Banyak hal yang harus diceritakan dalam satu hari, karena menikmati hari adalah tugas tersulit dalam hidup. Terkadang dipertemukan dengan kebahagiaan, kejadian tidak terduga, atau mungkin kesialan. Rasa lelah terlihat begitu jelas pada wajah Hana, ia menidurkan kepalanya di atas meja. Lulu membawakan Hana air minum dan Ujang membeli mie kuah rasa soto untuk dirinya sendiri. “Sudahlah, minum dulu!” suruh Lulu.
Hana pun membangunkan kepalanya, lalu meminum air sampai setengah botol. “Haus, Neng?” tanya Lulu sambil membuka ponsel.
“Pusing sekali, aku dihukum karena tidak mengerjakan tugas,” keluh Hana sambil menutupi wajahnya.
“Mengeluh bukan jalan keluar,” seru Ujang.
“Jadi harus gimana?” tanya Hana, ia berharap Ujang memiliki ide bagus.
"Kerjain!”
Hana semakin kesal. “Aku harus buat rangkuman satu bab dalam semalam ini. Bayangkan, besoknya harus dikumpulkan.”
“Ya, gimana, ya. Mendingan kerjain aja,” jawab Lulu sambil fokus main ponsel.
Hana merengek, dirinya mau menangis, tetapi sadar kalau menangis tidak akan membantu apapun.
“Heh, Hana,” sahut Ujang. “Kita tadi ditanya waktu ada guru BK ke kelas. Ibu Cantika nanya tentang cita-cita di masa depan. Kamu mau tahu si Lulu jawab apa.”
Hana mulai semangat karena Ujang mengoceh. “Apa?”
“Cita-citanya mau Bapak tersenyum.”
Hana tertawa karena merasa aneh dengan cita-cita Lulu. “Itu mah cita-cita aneh, emangnya Bapak kamu tidak bisa senyum,” ejek Hana pada Lulu.
“Ih, nanti juga kamu bakalan ngerti yang maksud cita-citaku ingin Bapak tersenyum,” jelas Lulu dengan wajah yang tidak menerima ejekan.
“Jadi ternyata ada orang yang phobia senyum, ya?” celetuk Ujang lalu diiringi tertawa.
Lulu mengelak, “ih…, kamu bukan gitu!”
Hana dan Ujang menertawakan Lulu. Hana berhenti tertawa ketika menerima sebuah pesan dari Mama yang menyuruhnya pulang. “Ya, maaf, ya, teman-teman. Aku izin pulang dulu, boleh, ya,” ucap Hana merasa tidak enak.
“Kenapa?” tanya Lulu, karena baru kali ini Hana pulang cepat.
“Mamaku mengirim pesan. Katanya, cepat pulang. Aku takut ada apa-apa,” kata Hana. Ia mengambil uang lima ribu rupiah dari tas dan memberikannya pada Lulu menggantikan air yang telah dibelinya. “Aku duluan, ya!”
“Hati-hati,” ucap Ujang dan Lulu sambil melambaikan tangannya.
Selama perjalanan pulang, pesan singkat dari Mama membuatnya berjalan agak cepat. Baru saja sampai di gerbang rumah, orang-orang langsung memeluk Hana, beberapa menepuk bahunya dengan halus menguatkan, beberapa mendoakannya agar menjadi anak yang baik. Hana merasa bingung dan aneh dengan apa yang terjadi, ia pun berjalan menuju ruang tengah rumah, di mana di sana seseorang tertidur rapi tanpa hembusan nafas. Ia menatap jam dinding yang tidak berdetik. Waktu dalam ponsel pun tidak sempat dilirik sama sekali. Beberapa orang mendekatinya bertanya, “kenapa Bapakmu meninggal?”
Hana tidak memerdulikan apa yang mereka tanyakan, ia memilih duduk di sampingnya sambil meraih tangan yang masih hangat. “Pergilah, carikan dokter!” teriaknya kepada seseorang yang belum sempat ia lihat, pandangannya hanya tertuju pada seseorang yang tertidur.
