan budak dengan narkotika sudah menjadi hal yang tidak mengagetkan. Namun, aku sungguh miris melihat rekan seperjuangan dengan bodohnya menggantungkan hidup pada kokain dan mariyuana. Mereka jadi tidak bisa mengendalikan diri. Tentu itu akan semakin sulit membuat mereka menjauh dari tempat ini.

Jika mereka terpaksa, mengapa mereka menikmatinya? Tidak sedikit dari bagian kelompok kami yang sakau dan berujung tewas. Jika aku dan Jian bisa menolak, mengapa mereka tidak? Aku bertanya-tanya. Tapi semakin aku menginginkan jawaban, semakin banyak waktuku yang terbuang.

Setelah menjalankan tugas mengemas barang ke dalam box, aku berjalan menuju kamar. Saat melewati lorong, aku melihat seorang laki-laki dalam kondisi lemas — terlentang dengan jarum suntik yang masih menancap di lengannya.

Apa setiap hari harus seperti ini?

Badanku merespon, perutku terasa melilit dan mual. Dengan cepat, aku berlari ke arah jendela rusun, memuntahkan semua isi lambungku yang baru saja terisi makanan.

Bajingan! Sup ayam yang kumakan jadi sia-sia.

Terhitung satu bulan setelah obrolanku bersama Jian, hidup kami tidak lebih baik dari sebelumnya. Kacau balau. Aku tidak bisa melihat senyum hangatnya lagi. Makin sering kutemukan banyak luka lebam di pipinya yang makin tirus.

Aku mendengar langkah kaki yang kasar. Semakin lama dentuman sepatu itu semakin mendekat ke arahku berpijak.

“Jian?” seruku. Aku heran mengapa dia datang sepagi ini?

Dengan napas yang tersengal, dia berlari menghampiriku. Tatapannya menyalak, mirip anjing liar yang siap menggigit orang. Aku semakin bingung saat menyadari tangan Jian menenteng kresek bening berisi antiseptik dan kasa.

“Kenapa nggak cerita ke aku? Katanya kamu orang yang kuat? Kenapa nggak melawan mereka saja?!” teriaknya kesetanan hingga urat di pelipisnya nampak jelas.

Laki-laki itu mendorongku ke dinding, lalu memaksaku duduk. Aku sempat menangkis tangannya ketika dia berusaha membuka jaketku. Akan tetapi, saat ini, kekuatan Jian begitu besar. Sebelum aku memaki dan berteriak, dia dengan cekatan membuka botol cairan antiseptik dan menuangkannya ke kasa. Tangannya telaten menempelkan antiseptik pada bekas gigitan yang memerah di area kulit leher dan dadaku.

Katanya, dia marah mendengar kabar aku dilecehkan oleh segerombolan laki-laki yang sedang mabuk dan kecanduan.

Dia memukul dinding dengan keras. “Mereka bajingan sekali! Apa mereka nggak punya akal?”

Aku mematung. Tidak pernah aku melihatnya semarah ini. “Jumlah mereka ada banyak, aku kesulitan melawan. Berteriak saja nggak bisa,” timpalku seadanya. Tanganku mengepal untuk meredam gemetar yang mulai menjalar. Perasaan kecewa dan marah bergejolak kembali di dalam dada.

“Sudah, jangan diteruskan,” ringisku saat sentuhan kasa di kulitku menimbulkan ngilu.

“Katanya kamu kuat?!” sinisnya. Rahangnya kini menegang, tatapannya menuntut. Dia seperti tidak terima dengan kelemahanku yang satu ini.

“Dasar goblok! Aku ini masih perempuan! Tolong jangan jadi orang naif, Jian,” ketusku.

Jian termangu. Namun, kalimat kasarku tidak serta membuatnya berhenti mengobatiku. Aku menunduk dengan rasa bersalah.

Aku refleks memejamkan mata saat ingatan lidah-lidah penuh dosa itu menjilati leherku, telingaku, hingga dadaku. Seharusnya aku bisa mematahkan tangan-tangan kekar yang telah meremas kuat bahu dan membekapku untuk tidak menggila.

Rasa sakit dari perbuatan mereka masih terasa, bahkan perih tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Sebagus apapun aku berpura-pura, semeyakinkan aku berlagak seperti laki-laki — aku tetaplah perempuan. Aku terlahir sebagai perempuan dan aku memang harus hidup sebagai perempuan. Aku mungkin pantas menjadi bahan seksualitas mereka.

Aku benci menjadi perempuan!

“Jian, aku ingin pulang. Tapi, bukan ke rumah orang tuaku,” gumamku.

Tangan yang menggenggam kasa itu menggantung di udara. Kami saling menatap dalam. Guratan sendu wajahnya tercetak dengan jelas.

