Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
28
Bukunya Sampai, Harapannya Usai
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sejak hari itu, aku telah membuat keputusan. Buku yang sudah sebulan mengendap, terkubur di antara buku kuliah yang tebal di pojok kamar. Akan segera aku kirimkan. Aku membelinya dengan cara tak biasa, pengalaman baru yang sebenarnya ingin kunikmati sendiri. Namun, diam-diam kuselipkan namanya di antara niat itu. Bukan. Bukan ingin terlihat berjuang, aku hanya ingin memberi dengan cara yang paling tulus yang aku bisa.

Ternyata, rasa percaya diriku saat itu bisa luruh seperti debu. Satu per satu, pertemuan yang batal dengan alasan yang sama kian mulai kuat menggerus harga diriku. Mungkin harusnya aku sudah kecewa untuk kesekian kalinya. Atau mungkin, aku saja yang telah berekspektasi lebih. Seharusnya, aku tidak perlu melakukan hal yang tidak pernah ingin dia usahakan. Rasanya semakin membuatku merasa relate dengan lagu Nala milik penyanyi Tulus. Menunggu di balik pintu yang tak pernah diketuk, mengenakan pakaian terbaik yang perlahan luntur warnanya.

Tahun lalu, kukira percakapan yang kembali terbangun seperti kembang api nan indah, terang, seolah berubah menjadi bom yang menghantam. Lalu setelahnya, ia lenyap dan hilang. Aku baru sadar, kehilangan diri sendiri lebih terasa menyakitkan dibandingkan kehilangan dia yang berlari ke sana ke mari. Dia tidak sedang tersesat, mungkin saja dia sedang memilah, mencari mana yang paling pas untuk dunianya. Dan hal yang paling menyakitkan sekali saat itu, aku harus mengakui bahwa yang pas menurutnya itu bukan aku.

Aku menghela napas panjang, mencoba mengeluarkan sisa-sisa angan yang masih tersangkut di dada. Ternyata bahasa yang manis di antara kita tidak serta-merta menjamin akhir yang romantis. Kita hanya dua manusia yang tak sengaja bertabrakan di kala sepi dan lelah. Aku saja yang terlampau jauh menerbangkan angan, hingga aku lupa bahwa cerita indah ini hanya fiksi yang kutulis sendiri di kepala. Mungkin benar, bukan salah dia. Hanya saja kepercayaan diriku padanya yang terlampau jauh, hingga merasakan kehilangan sendiri.

Sampai buku itu akhirnya sampai di tangannya, aku berharap ada sesuatu yang melegakan. Terlepas dari angan yang terus aku terka. Terlepas dari harapan yang seolah ingin aku tulis indah di kepala. Namun yang aku dapatkan hanya kehampaan. Semua terasa hambar, justru semakin mengecewakan. Saat dia seolah hanya beralasan ingin melakukan hal yang sama. Padahal, aku tahu. Itu hanyalah basa-basi saja yang justru terdengar seperti sembilu. Jika dia memang berniat, dia takkan membiarkanku menunggu di ruang hampa sepanjang ini.

Kini, aku memilih mundur. Bukan karena benci, tapi aku ingin pulang ke diriku sendiri. Meski jujur, hatiku masih tersentak saat tahu pada akhirnya, dia telah membuka hati kembali. Senang mungkin rasanya saat dia tidak larut terjebak di masa lalunya. Ironisnya, itu bukan aku dan tidak ada cerita untukku. Aku akhirnya paham, bahwa yang datang hanya sebagai pengingat. Satu-satunya orang yang tidak boleh aku tinggalkan adalah diriku sendiri.

"Terima kasih, kamu."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi