Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
3
Raja Kecil
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Suamiku sukanya makan. Makannya lahap. Sarapannya sekitar lima porsi. Aku masak capcay, kangkung balacan, ayam pop, rendang (tadi ada sisa sedikit di kulkas), jamur krispi, cumi goreng tepung, udang mayo, kepiting saus padang, dan lain-lain. Kadang makananku juga direbut, karena cara makanku lama, begitu katanya. Aku tak bisa marah, aku sayang padanya.

Setelah itu dia berangkat kerja sekitar pukul tujuh, tepatnya tujuh lewat lima. Mengendarai mobil SUV model terkini yang tempat duduknya tinggi, dan orang-orang sampai tidak terlihat di kaca depannya karena tertutup bodi mobil yang besar.

Suamiku kerja di kantor yang tinggi. Semua orang menghormatinya. Menyapanya, menyalaminya. Suamiku di kantor sibuk untuk berkaca, merapikan dasinya, dan selalu bilang kepada asistennya, “Aku ada meeting besar hari ini sama pimpinan,” begitu kata asistennya padaku.

Suamiku pintar, dan suka juga bila dipuji pintar. Dia suka bilang, “Gimana sih kamu! Gini aja ga bisa?!” Pada bawahannya bila tak sesuai keinginannya. Begitu pula kata asistennya padaku.

Suamiku selalu bilang IQnya sekitar 157. Aku cuma 127. Cukup rendah. Makanya tak heran suamiku selalu heran jika aku mengutarakan pendapat, “Kau ngomong apa sih? Ga jelas!” atau “Masa gitu aja ga ngerti!”

Suamiku suka minum. Minum air, bir, anggur, tuak, dan sebagainya. Tidak habis-habis. Rekor terbanyaknya minum es teh manis, sekitar tujuh gelas. Kadang minumanku juga ia rebut. Aku tak bisa marah, aku sayang padanya.

Suamiku tak bisa ke mana-mana tanpa aku. Itu aku suka. Seringnya dia berkumpul bersama teman-temannya yang pintar-pintar. Meskipun teman-temannya kadang tidak sabar melihat kekikukanku, dan beberapa teman-temannya menganggapku ‘Si Lamban’, atau ‘Si Ceroboh’ ketika aku tidak sengaja menumpahkan minumanku atau jalanku yang agak pelan ini. Aku tak bisa marah, aku sayang padanya.

Suamiku baru pulang main golf. Lapar katanya. Aku mendekat dan menyalimi tangannya. Aroma parfum wanita. Dia langsung ke meja makan, sambil marah-marah karena dia gagal deal dengan calon kliennya.

“Lamban banget sih!” protesnya ketika aku berusaha menyeimbangkan tujuh piring di sepanjang lenganku yang berisi macam-macam makanan. Sop konro, coto, soto betawi, mi rebus, ayam gulai, telur dadar, sambal cumi. Lalu aku bergegas menuju dapur membawa apa pun yang bisa aku bawa. Sop bening, sop jagung, capcay, kangkung saus tiram, bayam, ikan asin.

Meja makan yang tadinya kosong jadi lapar. Tiga belas porsi makanan sudah habis. Hampir dua minggu persediaan lauk pauk juga sudah habis. Suamiku minta lagi, sambil membanting gelas ke empat puluh tujuhnya. Aku bilang hampir tidak ada bahan makanan. Semua toko sedang tutup, karena semua pedagang mogok jualan. Pasar juga jauh dari rumah.

Dia tidak peduli. Akhirnya aku masak tanganku. Berharap dia suka.

Suamiku suka. Kemudian aku masak kakiku yang satu. Dia juga suka. Dia makin lahap. Tatapannya lapar memandangku.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi