Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Janji yang Tidak Benar-benar Pergi
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Dia sayang, tapi aku membiarkannya menunggu terlalu lama. Tepatnya bukan membiarkan, tapi keadaan yang membuat kami saling terpisah. Alhamdulillah, hari ini aku bisa dengan lantang mengatakan aku ingin bertemu lewat pesan WhatsApp. Namun jawabannya membuatku seketika patah hati.

“Ayo kita bertemu, Ardi,” kataku singkat dengan wajah penuh senyum, karena kupikir dia tidak akan pernah menolakku. Aku tahu dia sangat mencintaiku, tapi—

“Aku sibuk,” balasnya.

Seketika senyumku menghilang. Namun aku tetap mencoba tenang dan selalu berprasangka baik. Wajar saja, karena dia bekerja. Lalu aku kembali mengirim pesan.

“Hari Minggu, ya?”

“Nggak bisa, aku kerja,” jawabnya lagi.

Barulah aku panik. Ini sudah tidak biasa. Tentu saja aku tidak mau kehilangannya.

“Terus kapan ada waktu?”

“Tiga bulan ini aku sibuk.”

Jawabannya hanya seperlunya, meski tetap dibalas.

Karena aku tahu bagaimana pekerjaannya, jadi aku memaksa untuk tetap bertemu.

“Ya udah, aku yang ke sana. Tapi aku nggak tahu jalannya, cuma tahu jalan utamanya. Hari Minggu aku ke sana,” kataku putus, tanpa ada lagi pertimbangan apa pun.

Hari yang dijanjikan tiba. Aku benar-benar berangkat tanpa tahu pasti di mana alamat kerjanya, tapi di setiap perjalanan aku selalu memberinya kabar. Sampai di jalan yang pernah kami janjikan untuk bertemu, aku berhenti di sana. Aku memotretnya.

“Aku udah di sini.”

Tidak ada balasan darinya. Tapi aku yakin dia tidak akan membiarkan aku sendiri.

Namun nyatanya, sampai tiga jam aku duduk di trotoar jalan menunggunya datang. Hari sudah siang, perutku pun kelaparan.

“Sekarang pulang dulu. Minggu depan ke sini lagi. Nggak boleh nyerah, kan aku yang salah,” kataku meyakinkan diri sendiri.

Lalu dengan berat hati aku hendak pulang, meski pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, bagaimana kalau dia datang? Menelepon pun percuma, tidak akan diangkat.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Namun suara motor dari belakang membuatku tersenyum.

Dia datang.

Wajahnya datar. Rupanya hukuman untukku belum usai. Aku hanya bisa menunduk lalu mengikuti ke mana ia pergi.

Ia membawaku ke tempat kerjanya. Banyak teman-temannya di sana.

“Duduk di sini dulu,” katanya.

Aku mengangguk.

Teman-temannya langsung menggoda karena ia membawaku.

“Ooh, pantesan dari pagi ngilang. Rupanya jalan sama pacar.”

Banyak sorakan lain yang kudengar. Rupanya ia sudah pergi dari pagi. Aku semakin menunduk kecewa.

Saat dia duduk di sampingku sambil membawakan air minum, aku juga melihatnya meminum minuman yang sama.

“Jangan kesinggung omongan mereka. Aku lagi deket sama cewek,” katanya.

Rasanya tentu saja sakit.

“Baru deket, kan?”

Dia terdiam saat aku mengatakan itu. Di balik botol minumnya ia tersenyum tipis.

“Sudah pacaran,” katanya lagi, kembali mematahkan hatiku.

“Kenalnya lebih lama sama aku apa sama dia?”

“Sama kamu,” jawabnya sambil melihatku.

“Berarti aku yang lebih dulu jadi pacar kamu.”

Dengan lantang aku mengatakan itu, sampai membuatnya tersenyum miring.

“Egois.”

Ia beranjak dari sampingku. Aku kembali diam. Aku akui keegoisan itu.

Tidak lama kemudian, temannya datang kembali menggodaku.

“Mbaknya cantik. Punya saudara nggak? Boleh dong dikenalin. Yang ini pasti punya Ardi.”

“Bukan, deketin aja kalau mau.”

Begitu komentar laki-laki yang kutunggu dari pagi.

“Maaf, aku nggak suka cowok. Kecuali dia,” kataku sambil melihat Ardi.

Seketika laki-laki yang menggodaku tertawa lepas, sedangkan aku dan Ardi saling bertatapan tanpa ekspresi.

Akhirnya Ardi bangun lalu membawaku pergi dari sana.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi