Anak-anaknya akan selalu menyebutnya "bapak rumahan", mungkin untuk menghaluskan saja daripada menyebut bapak mereka dengan istilah yang terasa lebih asing, bapak rumah tangga, bapak pengangguran!
Masalahnya, karena hampir sepanjang waktu bapak memang selalu di rumah, padahal rumah itu sendiri tidak sedang baik-baik saja.
Dulu orang-orang mengenalnya sebagai pengusaha. Mobil keluar masuk halaman tak pernah absen, telepon tidak pernah berhenti berbunyi nyaring setiap hari. Jika berjalan bapak selalu cepat seperti tergesa, berbicara cepat, dan mengambil keputusan secepat orang yang percaya dunia memang sedang menunggunya.
Lalu suatu hari bisnis itu jatuh.
Ketika bisnis tumbang, ternyata yang jatuh tidak pernah jatuh sendirian. Ia menyeret harga diri, kebiasaan, cara berjalan, bahkan cara seseorang memandang cermin.
Pegawai bank seperti petugas kebersihan yang datangnya rutin. Untuk apa lagi? Tentu saja untuk menagih sisa pembayaran utang yang masih tertunggak. Sisa-sisa dari bekas usaha yang bangkrut menyisakan lubang raksasa.
Bapak menjadi penghuni tetap ruang tamu dan halaman depan.
Ia menyiram tanaman yang hampir mati, memperbaiki keran yang bocor, mengantar anak ke sekolah, dan sesekali menonton berita ekonomi dengan wajah seperti seseorang yang sedang menghadiri pemakaman dirinya sendiri.
Suatu hari, anak bungsunya, Bobi, pulang dari sekolah.
"Bapak kerja apa sekarang?" tanyanya sambil membuka sepatu.
Saat itu bapak sedang menyapu halaman.
"Bapak kerja menyapu."
"Maksudnya pekerjaan betulan."
Bapak berhenti menyapu.
"Kalau rumah kotor lalu ada yang membersihkannya, itu pekerjaan betulan atau pura-pura?"
Bobi berpikir sejenak.
"Pekerjaan betulan."
"Nah, berarti bapak bekerja."
Bobi mengangguk, tetapi belum puas.
"Teman-temanku bilang bapak yang di rumah itu berarti pengangguran."
Bapak tersenyum.
"Pengangguran itu orang yang tidak melakukan apa-apa. Bapak setiap hari mengerjakan banyak hal. Hanya saja belum ada yang mau menggajinya."
Bobi tertawa geli mendengar jawabannya.
"Tapi bapak dulu bos."
"Dulu bapak juga rambutnya lebih banyak."
Mereka tertawa bersama.
***
Malam harinya, istrinya, Sinta, menghitung pengeluaran bulanan.
"Kita harus menjual mobil," katanya pelan.
Bapak diam.
Mobil itu adalah sisa terakhir dari masa jayanya.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Ada."
"Apa?"
"Menjadi kaya lagi dalam tiga hari."
Bapak tersenyum pahit.
Sinta melanjutkan.
"Kita sudah menjual ruko, tabungan juga habis, perhiasan sudah dari bulan kemarin habis, yang tersisa cuma gengsi."
"Gengsi juga hampir habis."
"Belum. Kalau habis, mobil itu sudah terjual bulan lalu."
Bapak menatap istrinya.
"Aku merasa gagal."
Sinta menutup buku catatannya.
"Gagal itu ketika seseorang berhenti menjadi manusia hanya karena berhenti menjadi kaya."
"Tapi aku yang membawa kita ke sini."
"Kita ke mana?"
"Ke keadaan ini."
Sinta tersenyum.
"Kita masih makan, anak-anak masih sekolah, rumah masih berdiri dan kamu masih pulang setiap hari."
"Lalu yang hilang?"
"Yang hilang cuma versi dirimu yang dulu."
Bapak memandang lantai.
Ia baru sadar bahwa selama ini ia berkabung atas dirinya sendiri.
Keesokan paginya petugas bank kembali datang.
"Pak, kapan kira-kira ada pembayaran?"
Bapak mempersilakan mereka duduk.
"Kalau saya tahu kapan rezeki datang, saya sudah pesan duluan."
