Disukai
9
Dilihat
335
Rumah yang Tak Kunjung Pulih
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Langkah Alina perlahan menapaki jalanan yang tampak telah usang. Pandangannya menyapu sekeliling, melihat jalanan yang kini berhamburan dengan semak-semak liar. Dalam batinnya, keraguan semakin meninggi; rumah yang ditinggalkannya dahulu tak pernah tampak seperti ini. Sumur yang dulu selalu penuh oleh air hujan kini mengering. Bebatuan yang dulu memandu langkah kakinya kini tertutup oleh tanah gembur yang licin.

Dengan hati yang berdebar, Alina mempercepat langkahnya menuju rumah. Hanya beberapa meter lagi, tampak sebuah bangunan tua yang lapuk. Dindingnya dipenuhi lumut-lumut hijau yang sudah tidak segar lagi. Genting-genting yang dulu berwarna senja kini telah hilang sebagian. Ada rasa iba yang bersarang dalam hati Alina melihat kondisi rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Rumah itu kini luluh lantak, meski tidak sampai rata dengan tanah.

Ketika kakinya menapaki tangga kayu yang menjadi jembatan menuju teras, terdengar bunyi berderit. Anak tangga yang hanya ada tiga itu sebenarnya mudah saja dilewati Alina tanpa dipijak. Namun, hatinya penasaran, berharap ada satu benda yang masih utuh seperti sedia kala. Setelah pijakan pertama pada anak tangga, Alina tahu bahwa semuanya telah berubah. Rumah yang ditinggalkannya puluhan tahun lalu itu kini tidak sama lagi.

Alina meninggalkan rumah dengan membanting pintu, suara kerasnya menggema di sepanjang lorong. Sekala, yang terkejut mendengar suara itu, segera berlari, tergesa-gesa mengejar Alina yang masih tersulut oleh amarah. Namun, langkah Sekala terhenti ketika melihat Alina yang berdiri mematung, hanya beberapa meter di depannya.

Alina menoleh sekilas, menatap Sekala dengan mata yang berkilat penuh emosi. "Jika kamu masih bertanya mengapa aku meninggalkanmu, jawabannya adalah karena di rumah ini, aku tidak pernah merasa seperti penghuni tetap. Aku bersamamu, dengan ragamu, senyummu, dan setiap hari-harimu. Tapi tampaknya kamu lupa bahwa aku juga manusia. Setiap manusia butuh kepastian dalam hubungan. Kamu lupa bahwa status kita hanyalah sebatas teman?" ucapnya, suaranya bergetar namun tegas.

Raut wajah Sekala berubah drastis. Kekhawatiran yang tadinya tergurat kini digantikan oleh kemarahan yang tak terbendung. "Aku mengerti bahwa selama ini aku tidak pernah memberimu kepastian. Tapi apakah adil bagimu menyalahkanku setelah semua yang kamu lakukan untukku?" balasnya dengan nada lantang, membela diri.

Kata-kata Sekala tidak membuat Alina goyah. Sebaliknya, keinginannya untuk pergi semakin kuat. "Aku tidak pernah menyangka bahwa semua usahaku untukmu selama dua tahun ini malah membuatmu tidak mengerti apa-apa. Apakah perlu aku jelaskan bahwa semua itu adalah bukti dari cintaku yang teramat besar?" bentak Alina, suaranya penuh kepedihan.

"Caramu memperlakukanku adalah sebuah kesalahan jika itu dianggap sebagai bentuk cinta. Memang benar, aku merasa dicintai olehmu. Tapi aku tak pernah membayangkan bahwa cinta yang kamu berikan adalah cinta seorang pasangan. Aku lebih merasa kamu mencintaiku sebagai seorang adik, dan aku menganggapmu sebagai kakakku," balas Sekala, suaranya berusaha mematahkan argumen Alina. Ia mendekat, mencoba meredakan situasi. "Mari kita masuk dan bicarakan baik-baik. Kita sudah berada di pemikiran yang berbeda. Duduklah bersamaku, mari kita perbaiki ini dengan secangkir teh hangat."

Tatapan Alina terkejut melihat Sekala yang mendekat. Tubuhnya mundur, langkahnya semakin menjauh. Ada ketakutan bahwa Sekala akan memaksanya masuk kembali ke rumah. Tidak mudah membulatkan tekad untuk keluar dari rumah ini. "Jangan mendekat, atau kamu tidak akan pernah melihatku lagi," teriak Alina, suaranya terdengar putus asa dan penuh ketakutan.

Alina perlahan mendekat ke pintu coklat muda yang sudah lapuk, matanya menelusuri setiap sudutnya dari atas hingga bawah. Pintu itu tampak tak berdaya, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa rumah ini pernah disusupi. Tidak ada jejak kehidupan di sini. Jika rumah ini memang telah kosong sejak kepergiannya, seharusnya ada anak-anak nakal yang menjadikan tempat ini sebagai markas rahasia mereka atau bahkan tempat bercumbu dengan kekasih mereka.

Tangan Alina meraih pegangan pintu, ragu-ragu namun penuh keinginan untuk memastikan apakah masih kokoh atau sudah terbongkar oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Setelah merasa yakin, dia mengayunkan pegangan pintu ke arah bawah untuk membukanya. Namun, tak disangka, pintu itu ternyata terkunci.

Sebelum pertengkaran yang terjadi dan menyebabkan Alina harus meninggalkan rumah, di suatu malam ketika Alina tidak bisa tertidur dia kemudian menanyakan kepada Sekala tentang suatu hal. Pertanyaan yang dilontaskan oleh Alina tidak pernah terduga akan keluar oleh Sekala.

Alina dengan posisi tidur membelakangi Sekala yang sudah pulas tertidur. Perasaan Alina tidak baik-baik saja malam itu, karena ada yang mengganjal karena belakangan ini Sekala hanya mengajaknya bicara sesekali saja padahal tinggal satu atap. Tangan Alina menepuk-nepuk pundak Sekala agar terbangun.

Hanya sekejap saja Sekala terbangun dan sontak terkejut dengan tepukan mendadak itu. "Hari sudah malam lantas kenapa kamu membangunkanku?" tanya Sekala yang masih mengusap-usap muka bantalnya.

"Sedari tadi aku penasaran dengan pendapatmu tentang suatu hal. Jika ada sebuah tempat yang membuatmu senang berada di sana. Kamu ada di sana dan diperlakukan sebagai seorang ratu, tetapi tiba-tiba saja aku tidak mau datang ke rumah itu lagi dan berhenti untuk menjadikan tempat tersebut sebagai media pulang paling nyaman, menurutmu bagaimana?" tanya Alina dengan penjelasan yang sangat terperinci agar Sekala tidak lama perlu bertanya banyak hal.

Sekala mendengarkan dengan baik pertanyaan Alina walaupun dengan mata sedikit terpejam. Setelah Alina selesai menjelaskan pertanyaan tersebut, Sekala lantas mengehembuskan napas panjangnya. "Kalau kamu berada di suatu tempat yang tidak merugikanmu dari sudut manapun. Di tempat itu kamu diperlakukan sebagai ratu dalam segala hal. Lantas apa hal yang bisa membuatmu berpikir untuk menyudahinya?" tanya balik Sekala dengan tatap mata yang sedikit meremehkan pertanyaan tersebut.

Alina sedikit menyadari raut wajah kesal dari Sekala. Tapi dia masih melanjutkan topik pembahasan ini, karena dengan begitu perasaannya akan jauh lebih tenang. "Karena setiap kali aku mengunjungi rumah tersebut, jalanannya penuh dengan batu-batu kerikil. Tidak sekali kakiku tergores hingga terluka oleh batu yang aku pijaki."

Sekala memasang muka berpikir dengan pernyataan Alina. "Batu tersebut memang sudah semenjak kedatanganmu pertama ada disitu, atau justru batu tersebut sengaja ditaburkan oleh seseorang agar kamu tidak lagi menuju ke tempat itu?"

"Aku tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang kuketahui adalah bahwa setiap aku sedang berusaha menapaki jalanan penuh bebatuan itu dan berjuang untuk sampai ke tempat yang membuatku nyaman, justru pemandangan indah dari bunga-bunga muncul. Sering aku justru terhambat langkahnya untuk sampai ke tempat tersebut karena bunga-bunga. Bahkan pernah aku berpikir untuk mengambil bunga-bunga itu dan menjadikannya tempat ternyaman lain daripada melalui jalanan berbatu ke tempat yang nyaman itu." jawab Alina dengan nada yang semakin samar-samar terdengar jelas.

Mendengar penjelasan dari Alina sontak membuat Sekala terkejut. Wajahnya langsung dipalingkan menuju tempat Alina tidur. Sekala mengerti sekali bahwa yang sedang dibahasnya bukanlah persoalan antara tempat, jalan, batu atau bunga. Walaupun begitu Sekala berusaha untuk menyimak dan menafsirkan maksud daripada Alina.

"Kalau kamu memang suka dengan bunga-bunga tersebut. Ambil dan rawat dia sebagai bentuk kecintaanmu kepada bunga itu. Jangan kamu buat bunga itu menjadi sesuatu yang menghambatmu," penjelasan singkat dari Sekala namun bermakna dahsyat.

"Lantas kalau aku memutuskan untuk mengambil dan merawat bunga itu. Tidak akan ada kesempatanku untuk kembali ke tempat yang membuatku nyaman. Bagaimana nasib dari tempatnya nanti apabila aku tidak hadir di dalamnya?" tanya Alina dengan menatap dalam-dalam mata Sekala.

Melihat tatapan mata dari Alina, ada kekhawatiran yang sangat besar. Sekala tampak sedikit berpikir lama untuk menjawab pertanyaan dari Alina. Takut dalam benaknya ada kesalahan pemikiran yang justru membuat Alina melakukan sesuatu yang belum pernah terbayangkan.

"Jika kamu saja bisa menemukan tempat tersebut. Mungkin akan ada manusia lain yang bisa menjadikan tempat ternyaman itu sesuatu yang lain. Bisa jadi caramu menemukan tempat tersebut menjadi kemungkinan besar orang lain akan menemukannya juga. Yang pasti orang tersebut adalah orang yang melewati bebatuan dan tidak berbelok kepada bunga-bunga yang hadir di tepiannya."

"Kalau misalkan aku ingin membawa dan merawat bunga tersebut di dalam tempat itu. Lantas apakah itu menjadi sesuatu yang salah?" tanya Alina dengan singkat kepada Sekala.

"Silahkan saja. Tapi bagaimana jika di luar terjadi badai besar dan seseorang lalu berteduh untuk meminta pertolongan. Kebetulah di situ ada kamu, apakah orang tersebut akan diizinkan untuk masuk ke dalam tempat itu?" setelah memberikan jawaban kepada Alina, Sekala lantas berbalik tanya.

Mendengar pertanyaan Sekala membuat Alina lantas memberikan jawaban dengan cepat. "Kalau terjadi badai di luar, jangankan meneduh di luar. Tempat ini di dalamnya pun bisa dia masuki. Lalu jika dia ingin menetap maka dengan senang hati aku menerimanya," jawab Alina dengan sembari menebar senyum tipis kepada Sekala.

Melihat Alina yang senyum kepadanya, Sekala lantas membalas senyum tipis juga. "Di dalam tempat tersebut artinya ada kamu dan sang bunga, serta ada juga tamu yang singgah untuk sementara waktu. Bangunan tersebut bukan milikmu, bagaimana jika suatu hari nanti tamu tersebut mengambil alih tempat itu sepenuhnya?"

"Akan aku berikan tempat itu jika membuatnya nyaman. Tidak hanya aku yang akan pergi dari tempat tersebut, melainkan akan aku bawa juga bunga serta yang kubawa dari luar untuk meninggalkan tempat itu."

