Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
17
Sapu Lidi dan Meja Judi
Religi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Seorang lelaki mengendarai motor sport menoleh ke arah Ridwan yang sedang melamun di depan masjid, seketika ia memberhentikan motornya di depan masjid.

"Wan–Iwan," panggil lelaki tersebut. Ridwan menoleh ke arah panggilan, ia mengerutkan dahi, lalu terkejut.

Bibir Ridwan bergetar, "Yuda," lirihnya tercekat. Ini yang ia takutkan, seseorang dari kampung halamannya datang.

Yuda menghampiri sambil bertepuk tangan, "Gua nggak nyangka, Ridwan dewa judi ada di depan masjid." Ia berhenti di depan Ridwan yang duduk di serambi, mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah rekaman seorang gadis yang sedang bersimpuh.

Aku... Aku butuh... butuh... " Belum sempat menyelesaikan ucapannya, gadis cantik itu menunduk dan menyesal.

Ridwan hanya mengepalkan tangan, mukanya memerah, tubuhnya bergetar.

Yuda melihat dengan sinis, "Kenapa diam?! malu atau marah."

Ridwan mengangkat kepalanya perlahan, matanya balas memandang tatapan Yuda, "Tolong, jangan begini! Putriku tidak bersalah." Suaranya parau tercekik.

Yuda membungkukkan badannya berbisik di telinga Ridwan "Lu kira semua bakal selesai, hanya dengan minta tolong," bisiknya, lalu melangkah berbalik tanpa menoleh sedikitpun. Yuda menstarter motor, memainkan gasnya lalu melajukan motornya dengan kencang.

Ridwan menghembuskan napas lega, tangannya masih bergetar, ia memegang dadanya yang terasa sesak.

"Kamu mengenalnya kawan?" pertanyaan itu meluncur langsung dengan suara bariton, ketika pintu berlapis kaca tebal terbuka.

Tanpa menoleh Ridwan mengangguk, "Ya, aku kenal, dulu temanku, tapi–" Ridwan bangun mengambil sapu lidi, mulai menyapu halaman masjid yang mulai kotor.

"Hey, tapi apa?"

"Jhon, sudahlah! Aku tidak mau... membahas masa lalu."

Pria yang dipanggil Jhon itu bersiul, lalu berbisik lirih. "Tapi kita masih hidup dari pecahan masa lalu.... semalam kau menguras habis kantongku."

Ridwan tertawa keras, sampai sapu lidi yang dipegangnya, bergetar.

"Asal kau tahu Jhon, orang tadi suruhan musuhku."

"Ikut, Jhon!" Ridwan melempar sapu lidinya, lalu berjalan ke pinggir jalan raya, menaiki angkutan umum ke arah kota.

Tak lama mereka berdua tiba di depan sebuah gedung tinggi, Ridwan memasukinya tanpa ragu setelah melihat balasan chat di ponselnya.

Dari kejauhan terlihat papan nama terpasang di pintu kaca, mereka menuju ke sana, langkahnya cepat, ia ingin melihat sosok dibalik tulisan "Komandan dan Direktur Utama" di dinding pintu kaca berjarak tidak lebih dari dua meteran.

Ridwan menarik napas, lalu mengetuk pintu perlahan.

"Masuk!" Suara dari dalam menjawab ketukannya.

Ridwan membuka pintu dan terkejut orang yang disebut Komandan adalah Yuda yang bertepuk tangan.

"Selamat datang kembali, Dewa Judi, mari kita bertaruh untuk nyawa putrimu."

Jhon memegang lengan Ridwan, "Maaf sobat, tapi aku tidak pernah bisa menerima kekalahan semalam." Ia berkata dengan nada sinis.

Lutut Ridwan bergetar, "Bagaimana dengan taubatku?!" lirihnya.

Udara berhembus kencang melalui jendela, membuat kertas-kertas berhamburan.

Taubat itu pengamalan bukan hanya sebuah pengakuan.

---

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi