“Bang, sepatu itu bagus ya.” Riki memperhatikan toko sepatu yang ada di pinggir jalan. Sudah beberapa hari ini aku lihat Riki sering melamun di depan toko itu memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dengan sepatu baru. Kelihatannnya sepatu berwarna merah yang ada di lemari kaca itu sudah menarik perhatian Riki.
“Ya, memang bagus. Kau mau sepatu itu?” tanyaku pada Riki yang langsung dibalas dengan penolakan. Dia beralasan dia tidak membutuhkannya padahal aku yakin ada alasan lain yang membuat dia menolaknya. Sebentar lagi Riki ulang tahun dan aku yakin sepatu akan jadi hadiah yang bagus!
Keesokan hari aku memberikan kantong berisi penuh rongsokan yang selalu kubawa untuk bekerja pada Riki. Ia merogoh-rogoh ke dalam kantong tersebut dan mendapati sepasang sepatu merah yang selalu dilihat Riki. Riki melompat kegirangan, “ terima kasih bang, tapi kenapa wajah dan badanmu penuh babak belur?”