Ada tatapan kosong dari Sekala yang tidak bisa diartikan bahkan oleh dirinya sendiri. "Berarti kamu memberikan tempat ternyamanmu kepada orang yang bahkan tidak kamu kenal dengan baik?" tanya Sekala dengan nada yang sedikit lirih.

"Aku tidak memberikan tempat itu untuk selamanya. Akan ada suatu waktu dimana aku akan berkunjung dan memastikan bahwa tempat itu dirawat dengan baik oleh pemilik barunya," jawab Alina dengan sedikit gugup.

Berhembus napas panjang dari Sekala. Dia kemudian memejamkan matanya sejenak untuk menanggapi jawaban dari Alina. Ada perasaan gusar yang melanda hatinya, tapi kegusaran itu tidak akan jelas ditampakkan oleh Sekala.

Ketimbang gusar dengan pernyataan balasan dari Alina, Sekala justru melakukan perlawanan yang sedikit cerdas. "Jika kamu kembali dengan kondisi tempat tersebut sudah tidak seperti pertama kali kamu tinggalkan, lantas bagaimana kamu menanggapinya?"

"Walaupun berbeda aku tidak keberatan. Akan aku tanyakan kepada pemiliknya, apakah kondisinya baik-baik saja?"

"Tidak masalah jika baik. Tapi kalau kondisinya bahwa membuatmu tidak mengenal rumah tersebut sama sekali. Apa tanggapanmu Alina?" tanya Sekala dengan menyebut Alina untuk mempertegasnya agar menjawab dengan lebih masuk akal.

Alina yang merasa Sekala sudah mulai terpancing dengan topik obrolannya memantik rasa semangatnya. "Bagaimana mungkin aku tidak mengenal tempat yang sudah aku ketahui dengan baik setiap sudutnya. Bahkan setelah aku pergi nanti, dan jika banyak yang dirubah darinya, aku masih akan mengenali tempat itu bahkan lebih baik dari pemilik barunya. Aku punya banyak kenangan yang tidak akan bisa dilupakan bersama dengan tempat itu."

Sekala lantas menimpalinya dengan cepat. "Apabila nanti sang pemilik tidak mengizinkan kamu kembali ke tempat tersebut. Biarpun kamu sudah mengatakan bahwa suatu saat nanti akan kembali, akan tetapi manusia tetap saja manusia. Nyaman tidak bisa dibayar hanya dengan menepati jani. Bisa saja dia rela untuk ingkar dengan semua itu hanya agar tetap berada di sana," kata Sekala.

"Biar bagaimanapun aku masih ingin tetap pergi meninggalkan tempat itu," jawab Alina dengan singkat.

"Kamu merasa sangat nyaman berada di tempat itu. Hanya karena kamu kesulitan semasa perjalanan, haruskah akhirnya meninggalkan tempat itu?"

"Bukan hanya masalah jalan. Aku selalu berusaha untuk mencari alasan keluar dari tempat tersebut, nyatanya sampai sekarang aku tidak bisa menemukan alasannya," lantas Alina terlihat kesal ketika mengatakan ini.

Sekala tampaknya sudah berpasrah dengan yang ada di dalam pikiran Alina. Sekarang dia hanya menjawab dengan menyerahkan semuanya kepada Alina. "Ya sudah kalau begitu. Sekarang kamu putuskan saja untuk singgah ke tempat tersebut atau pergi untuk selama-lamanya. Tidak ada yang memaksamu untuk singgah, kan?"

"Apa aku tidak egois jika memutuskan untuk pergi?"

"Lantas jika bertahan apakah selamanya kamu akan berada di sana?" jawaban dari Sekala cukup menyudutkan. Belum selesai dengan itu Sekala melanjutkan ucapannya, "Hanya dengan mempertahankan tidak akan membuat semaunya baik-baik saja. Tidak ada yang menjamin bahwa tempat itu akan membuatmu nyaman seumur hidup."

