Suara mengeong kucing liar selalu terdengar di ujung jalan. Mereka selalu berkumpul untuk menunggu makanan dari Ambar, si pecinta kucing yang juga tinggal di ujung jalan. Dia selalu membagikan makanan kucing yang ia beli pada kucing liar dengan alasan terlalu banyak membeli jika hanya untuk kucing di rumahnya.
Setelah beberapa hari, ada kucing berwarna putih oranye yang selalu datang ke tempat makanan dibagikan sehingga menarik perhatian Ambar. Ambar menatap lama kucing itu dan membuat keputusan, “Aku harus membawa kucing ini!”
Ambar pun membawa kucing itu ke kosannya. Kosannya cukup gelap karena semua tirai di rumah itu ditutup.
“Oke, kamu tinggal disini aja ya.” Ucap Ambar sembari menurunkan kucing itu dari pangkuannya.
Ambar melihat ada sisa pizza di atas meja dapur dan memakannya. Kucing itu datang dan mengelus-elus kepalanya ke kaki Ambar.
Ambar menatap mata kucing itu sama seperti kucing itu menatap matanya.Lalu ia berjalan ke depan untuk menghidupkan lampu tapi tersandung dengan benda yang samar terlihat.
Di depan tombol lampu, ia berkata kepada kucing itu “Maaf ya, kalau disini aku tidak bisa memberimu makan. Karena jika iya, mereka akan marah.”
Saat lampu hidup, terlihat puluhan kucing yang kondisinya mengerikan. Beberapa ada yang sudah mati dan dibiarkan begitu saja dan beberapa lainnya terlihat sangat kurus sampai kita bisa melihat tulang-tulang menonjol dari balik kulit yang tampak bergetar karena kelaparan.
“Kenalin, ini teman-temanmu. Baik-baik ya sama mereka” Ambar tersenyum kepada kucing malang yang baru datang.