“Cepat!”
Di sekelilingnya, saudara-saudara berdatangan dan menangis, ia benci tangisan seperti ini. Hana mencium telapak tangan yang tidak berdaya dari badan yang hampa. Hana menatap wajahnya lekat sekali, seperti tidak terjadi apa-apa hanya sekedar tidur. Hana bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Bapak sedang memimpikan hari-hari yang telah dilewati, apakah keindahan atau keburukan yang terlintas di matanya, apakah perjalanannya telah berakhir sampai sini?
Hana duduk menguatkan dirinya sendiri, di kala dokter memeriksa seseorang yang sudah tertidur pulas dan mulai rasa dingin menyebar ke seluruh badannya. “Sudah tidak ada, Neng. Ini pun badannya sudah dingin,” kata dokter, tetapi Hana tidak memercayainya.
“Tapi tadi masih hangat, Dok,” senggah Hana.
“Sudah tidak ada detak jantungnya, Neng, bahkan nadinya pun sudah tidak berdenyut,” jawab Dokter perlahan dengan nada mengalun.
Dada terasa sesak, kedua matanya menitikkan air, terdengar Dokter mengingatkan, “Awas, Neng, air matanya jangan jatuh ke tubuh mayit!”
Hana cepat-cepat mengusapnya, lagipula ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis. Hana mencium tangan Bapak, lalu mencium kedua pipinya, dan mengusapnya.
“Pak,” lirihnya dan tiada jawaban. “Pak.”
Tetap tiada jawaban yang didapatkan hanyalah keheningan. Bapak yang selalu berbicara lebar menceritakan kehidupannya yang penuh pengalaman, kini terbaring tanpa suara.
Kedua mata Hana terbelalak sambil memandangi jasad tanpa ruh. Langit-langit rumah berasa roboh menimpa tubuhnya. Kedua telinga Hana tidak henti-hentinya mendengar tangisan yang berasal dari Mamanya. Tubuh Hana mematung, kedua matanya terlihat masih memandang jasad Bapak. Pikiran Hana kalut dengan ribuan pertanyaan, apakah selama ini ia cukup berbakti, apa selama ini tahu kalau ia menyayanginya, dan bagaimana hidup berjalan tanpa ada Bapak. Ribuan pertanyaan membuatnya tidak menggubris siapapun yang mendekatinya, bahkan ia tidak menyalami orang lain.
Di pagi hari, matahari tidak memberikan sinaran kuningnya, Hana melihat Bapak yang wajahnya abu pucat dengan lendir menginap di bibir. Hana tersenyum memandangnya. Saudara-saudaranya menutup kain kafan pada wajah Bapak, lalu dipindahkannya ke dalam keranda. Berjalanlah mereka menuju ke pemakaman yang jaraknya agak jauh dari rumah. Di pemakaman, hiruk pilu terasa dalam ketika adzan dikumandangkan. Hana sambil memeluk dirinya sendiri, kedua matanya tegar menyaksikan bagaimana Bapaknya ditimbun tanah.
Lulu dan Ujang menghampiri Hana, mereka berdua memeluk Hana, terasa sekali pundaknya runtuh. Lulu dan Ujang tidak menanyakan kenapa Hana tidak memberi tahu berita duka ini atau menyuruh Hana bersabar atas cobaan yang ia lalui sekarang. Mereka berdua lebih memilih diam.
“Lu,” gumam Hana.
“Ya?”
“Maafin aku, aku sudah menertawakan cita-citamu kemarin,” lirih Hana tak berdaya.
“Jangan dipikirin,” seru Lulu.
“Sekarang aku paham, Lu, aku paham,” ucap Hana, terlihat air mata menggenang di kedua matanya. “Sekarang aku juga bercita-cita ingin Bapakku tersenyum.”