"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Alina dengan wajah yang murung dan nada yang terasa serba salah. "Apakah perlu diperbaiki dulu jalannya agar tidak melukaiku?"

"Lantas bagaimana dengan nasib dari bunganya?"

"Biarkan dia tumbuh di tempatnya. Jika dia aku ambil dan dibawa ke tempat tersebut, bisa saja dia akan mati," jelas Alina dengan kepercayaan diri yang sudah cukup baik.

"Kamu rela jika orang lain yang akan mengambil atau memetik bunga tersebut?"

"Biarkan dia jika sudah dipetik orang lain. Sementara aku memperbaiki jalannya, biarkan dia menjadi temanku," lagi-lagi timpal Alina untuk berusaha meyakinkan dirinya.

Alina menutup pembicaraan dengan pernyataan terakhirnya bahwa dia sanggup untuk meninggalkan bunganya apabila ada yang ingin merawatnya. Tidak ada alasan untuk Alina mempertahankan bunga tersebut, sementara di jalan dia sudah berusaha memperbaiki jalan yang mungkin akan jadi cara dia menuju tempat tersebut.

Sekala lantas melanjutkan tidurnya ketika dia melirik ke arah Alina yang sudah memejamkan mata. Dalam kondisi mata yang tertutup, tentu ada teka-teki besar dari topik pembicaraannya tersebut. Sekala tidak pernah menyangka tentang apa yang dimaksud oleh Alina. 

Tangan Alina meraih pegangan pintu, ragu-ragu namun penuh keinginan untuk memastikan apakah masih kokoh atau sudah terbongkar oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Setelah merasa yakin, dia mengayunkan pegangan pintu ke arah bawah untuk membukanya. Namun, tak disangka, pintu itu ternyata terkunci.

Pintu yang tidak bisa dibuka itu sudah lapuk, namun tetap membutuhkan tenaga kuat untuk membukanya secara paksa. Alina tidak memiliki kekuatan untuk mendobraknya. Meskipun begitu, ada celah kecil yang terbuka, mengeluarkan bau tak sedap yang menandakan rumah ini sudah lama tak terawat.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak terakhir kali dia pulang, dan Alina mulai mengingat-ingat benda-benda yang dibawanya saat pergi. Salah satunya adalah kunci yang diberikan oleh Sekala sebelum dia meninggalkan rumah ini.

Setelah upaya Sekala untuk mendekati Alina ditolak mentah-mentah, ia mengurungkan niatnya. Langkahnya perlahan menjauh, menjaga jarak dari Alina. Amarah Alina benar-benar tak terbendung, membuat Sekala khawatir ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

Sekala menatap dalam ke mata Alina yang sudah berlinang air mata. "Aku tidak pernah berpikir bahwa akhirnya kita akan seperti ini. Aku juga mencintaimu, Alina," ucap Sekala dengan jujur.

"Sudahi ini semua, Sekala. Aku mohon," suara Alina terdengar samar di antara isak tangisnya.

"Aku mengerti bahwa kita telah salah paham. Sebenarnya, aku sudah menyukaimu sejak kita bertemu tiga tahun lalu. Saat itu, rasanya kita tidak mungkin bisa bersama karena kamu terlalu sempurna untukku yang hanya orang biasa. Hari-hari kita bersama adalah kenangan indah yang tak bisa kulupakan, membuatku yakin bahwa kamu adalah orang yang layak aku perjuangkan. Tapi aku merasa caramu memperlakukanku sama seperti teman-temanmu yang lain, membuatku cemburu. Itu sebabnya aku sering merasa kita ini seperti tidak ada ujungnya, kebersamaan ini lebih terasa seperti hubungan kakak-adik," jelas Sekala, berharap Alina memahami.

"Aku tidak bisa lagi mempercayai ucapanmu. Sejak dulu, caramu memperlakukanku seolah aku bukan siapa-siapamu. Sangat mudah mengatakan bahwa kamu mencintaiku, tapi perlakuanmu adalah bukti sebenarnya dari cinta itu," balas Alina, suaranya tegas namun bergetar.