Aku bergeser dari duduk, beranjak pergi dan meninggalkannya. Tatapan Jian sungguh berbahaya. Jika aku tetap di sini, dia bisa meruntuhkan pertahanan emosiku. Aku tidak ingin menangis di hadapannya. Jika aku sakit, laki-laki itu juga merasakan sakit. Tidak ada niatan dalam diriku untuk membuatnya semakin lemah melewati hidup. Aku hanya ingin kami bisa bebas. Itu sudah cukup.

Namun, tanganku ditahan paksa sehingga aku jatuh terduduk di tempat semula. “Coba katakan lagi …,” suaranya bergetar. “Apa yang kamu inginkan?”

Aku membuang muka. “Seperti daun-daun kering yang rontok di musim gugur, masa ku pasti akan datang selayaknya mereka, Jian. Aku ingin gugur saja dari kehidupan ini … ” Aku menjeda kalimat, berusaha mengatur napas yang mulai sesak. Tapi, pada akhirnya air mataku lolos juga.

“Semua yang ada padaku telah mati. Alasan untuk menghilang … jauh lebih besar daripada menetap.” Aku makin terisak.

Di mataku sendiri, Aku hanya sebuah wujud dari kesialan. Dan aku ingin memusnahkan kesialan ini secepat mungkin.

Mata Jian mulai berembun. Tangannya meremas jemariku. Kecemasan hadir dalam balutan hangat genggamannya.

“Apa kamu nggak ingin pergi dari neraka ini?” lanjutku dengan lirih.

Jian menggeleng keras. “Aku sangat mau! Keinginan itu nggak pernah hilang sedetikpun dari kepalaku.” Dia makin mendekat, mengusap pipiku yang basah dengan air mata. Pelan dan menenangkan.

“Aku sudah bersalah membuang waktuku untuk bertahan, Ra. Kali ini, aku nggak mau melakukannya lagi,” bisiknya.

“Maksudmu?”

“Ayo lakukan seperti apa yang kamu mau.”

“Sungguh?” Aku mendongak tidak percaya. Bukankah kemarin dia menolak rencanaku? Aku tahu apa yang aku tawarkan dianggap gila olehnya. Tapi, apa salahnya tidak mencoba?

Beberapa hari sebelumnya kami sempat berdebat panjang mengenai pilihan rencana kabur yang paling tepat. Tentu saja kami memiliki cara yang berbeda. Akan tetapi, kami ingin pergi dari tempat ini bersama-sama, tanpa meninggalkan salah satu.

Aku meyakinkan diri sekali lagi. “Kamu sungguh percaya padaku?”

Jian menatap jemari kami yang bertaut, lantas sorot matanya beralih padaku — dalam dan kelam. “Ya, aku percaya.”

***

Menuju perubahan musim, udara jadi mulai tak bersahabat. Hari ini, Aku dan Jian sedang mengemban tugas untuk memastikan barang pesanan pelanggan selamat sampai tujuan.

Di atas kapal ikan berukuran sedang, aku dan Jian memasukkan beberapa kotak kayu berisi obat-obatan terlarang untuk di kirimkan ke pulau seberang.

Tidak hanya kami berdua, ada dua rekan lain yang berjaga di sana. Belum termasuk nahkoda dan satu teknisi kapal.

Satu minggu yang lalu, aku dan Jian mati-matian membujuk salah satu pembina untuk mendapatkan tugas mengirim barang ke pulau Con Dao — salah satu pulau wisata terkenal di Vietnam. Aku tahu perjalanan ini mungkin cukup jauh melewati jalur laut. Aku rela melakukan apa saja agar bisa mengambil kesempatan emas itu— bahkan jika harus mencium satu per satu kaki jajaran pembina.

Masa bodoh soal harga diri!

Berkali-kali aku meyakinkan mereka bahwa aku dan Jian hanya ingin melihat pemandangan laut.

“Sudah lama sekali Jian tidak pernah menghibur diri. Barangkali saat dia melihat laut dan pikirannya mulai tenang, pembina nggak perlu khawatir kalau dia akan kabur lagi.”

Begitulah aku memanfaatkan nama Jian untuk membuat pembina berpikir ulang. Aku tahu pembina lelah menghadapi laki-laki itu.

Setelah mesin kapal menyala, kami mulai menjauhi dermaga kecil kampung nelayan. Terdapat palang kecil bertuliskan Distrik Van Ninh. Ada salah satu pohon dengan daun berwarna keemasan yang bergoyang di terpa angin laut. Beberapa lembar daunnya gugur, terbang tidak beraturan mengikuti arah angin.

Jian duduk di sisi belakang dek kapal, aku mengikutinya. Kami sama-sama menurunkan tas hitam besar yang sejak tadi kami bawa. Kapal kami menuju ke arah selatan.

Kami bisa menyaksikan matahari mulai beranjak tenggelam, pancarkan warna kemerahan yang menyatu dengan sekitar. Rombongan burung camar berterbangan di sekitar kapal. Beberapa dari mereka berhasil mematuk ikan kecil yang berenang di permukaan air laut.

Kami termenung, mulai tenggelam dalam pesona alam yang tenang. Semua pemandangan yang indah di depan mata ini akan kami serap dengan rakus sebelum hilang dari kepala.

Di balik degupan jantung yang kian menggila, aku mengangkat salah satu box yang berhasil kuselipkan di antara box narkoba. Box itu berisi batu dan rantai besi. Sementara itu, Jian mengeluarkan dua buah barbel dengan berat masing-masing 10 kilo. Kami membuatnya sendiri dari semen dan pipa bekas. Di kedua sisi ujung barbel, sudah terpasang rantai besi yang rekat dengan adonan semen.

Pembina dan pengawas tidak curiga, sebab aku berdalih membawa barbel di balik punggung untuk melatih kekuatan otot selama perjalanan ke Con Dao.

Saat mempersiapkan semuanya, Jian melirik ke arah belakang, memastikan tidak ada yang memantau pergerakan kami. “Dua orang itu nggak akan tahu, kan?”

“Tenang, semuanya sudah aku atur,” jawabku sambil memperagakan orang yang sedang tertidur.

Mulut Jian terbuka, ekspresinya tidak percaya. “Wah, kamu beneran gila, Ra!”

“Obat tidur nggak bikin mereka mati, Jian. Kamu jangan terlalu baik sama orang jahat.” Membiarkan dua pengawas dan teknisi kapal tetap terjaga akan menyulitkan rencana kami.

“Cepat masukkan batu-batu ini ke dalam tas. Jangan sisakan satu pun!” perintahku. Dengan cekatan, Jian memasukkan batu ke dalam dua tas besar, sedangkan aku berusaha mengaitkan tali tambang nilon pada rantai besi di sisi barbel.

“Tunggu …” Aku menghentikan aktivitas Jian. “Kamu tidak ingin menuliskan sesuatu?”

“Hah?”

“Ayo tuliskan nama di sepatu kita,” usulku. Aku mengambil spidol permanen yang sudah aku bawa dari rusun. Tanganku bergerak menuliskan nama lahirku di sisi sepatuku, LARASATI.

Jian mengerutkan kening dan berkata, “Buat apa?”

“Sebagai pengingat. Bahwa kita pernah hidup dengan nama kita,” jelasku. Jika orang mati umumnya memiliki tanda kematian, seperti kuburan dan nisan, maka aku juga ingin memilikinya.

Jian menatapku sendu. “Tuliskan pada sepatuku juga,” pintanya. “J-I-A-N-U-R-A-A. Jangan lupa ‘A’ nya ada dua.”

“Oke … sudah.” Aku menyerahkan sepatunya, dan Jian mulai mengenakan sepatunya.

Melihat wajahnya semakin lekat, aku menangkap ada perasaan khawatir yang tersirat.

“Apa kamu masih ragu?” tanyaku memastikan.

Jian menoleh dan tersenyum. “Tidak.”

Aku mengalihkan pandangan sambil menggigit bibir bagian dalam. Bodohnya malah aku yang merasa dilema.

Jian lalu menggenggam tanganku dan mengusapnya lembut. Dia seperti memberi kekuatan bahwa pilihan ini adalah yang terbaik, setidaknya untuk hidup kami.

Kami masing masing mulai memikul tas berisi batu di bagian dada. Lalu, melilitkan rantai besi panjang yang melingkar dari leher ke bagian dada dan perut. Sebisa mungkin beban berat tersebut tidak bergeser saat kami terjun.

Dan yang terakhir, kami mengikat kuat tali tambang yang terhubung dengan barbel pada kaki masing-masing. Sesekali, aku kesulitan mengaitkan tali simpul mati karena beban berat yang aku pikul. Akan tetapi, Jian membantuku dengan sabar.

Setelah yakin kapal kami sudah berada di tengah perairan laut dalam, Jian menuntunku berjalan ke tepi pembatas dek belakang kapal. Pandangan kami saling bertemu. Aku coba menguasai diri agar tidak menangis.

Tidak ada kata yang terucap. Hanya suara riak ombak, embusan kencang angin laut, serta kapal ikan yang menjadi saksi kesakitan kami.

Dengan satu tarikan napas, akhirnya kami memilih jalan ini.

“Kamu dan aku serupa, Jian. Sebab itu aku menawarkan kebebasan yang belum pernah kita rasakan.”

