Namaku Ara. Aku sudah berpacaran satu tahun ini dengan Ardi, hanya saja kami berbeda kota, jadi jarang bertemu. Ini jadwalnya kami bertemu saat sama-sama libur dari kerja. Dia menjemputku di tempat biasanya kami bertemu. Aku membawa motor sendiri, dia juga membawa motornya. Dia mengiringiku dari belakang sampai ke kosan. Sepanjang perjalanan, ia selalu melihat spion untuk memastikan aku tetap aman berkendara di belakangnya. Singkat cerita, kami sampai di kosan.
“Assalamualaikum,” salamku begitu ia membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” jawabnya lalu meletakkan kunci motor.
Aku duduk bersandar dekat pintu. Kami mengobrol seperti biasa sampai menjelang waktu azan Zuhur.
“Mau sholat di sini atau di masjid?” Kebetulan masjid dekat dengan kosan.
“Masjid aja.” Kami berjalan kaki ke sana. Selesai sholat, ia menungguku di tangga. Setelah itu, aku mencium tangannya. Kami kembali lagi ke kosan.
Aku mengeluarkan alat riasan dari tas, sementara dia hanya melihatku mulai merias wajah. Merasa diperhatikan, aku maju dan duduk di depannya. Ia melebarkan kaki agar aku berada dalam lingkarannya.
“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya.
“Enggak apa-apa.”
Ia kembali ke gamenya, dan aku melihat bibirnya kering. “Bibirnya kering sekali,” komentarku. Aku mengeluarkan pelembap tanpa warna dari dalam tas.
“Sini.” Aku sedikit menengadahkan wajahnya, lalu dengan kelingkingku mulai mengoleskan pelembap itu di bibirnya.
Ia terus menatapku. Aku hanya tersenyum tipis sambil terus mengoleskan sampai merata.
“Ini kalau dimakan aman, enggak?” tanyanya.
“Aman, tapi enggak boleh dimakan juga.” Aku masih serius dengan bibirnya dan pelembap itu.
“Oh.”
Tanpa aba-aba, ia mencium bibirku. Manis dari pelembap tadi bercampur di antara bibir kami. Perlakuannya yang tiba-tiba membuatku terpaku, sampai jariku saja belum turun.
Ia memegang tanganku, membawanya turun, masih dengan penyatuan bibir kami.
“Manis,” komentarnya, sedangkan aku masih terpaku.