"Berikan aku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal," pinta Sekala dengan perasaan kalut.

"Sudah cukup, Sekala. Tidak ada yang bisa kita perbaiki saat ini. Aku sudah cukup berada di sini bersamamu. Carilah seseorang yang bisa menggantikanku, yang akan mengisi hatimu," ucap Alina sebelum pergi meninggalkan Sekala.

Namun, Sekala tidak tinggal diam. Dia mengejar Alina dengan air mata yang tak bisa dijelaskan. "Tunggu, Alina," ucapnya memohon.

Mendengar panggilan itu, Alina menghentikan langkahnya. Sekala berlari mendekat dan memeluk Alina dari belakang, menunjukkan kasih sayangnya. "Jika kehadiranku membuatmu tidak nyaman, aku tidak mau mengganggu kebahagiaanmu. Bawalah kunci ini jika suatu hari nanti kamu ingin pulang," ucap Sekala sembari menjulurkan tangan yang menggenggam sebuah kunci.

Alina melepaskan diri dari pelukan Sekala dan mengambil kunci itu. Dengan cepat, dia berlari menjauh, tangisnya pecah menerima kenyataan bahwa ini adalah jalan yang dia pilih. Sekala, yang pernah membuatnya bahagia, kini tak lagi akan menghiasi hari-harinya. Jika selamat pagi diiringi senyumnya, mungkin selamat tinggal diiringi tangisnya. Alina menerima kenyataan itu, meski sulit.

Sekala berdiri diam, menatap Alina yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangan. Hujan mulai turun, mengguyur jalanan yang dihimpit ladang jagung. Badai membuat jarak pandang Sekala terhalang. Ia kembali ke dalam rumah, duduk di kursi yang biasa dia dan Alina gunakan bersama. Dua kursi yang menghadap ke luar jika pintu terbuka. Dengan jarum jam yang terus berdetak, Sekala duduk dalam keheningan, hanya berdiam tanpa melakukan apa-apa.

Sementara itu, Alina semakin jauh dari rumah Sekala, menuju jalan besar. Kini waktunya dia menemukan kehidupan yang sebenarnya, memilih menyelamatkan hatinya daripada jatuh ke jurang kekecewaan yang sama. Tidak ada lagi Sekala dalam hidupnya, entah untuk saat ini atau selamanya. Baginya, mungkin hanya butuh beberapa bulan saja bagi Sekala untuk menemukan penggantinya.

Di tangannya, Alina memegang sebuah kunci yang ditemukan di antara arsip bernama Sekala. Dalam arsip itu, ada beberapa foto yang masih ia simpan diam-diam di lemari rumahnya. Di tempat itulah kunci yang pernah diberikan Sekala tersimpan. Kunci itu kini beranjak dari tempat yang seharusnya selama dua puluh tahun tak tersentuh. Alina memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci di pintu yang lapuk. Dengan sedikit usaha, kunci itu akhirnya berputar dan pintu perlahan terbuka. Di balik pintu, dua kursi yang pernah menjadi tempat dia dan Sekala menenangkan pikiran berdiri sejajar, tak berubah.

Sejak kepergian Alina, Sekala benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Di tangannya, ada selembar kertas yang ditulis dengan mesin ketik. Sekala menyampaikan beberapa pesan melalui surat itu. Kertasnya sengaja dipilih dengan kualitas terbaik dan dibungkus laminasi agar tak usang dimakan rayap. Sekala menancapkan tiga surat dengan pesan berbeda-beda di dinding.

Alina mendekat ke arah kursi tersebut. Matanya tertuju pada sebuah kertas yang tertancap di dinding, dengan jelas tertulis bahwa surat itu dari Sekala untuknya. Sebelum membaca, Alina memperhatikan keadaan rumah. Semuanya sudah benar-benar habis dimakan rayap, tak banyak yang tersisa. Hanya kertas mengkilap yang dilaminasi itu yang masih utuh. Dengan hati-hati, Alina mulai membaca surat pertama.

