Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
90
Aroma Buku dan Kopi
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Gemerincing lonceng berbunyi saat aku mendorong pintu toko buku tua itu.

Aroma buku dan kopi yang baru diseduh langsung menyambutku. Toko itu cukup sepi siang itu. Di balik meja kasir duduk seorang laki-laki dengan aura tenang yang terasa tidak cocok dengan suasana toko yang kuno.

Sebelum melangkah masuk, aku sempat mengira penjaga atau pemilik toko ini pastilah seorang pria paruh baya eksentrik yang menghabiskan hari-harinya di antara rak-rak berdebu. Namun, perkiraanku meleset jauh. Laki-laki di hadapanku justru tampak masih sangat muda.

Ia mengenakan kaus putih polos yang dipadukan dengan outer hitam serta celana senada. Sepasang kacamata berbingkai bulat bertengger di hidungnya, memberikan kesan cerdas sekaligus misterius yang sulit ditebak.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya lembut seraya mengulas senyum tipis. Detik itu juga, kedua kakiku mendadak terasa kaku di atas lantai kayu.

"Saya ingin mencari buku sastra klasik Indonesia untuk tugas kuliah," jawabku cepat untuk menutupi kegugupan.

"Era apa, Mbak? Balai Pustaka atau Pujangga Baru?"

"Apa saja yang tersedia, Mas?" tanyaku balik, pasrah.

"Sebentar, saya cek katalognya dulu." Jemarinya mulai menari lincah di atas papan ketik komputer. "Ada beberapa pilihan. Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Atheis, Belenggu..."

Satu per satu judul disebutkannya. Sayangnya aku tidak terlalu fokus mendengarkan. Perhatianku justru tersita pada dirinya.

Ia memang tampan, tetapi bukan jenis ketampanan populer yang mencolok atau haus perhatian. Ia memiliki ketampanan yang terasa klasik aristokratik. Seolah-olah sosoknya lebih masuk akal jika ditemukan di dalam lembaran halaman novel lama ketimbang berdiri di dunia nyata.

"Mbak kuliah jurusan apa?" Pertanyaannya yang tiba-tiba langsung membuyarkan lamunanku.

"Sejarah dan antropologi, Mas," jawabku agak gelagapan.

"Oh." Ia mengangguk kecil, tampak menimbang sesuatu. "Kalau begitu, saya sangat merekomendasikan Salah Asuhan."

"Kenapa?"

"Karena selain nilai sastranya tinggi, buku itu menarik untuk membedah benturan budaya dan krisis identitas pada masa kolonial. Biasanya mahasiswa sejarah punya banyak perspektif menarik tentang itu."

Aku mengangguk setuju, terpikat oleh argumennya. "Iya, Mas. Saya ambil yang itu saja."

Ia bangkit dari kursinya. Saat langkahnya melewatiku, embusan aroma parfum beraroma rempah hangat yang samar mampir ke indra penciumanku. Menenangkan, sekaligus membekas.

"Silakan ikut saya."

Aku mengekor di belakangnya menuju jajaran rak sastra Indonesia di sudut ruangan. Ketika akhirnya berdiri berdampingan, baru kusadari postur tubuhnya cukup tinggi, mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Kepalaku bahkan hanya mencapai pundaknya.

Ia mengulurkan tangan, mengambil sebuah buku bersampul lawas dari rak teratas, lalu menyerahkannya kepadaku. "Ini, Mbak."

"Terima kasih."

"Sama-sama," sahutnya, tatapannya mengunci mataku selama sepersekian detik. "Nanti kalau sudah selesai dibaca, saya ingin tahu bagaimana pendapat Mbak tentang karakter Hanafi."

Aku tersenyum kecil, merasakan debar halus di dada. "Boleh."

"Kalau begitu, silakan ke kasir untuk pembayarannya." Hari itu, aku pulang membawa satu buku fiksi di dalam tas, dan satu alasan baru di dalam kepala untuk kembali ke toko tersebut. Aneh rasanya. Untuk pertama kali dalam hidupku, tugas membedah novel tebal terasa begitu menyenangkan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)