Pasukan Rompi Cokelat
Karya: Abhyasa Putra Firmansyah
Bunyi bel mengubah suasana Madrasah, pukul 09.20 semua war jajan di kantin, tapi tidak dengan aku dan tim kader literasi Refah Islami yang pada hari itu akan study ilmiah ke kota brownies, Surabaya.
“Di sebelah kiri kita adalah asrama China.” Jelas Kyai Farid.
“ha?”, aku melihat terpukau tapi sedih, dalam batin dan benak terlintas fikiran tanahku terasa masih dijajah dengan cara smooth.
Kanan kiri bangunan tua, seni arsitektur berkelas dominan putih emas, laksana kerajaan Inggris-Belanda.
Aku tidak lagi ada dimimpi tidur pagi, ini pun bukan imajinasi. Wah, pensil raksasa! Di balik ukiran dinding kisah peperangan ada pensil besar di dalamnya, dinding itu tingginya melebihi manusia pada umumya.
Pasukan rompi cokelat antusias ingin memasuki dinding tebal itu.
“Lihatlah ada dua orang berdiri gagah berpeci dan membawa buku.” Ucap salah satu anggota kader literasi.
Ah! Sudah tak asing lagi, ia berdua adalah presiden dan wakil presiden pertama negara juta rempah ini.
Mobil Bung Tomo, tembak, peluru, pakaian perang, mata uang kuno sebelum merdeka, bambu runcing, bahkan suara asli orasi Bung Tomo, lengkap menghidupi suasana museum 10 Nopember.
Saat senja datang pasukan rompi cokelat siap berperang, berperang melawan malas menulis, maka dari itu pasukan rompi cokelat menuju markas tercinta panglima literasi.
Ya, panglima literasi. Karena beliau memotivasi kami dan menunjukkan strategi berperang melawan overthinking dan rasa malas saat menulis sebuah karya. Markasnya sederhana tapi kaya buku kreasinya.
Tamat.