Aku menawarkan, Jian menerima.

Orang-orang di luar sana mungkin akan menganggap kami manusia sampah. Makhluk yang tidak punya akal dan kurang iman. Lantas melabeli kami sebagai ciptaan yang tidak mampu mensyukuri kehidupan pemberian Tuhan.

Sebagai sesama manusia, mereka mungkin terkhianati karena harus berjuang menghabiskan sisa umur tanpa tahu masa depan. Sementara kami memilih jalan instan untuk lepas dari dunia pesakitan.

Jika kemalangan kami tidak ada artinya dan nyawa kami tidak ada harganya di mata mereka. Lantas, mengapa mereka harus peduli dan marah?

Setelah menjatuhkan balok ke dalam air laut, badan kami meluncur dengan cepat. Yang bisa aku rasakan hanya air, aku berselimut air, dan akan berakhir oleh air.

Tidak ada satupun dari kami yang bisa menebak kedalaman laut yang menelan tubuh kami ini. Semuanya terlihat buram, cerahnya rona merah matahari terbenam telah hilang dari pandangan.

Kata orang, air laut di musim gugur itu sangat dingin. Tapi, aku tidak menyangka jika dinginnya bagai pisau yang menyayat, menembus saraf, dan membuat badanku kaku dalam sekejap.

Dadaku sesak. Telingaku pengang. Kakiku ngilu karena kuatnya ikatan tali dan tarikan gravitasi barbel yang sudah tergeletak di dasar. Meskipun begitu, badanku terasa melayang-layang diterpa arus air laut.

Mencoba fokus mengendalikan detak jantungku yang kian ribut, aku akhirnya bisa melihat rupa Jian. Wajah Jian cukup jelas terlihat di tengah kotoran laut yang mengambang. Air laut tidak sebersih yang aku bayangkan.

Tanpa kewalahan, dia menarik tanganku lebih dekat. Wajahnya kian teduh di dalam air. Menyaksikan ketenangannya, perasaanku kembali berkecamuk. Apa Jian pantas melakukan ini? Apa keputusan yang kami pilihan sangat amat salah?

Hatiku hancur saat gelembung air keluar dari hidungnya.

“Bila di pertengahan jalan kamu mulai ragu. Pejamkan matamu, pikirkan semua hal yang sudah kita lalui. Anggap dan yakini bahwa pilihan ini adalah yang terbaik, Ra.

Kamu pernah bilang nggak sudi mati di tangan mereka, di depan mereka, di tempat mereka, dan dikasihani oleh mereka. Karena itu, jangan mati dengan sesuatu yang nggak kamu sukai.”



Ucapan terakhir Jian di atas kapal kembali terngiang. Aku tidak boleh mundur. Tapi, mengapa hatiku rasanya sakit dan ingin menangis sejadi jadinya.

Tangannya mulai menggenggamku sama seperti saat dia mengobati lukaku tempo hari.

Apa Jian tahu aku tidak seberani itu?

Kehangatannya di tengah dinginnya air membuatmu mulai bisa mengendalikan diri. Aku harus ikhlas melepaskan semua yang tertahan di dada; dari amarah, kecewa, dan penyesalan akan hidupku yang sia-sia.

Akhirnya aku membiarkan air laut memenuhi rongga pernapasanku — mempersilahkannya masuk, menyatu dengan tubuhku. Menyakitkan, sungguh. Tapi dengan sadar, aku memilih sakit dengan cara yang seperti ini.

Kilasan memori semasa hidup terlintas begitu saja dalam kepalaku. Banyak keputusan bodoh, impulsif, dan tidak berani yang aku sesali saat menghadapi pahitnya dunia.

Tapi, untuk yang satu ini, tidak ada kata penyesalan. Aku mulai menikmatinya. Sensasi di dalam air ini, aku menyukainya. Tidak pernah aku merasa setenang dan sebebas ini.

Dengan tubuhku yang ringan tanpa beban, aku mulai mengantuk. Hanya ada Jian dan senyumnya yang kutahu — sebelum pandanganku menggelap.

Jian, hanya ini cara kita bisa kembali ke rumah. Semoga rumah barumu dipenuhi oleh kebahagiaan. Dan … terima kasih banyak karena sudah mau menjadi teman baikku hingga akhir.

Mataku menutup, selamanya.

Tugasku untuk tetap hidup sudah selesai. Kini, kubiarkan gelombang air laut mengantarkan kami pada tempat terakhir kami akan berada.

Aku tahu Tuhan akan marah, Jian. Tapi biarkan Dia melihat usaha kita untuk lepas dari jeratan kesakitan dunia.[]



— Deharuka (2025) —

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)