Petugas itu tersenyum kaku.
"Kami hanya menjalankan tugas."
"Saya juga, tugas saya sekarang menjaga rumah ini tetap berdiri."
"Apakah bapak masih punya usaha?"
Bapak berpikir.
"Lumayan."
"Bidang apa?"
"Menyelamatkan harga diri agar tidak bangkrut total."
Petugas muda itu tertawa kecil. Atasannya menegurnya dengan pandangan yang berbeda bukan soal harga diri, tapi itikad baik untuk membayar hutangnya.
Setelah mereka pergi, anak sulungnya, Dita, bertanya.
"Bapak marah pada orang bank?"
"Kenapa?"
"Mereka selalu datang."
Bapak duduk di kursi bambu.
"Tidak. Orang yang menagih utang tidak selalu jahat. Kadang mereka hanya mengingatkan bahwa keputusan kita punya akibat."
"Lalu kenapa bapak dulu berutang?"
"Karena bapak terlalu percaya bahwa masa depan pasti sesuai rencana."
"Dan ternyata tidak?"
"Ternyata masa depan tidak pernah menandatangani kontrak dengan manusia."
***
Beberapa tetangga mulai berbisik.
"Laki-laki kok di rumah terus."
"Istrinya yang bekerja sekarang."
"Kasihan."
Suatu sore seorang tetangga berkata sambil bercanda.
"Wah, Pak, jadi bapak rumahan sekarang?"
Bapak mengangguk.
"Iya."
"Tidak bosan?"
Bapak menuangkan teh.
"Dulu saya sibuk membangun rumah yang besar. Sekarang saya baru kenal isi rumah yang saya punyai yang dari dulu ngga pernah saya nikmati." Ujarnya santai.
Tetangga itu tertawa.
"Tapi laki-laki itu harus bekerja."
"Saya setuju."
"Lalu?"
"Saya baru sadar bahwa pekerjaan itu bukan cuma yang menghasilkan uang."
"Terus?"
"Kadang pekerjaan juga berarti meminta maaf. Kadang mendengarkan anak, menjaga istri agar tidak merasa sendirian."
Tetangga itu diam.
Bapak melanjutkan.
"Masalahnya kita terlalu lama mengukur laki-laki dari berapa yang dia bawa pulang, bukan dari siapa yang tetap dia jaga ketika semuanya hilang."
***
Suatu malam saat mereka makan bersama, Bobi bilang, "Kalau bapak kaya lagi nanti, bapak akan sibuk lagi?"
Bapak tidak langsung menjawab.
Dulu ia mungkin akan menjawab iya.
Sekarang tidak.
"Bapak ingin bekerja lagi."
"Tapi?"
"Tapi bapak tidak mau kehilangan rumah demi mencari rumah."
Dita bertanya, "Maksudnya?"
Bapak tersenyum.
"Dulu bapak pergi pagi dan pulang malam supaya kita punya kehidupan yang baik. Ternyata kehidupan yang baik itu sedang menunggu bapak di rumah seperti sekarang."
Sinta memandangnya, sudah lama ia tidak mendengar suaminya berbicara tanpa kemarahan kepada dirinya sendiri.
Bobi berkata polos.
"Kalau begitu bapak tetap jadi bapak rumahan saja."
Bapak tertawa.
"Kenapa?"
"Karena waktu bapak jadi bos, bapak jarang ada. Sekarang bapak selalu ada. Tapi apa bapak suka tetap jadi bapak rumahan?"
Bapak terdiam.
Kadang-kadang seorang anak mengatakan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh buku-buku motivasi karena terlalu jujur dan apa adanya.
Rumah itu masih memiliki utang, tagihan, dan masa depan yang belum jelas, tetapi setelah sekian lama, entah mengapa rumah itu rasanya tidak lagi terasa kosong.
Bapak rumahan itu akhirnya mengerti, bahwa manusia tidak selalu hancur ketika kehilangan pekerjaannya. Kadang ia justru mulai menemukan kembali dirinya ketika tidak ada lagi jabatan yang bisa dipakai untuk menunjukkan dirinya.
Tapi itu artinya ia juga tak bisa membiarkan semuanya jatuh mengikut jebakan nasibnya.