Di waktuku sekarang larut malam. Del sudah terlelap, tapi aku tahu kalau sebentar lagi dahinya mengerut, gigi bagian atas dan bawah menyatu erat, bibir melebar ke samping. Keringat dingin akan bermunculan.
Ya, aku tahu segalanya.
Bagaimana bisa?
Kalau aku menjawab itu, artinya kamu akan tahu pula siapa aku. Maka jika sudi mari duduk sejenak demi menyimak apa yang mau kuceritakan. Hei, bukankah kamu juga butuh beristirahat dari segala aktivitas? Ini waktunya. Sediakan teh atau, kopi yang punya ciri khas asam untuk menemanimu duduk.
Pertama, akan kuperkenalkan Del dan orang yang telah membuatnya kesakitan. Sakit dari luka menganga sampai dia tidak bisa tidur tenang lebih lama karena gadis bernama Asna itu. Kamu boleh mengganggap Asna karakter antagonis dalam sajian ini, tapi ingat bahwa interpretasi bisa berubah kapan saja, betul?
Seseorang akan merasa kesal jika pesan singkatnya di ruang obrolan tidak kunjung dibalas, sama seperti Del. Hanya saja belakangan Del menjadi lebih pasif. Dia terus mengirim pesan kepada Asna walau tahu tidak dibalas. Tidak akan pernah.
"Mungkin masih kerjain tugasnya," gumam Del usai satu pesan dikirimkan berisi; As, sudah makan? Kendati pesan itu termasuk remeh, tapi kutahu Del mengirimnya dengan penuh perhatian.
Tugas akhir di bangku kuliah memang melelahkan. Del pernah merasakan itu dua tahun lalu, maka dia coba memahami Asna. Hari-hari yang berlalu, ada puluhan pesan Del yang tidak terbalas. Bodohnya Del tidak pernah marah atau berhenti dengan dalih rasa cintanya selalu mekar hanya jika mengingat gadis manis pemilik gingsul.
Kamu berpikir, Del sebatas laki-laki yang cintanya sepihak? Salah. Karena kenyataan mereka akan merayakan empat tahun hari jadian sebagai sepasang kekasih dua hari lalu. Taman kota yang teduh menjadi pilihan mereka merayakan.
Kamu nggak lupa sama janji ketemuan kita, kan?
Jangan lupa lagi....
Dengan tampang putus asa, Del mengirim pesan yang lagi-lagi tidak dibalas. Jangankan dapat balasan, mendapati centang dua berwarna biru saja tidak. Centangnya selalu satu, tapi Del tidak menyerah. Dia akhirnya menghubungi sang pujaan hati, dan justru operator yang menjawab teleponnya.
Haha, dia bodoh. Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada pesan balasan dari Asna. Bukan karena tak lagi cinta, lebih-lebih gadis itu punya lelaki lain. Klise. Sudah satu bulan Del tidak bertemu Asna. Pertengkaran soal manajemen waktu menjadi yang terakhir.
Asna yang terlalu sering ingin bertemu, dan Del yang selalu sibuk tentang segala urusan pekerjaan. Sebagai editor naskah di salah satu penerbit besar, Del dituntut untuk selalu fokus. Dia tidak bisa membuang waktu sejenak menanggapi rengekan Asna. Sore itu, Del berjanji akan menjemput Asna di kampusnya, tapi Del justru membatalkan sebab ada banyak naskah lomba yang diadakan penerbit menuntut untuk diperiksa sebelum deadline.
Esok paginya di waktu sedikit senggang sebelum memulai berhadapan komputer, Del menghubungi Asna. Justru nomor tak dikenal yang menyebutkan dirinya sebagai kakak Asna mengirim pesan teks bahwa sang adik telah di sisi Tuhan. Akan dimakamkan hari itu. Asna mengalami kecelakaan. Angkutan umum yang ditumpanginya ditabrak truk dari depan sebab tidak menjaga jarak.
Makanya tadi kubilang bahwa Del bodoh. Dia mengulang sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Semua sudah berakhir sejak itu, tapi Del terus mengirim pesan seolah menyampaikan rasa bersalah sebab mengabaikan Asna bahkan di detik-detik akhir napas gadis itu. Walau Asna tidak lagi membalas, dan Del merasa sudah banyak diabaikan, tetap semua tidak lagi sama.
Otak manusia memang selalu cepat merekam hal-hal buruk. Paling bodoh, Del menganggap bahwa Asna masih ada. Masih mengharap satu pesan teks berisi rengekan Asna ingin bertemu sebab rindu.
Laki-laki itu mulai membuka mata sekarang. Keringat dingin yang membanjiri tubuh diabaikan. Mengambil ponsel di atas nakas, lantas mengirim pesan ke nomor Asna.
Na, aku mimpiin kamu. Besok kita ketemu, ya?
Kamu jangan lupa lagi. Di tempat biasa.
Kadang, Del berpikir kalau Asna adalah gadis pelupa. Namun, sebetulnya dia yang belum lupa, tapi tidak mau mengakui bahwa Asna telah tiada.
Baik, kamu semakin ingin tahu siapa aku, dan bagaimana aku tahu, 'kan? Aku, bagian dari Del.
Bagian dari kenangan pahitnya.
Aku tidak akan memberi kalimat bernada inspiratif atau menasihati kamu yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan memahamiku sebagai kenangan. Apalagi mengatakan harus menghargai waktu jika tidak mau menyesal mendatangimu. Karena kamu pasti sudah paham itu. Toh, walau aku mengatakan kata-kata nasihat sekalipun, kamu tidak akan tergugah jika kamu tidak ingin. Kamu akan melupakannya.
Sebagai cendera mata, aku cuma akan memberimu kata ini; hidup terlalu singkat. Maka sebagai penghargaan untukku, ingatlah tentang kisah Del. Bagaimana Del yang hidup tak ubahnya bangunan setengah jadi penuh tanaman liar berduri.