“Ada apa sebenarnya, ma?!”
“Cinta. Sayang. Tolong! Mama tidak bisa jawab apapun saat ini!”
Melati Kartika bersama putri satu-satunya yang bernama Karunia Cinta Syarif berlari menuju gudang yang terletak di halaman belakang rumah mereka. Cinta sesekali memekik kesakitan karena cengkraman tangan Kartika sangat kencang.
“Kamu tunggu disini sampai… sampai…” Kartika tidak dapat melanjutkan ucapannya. Menangis. Ia memegang kedua pipi anak perempuannya. Menatap gadis berusia 15 tahun itu dengan penuh lara.
“Sampai polisi datang…” Cinta menatap ibunya penuh dengan tanda tanya.
“Kenapa?!”
“Papa dimana?!”
Kartika hanya bisa menangis.
“Bersembunyilah, nak! Jangan bersuara!” Ia mendorong pelan tubuh Cinta dan mengunci pintu gudang dan menggembok engselnya.
“Mama!” Pekik Cinta.
“Mama! Ada apa ma?!” Tidak ada jawaban.
Melalui sela pintu, Cinta mengamati pergerakan ibunya. Kartika berlari ke dalam rumah. Sepintas Cinta melihat ibunya menatap ke arah gudang cukup lama sampai akhirnya pintu rumah tertutup.
Cinta terdiam. Tidak ada teriakan memanggil ibu atau ayahnya, tidak ada jeritan minta tolong, tidak ada gedoran pintu atau upaya paksa untuk membuka pintu. Gudang yang kurang lebih berukuran 5 kali 5 meter itu terasa sangat sempit dan menakutkan bagi gadis yang baru saja ditinggal tanpa alasan oleh ibunya.
Cinta tahu betapa besar bahaya yang mengintai keluarga mereka sejak ia kecil. Kedua orang tuanya merupakan anggota polisi dengan pangkat yang cukup tinggi dan prestasi yang sangat banyak. Keduanya merupakan orang penting pada lembaga tersebut.
Malam seperti ini bukan pertama kalinya Cinta disembunyikan oleh orang tuanya di dalam gudang. Tapi, malam ini nampaknya berbeda. Cinta merasa uluran tangan ayahnya tidak akan mengeluarkan ia dari celah kardus dan barang bekas malam ini.
***
10 menit.
25 menit.
45 menit.
Malam semakin larut. Rasa takut semakin menggelitik. Suara jangkrik tidak kalah kencang dengan detak jantung Cinta saat ini. Ingin sekali ia kembali mengintip dari sela pintu. Namun ia mengurungkan niatnya. Dia takut kalau tiba-tiba ada yang membuka pintu selain orang tuanya.
Baru saja Cinta mengingat handphone-nya tetapi disaat bersamaan dia kembali murung karena dia ingat barang itu tertinggal di kamarnya.
DOR!
“HERMAAAAAAAANNNNNNNN!!!!!!”
Cinta menutup mulutnya. Air matanya mulai mengalir deras. Baru saja dia mendengar suara ledakan seperti pistol dan teriakan ibunya, menyebut nama ayahnya. Cinta tidak bisa bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya kemana-mana dan rasa sesak menyelimuti dadanya. Ia ingin keluar, ia ingin melihat kedua orang tuanya.
Hening kembali menyelimuti. Seolah-seolah suara tembakan dan teriakan tadi tidak pernah terjadi. Cinta merangkak ke arah pintu, mencoba untuk mengintip kembali. Rumahnya tampak gelap. Sekilas dia mendengar suara seperti orang-orang sedang berbicara. Terdengar jauh. Cinta mencoba untuk memperbaiki postur wajahnya agar ia dapat melihat dengan lebih jelas lagi. Betapa terkejutnya dia karena pandangannya berubah hitam, ada yang menghalangi.
Cinta berdiri. Berusaha untuk mencari lubang yang lain.
“Aa-!” Cinta terkejut. Ia segera menutup mulutnya, meredam suara.
Ada bola mata yang juga tengah mengintip dari sela pintu.
Tapi bukan bola mata seperti yang dimiliki manusia pada umumnya.
Takut. Cinta takut pintu gudang dibuka dan bukan orang tuanya yang menjemput dia sekarang.
Entah apa yang terjadi di dalam kediaman keluarga Syarif dan entah sosok apa yang menunggu dibalik pintu gudang ini.