Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
10
Resonansi
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Dulu, aku mengira resonansi hanyalah sebatas istilah dalam pelajaran fisika.

Guru di sekolah menjelaskannya menggunakan garpu tala. Ketika satu garpu tala dipukul, garpu tala lain yang memiliki frekuensi sama akan ikut bergetar. Kadang, guru juga menggunakan gitar sebagai contoh. Sebuah senar dipetik, lalu bunyinya merambat dan menggema di seluruh ruang kelas. Bagiku saat itu, resonansi hanyalah urusan suara dan getaran mekanis. Aku tidak pernah menyangka bahwa bertahun-tahun kemudian, kata itu akan menempati ruang yang begitu khusus di dalam hatiku.

Kini aku tahu bahwa manusia juga memiliki resonansinya sendiri. Ia tidak berbunyi nyaring seperti garpu tala, tidak pula kasatmata seperti gelombang suara. Namun, ia datang tanpa peringatan, menggetarkan kembali sesuatu yang sudah lama tersimpan rapat di dalam ingatan.

Kadang, resonansi itu datang bersama hujan. Saat titik-titik air jatuh mengetuk atap rumah, aku tiba-tiba terlempar ke masa kecil. Masa ketika hujan bukanlah sebuah gangguan, melainkan undangan hangat untuk bermain. Aku dan teman-teman akan berlarian tanpa peduli pakaian basah kuyup, atau omelan orang tua yang sudah menunggu di ambang pintu.

Di lain waktu, resonansi datang saat aku melewati jalan tanah yang becek. Aku mendadak teringat diriku yang dulu saat lebih muda, mengendarai motor matic membelah jalanan berlumpur menuju ke kota kecamatan. Ban motor sering tergelincir, dan pakaian kerap terkena cipratan lumpur. Namun saat itu, aku tetap melaju karena tidak ada pilihan lain selain terus berjalan ke depan.

Ada kalanya juga resonansi hadir lewat lembaran buku. Dari sekian banyak buku yang pernah kubaca, hanya sedikit yang benar-benar menetap di kepala. Salah satunya adalah Robohnya Surau Kami.

Aku membaca buku itu saat masih menjadi tenaga honorer di sebuah rumah sakit kabupaten. Saat itu, hidupku teramat sederhana. Aku tinggal di kamar kos satu petak dengan fasilitas kamar mandi dan WC umum yang harus berbagi dengan penghuni lain. Gajiku tidak besar. Begitu amplop gaji kuterima, sebagian besar harus langsung disisihkan untuk membantu orang tua di kampung karena adik-adik masih sekolah dan ayah hanya bekerja sebagai buruh.

​ Aku masih ingat betul bagaimana rumitnya menghitung pengeluaran setiap bulan. Mulai dari biaya kos, makan, pulsa, transportasi, sedikit uang jajan, hingga jatah yang harus dikirim untuk keluarga. Pada masa itu, bahkan untuk membeli sebuah majalah pun aku harus berpikir dua kali.

Karena keterbatasan itulah, aku akhirnya mendaftarkan diri menjadi anggota perpustakaan daerah. Tempat itu menjadi ruang pelarian yang sederhana sekaligus murah meriah. Di antara rak-rak buku yang sunyi, aku justru menemukan banyak dunia baru. Aku menemukan salah satu seri Harry Potter, novel-novel sastra klasik, dan akhirnya bertemu dengan Robohnya Surau Kami.

Aku tidak tahu pasti mengapa buku itu bisa begitu mengguncangku. Mungkin karena saat itu aku sedang berada di usia Quarter-Life Crisis, fase ketika seseorang mulai mempertanyakan makna hidup, tanggung jawab, dan pengabdian. Atau mungkin, karena aku membacanya di tengah jepitan realitas hidup yang membuat pertanyaan-pertanyaan filosofis itu terasa begitu nyata.

Yang jelas, hingga hari ini aku masih mengingat momen itu dengan sangat baik. Bukan hanya isi ceritanya, melainkan aku juga mengingat dengan jelas diriku yang dulu saat sedang membaca. Aku ingat sudut kamar kos itu, atmosfer perpustakaan daerah yang tenang, dan bayangan seorang gadis muda yang sedang berjuang keras bertahan hidup di tengah segala keterbatasannya.

Anehnya, setiap kali kenangan itu mengetuk ingatan, aku tidak lagi merasa sedih. Yang hadir justru sebuah kehangatan yang menjalar di dada. Rasanya seperti bertemu kembali dengan diriku sendiri setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Mungkin, inilah resonansi yang sesungguhnya. Bukan sekadar gema kosong dari masa lalu, bukan pula tanda bahwa kita gagal move on. Melainkan sebuah jejak-jejak kehidupan yang rupanya masih bergetar di dalam diri kita. Sebuah jejak yang mengingatkan bahwa kita pernah tertawa, pernah berjuang, pernah merasa takut, pernah bermimpi, dan pada akhirnya kita berhasil melewati semuanya.

​ Resonansi adalah cara elegan dari masa lalu untuk menyapa kita kembali. Kadang ia datang melalui rintik hujan, barisan kalimat di dalam buku, alunan lagu, atau sekadar jalan tanah yang becek. Ia hanya singgah sebentar, lalu pergi lagi. Namun, setiap kali ia datang, ia selalu meninggalkan satu pesan kuat yang sama. "Lihatlah, sudah sejauh apa kau berjalan sekarang."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)