Sekala yang Hilang

Untuk Alina, orang yang paling aku cintai. Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyempatkan waktumu untuk kembali ke rumah ini. Aku sangat bersyukur karena kamu menemukan surat ini. Meski sudah lima tahun kamu pergi, masih ada sepucuk harapan bahwa suatu hari kamu akan kembali lagi. Dengan membaca surat ini, kamu membenarkan kalimatku sebelumnya. Namun, sayangnya kamu tidak akan menemukan aku di sini, dalam surat ini ataupun di mana pun.

Luka yang kamu berikan begitu dalam bagiku. Aku tahu bahwa tidak pantas mengatakan kamu jahat, karena sebenarnya dalam benakku, akulah yang jahat. Itulah sebabnya aku memilih untuk menuliskan surat ini. Ketika kamu membacanya, mungkin kamu tidak akan pernah melihatku lagi. Tidak perlu mencari ke mana aku pergi. Aku tidak ingin ditemukan. Selama lima tahun ini, tidak ada "tamu" yang kamu maksud. Yang ada hanya sekumpulan serangga dan nyamuk yang mengangguku.

Aku mencintaimu, Alina. Bahkan lebih dari yang kamu tahu. Rasanya mustahil bagiku untuk menemukanmu. Dan jika aku melakukannya, aku yakin kamu akan menghindariku. Aku masih ingat ketika dulu kamu takut melihatku. Kamu berteriak dan menyuruhku berhenti. Kejadian lima tahun yang lalu itu masih jelas terpatri dalam ingatanku saat kita berpisah. Luka itu benar-benar menghantui lubuk hatiku.

Sekarang, jalani kehidupanmu yang baru. Aku tidak tahu apakah saat ini kamu bersama suamimu, di sekolah anakmu, atau bahkan surat ini tidak pernah sampai kepadamu. Mungkin saja surat-surat ini tertimbun di reruntuhan akibat pembangunan yang sedang berlangsung di tanah ini.

Sampai jumpa, Alina ku. Kamu yang tidak pernah menjadi milikku, tapi akan selalu aku kenang dalam diamku, di saat aku mungkin sendiri, bersama keluargaku, atau bahkan saat bertemu Tuhan.

Alina tak sadar air mata membasahi pipinya saat membaca surat itu. Nafasnya yang mulai tersengal-sengal menandakan betapa surat dari Sekala begitu mendalam bagi dirinya. Di dalam hatinya, penyesalan yang dalam tumbuh karena mungkin dia tidak akan pernah bertemu Sekala lagi.

Rumah Rindu Pemilik

Lapuk bagai tak berpenghuni,

Itu isi hatiku saat takda kamu.

Gundah hatiku jika sunyi,

Bersamamu kenangan itu pergi.

Ada yang pergi dengan tangis,

Tapi kamu pergi dengan amarah.

Aku menantimu di balik pintu,

Yang tak kunjung 'mu buka.

Cinta yang katanya sepaham,

Mengapa rindu tak menjelma wujud?

Alina, sang pujaan hatiku.

Setelah menutup surat kedua berupa puisi dari Sekala untuknya, Alina membaca surat terakhir yang singkat namun begitu menusuk hati. Dengan tarikan napas panjang, dia melanjutkan membacanya.

Alina

Aku mencintaimu, bahkan sampai kapanpun itu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@nagitan : Terimakasih banyak Gita 🎉
karena rumah yang sebenarnya adalah dia yang mau menerima kehadiran dan kepergian kamu sekalipun kamu membuat hancur rumah itu. Keren sekalii alii 🙌🏻
@shadowalker15 : Waduh, engga tahu juga bang. Kebetulan aja bawangnya ada sendiri 😇
Siapa yang taruh bawang di sini?
Chuaks
Semangat lupp, ditunggu chapter 2 nya ya 🌷
sedih🥹