Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dari cincin ini.
Aku tebak, dulunya pasti ia berwarna emas terang—meski aku tak tahu pasti apakah itu benar-benar emas atau hanya sekadar kilau yang menipu.
Mataku terus tertuju padanya.
Hiasan kecil dengan dua bundaran halus di tengahnya itu seolah mencuri perhatianku sejak pertama kali ditemukan. Tergeletak di antara kertas-kertas usang dalam lemari tua di sudut rumahku.
Awalnya kupikir, tak ada apa-apa di sana selain debu dan kenangan yang terlupakan. Tapi cincin itu berbeda.
Tanpa banyak pikir, kucoba memakainya.
Terlalu besar di jari manis.
Terlalu longgar di jari tengah.
Hingga akhirnya berhenti di jari telunjuk.
Pas.
"Cantik..." Gumamku pelan.
Entah kenapa ada rasa aneh ketika cincin itu melingkar di jariku.
Seolah ia rindu akan suatu jari, tempatnya bernanung.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, merapikan lemari itu.
Satu persatu kertas yang berserakan mulai kususun.
Hingga sebuah keetas tua terlipat jatuh ke pangkuanku.
—Selasa, 15 Oktober 2002
Atas nama Sari
Tanganku terdiam.
Nama itu... tidak asing
Kali ini, aku menatap cincin di jariku lebih lama.
Warna emasnya memang telah memudar, tapi hangatnya terasa semakin nyata.
Cincin ini bukan sekedar benda yang kutemukan di lemari tua.
Ia seperti membawa pulang sesuatu yang pernah hilang—
Sesuatu yang tak sempat ku kenal sepenuhnya.
Suatu benda yang dahulu ditinggalkan oleh tuannya. Dan kembali menemukan tempat ia bernaung—
Jari telunjuk yang merupakan jari dari anak tuannya.