Disukai
0
Dilihat
26
kota ini tak sama lagi
Aksi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sore itu, angin bersenandung pelan, menggoyangkan lampu yang remang-remang bercahaya, meliuk-liuk melewati gedung-gedung perkantoran, apartemen, hingga sampailah ia di rumah kos sederhana, tak jauh dari pusat kota.

Drrttt, alarm HP berdering nyaring, berusaha mengalahkan kebisingan di sekitarnya, tapi tetap saja kalah.

“Mas, risol mayo 3 ya... bungkus!!” teriak ibu-ibu paruh baya yang terjepit di tengah-tengah pembeli.

“Mas!! Aku udah antre 2 jam! Jadi aku duluan!! 10 risol mayo ya!” sergah ibu-ibu yang lain.

“Mas!!!! Pesananku yang tadi mana?! Udah dibikinin belum?!!” sela pembeli yang memang sudah pesan dari tadi, pesan 50 risol pula!

Lazuardi mulai kewalahan, walaupun sudah dibantu oleh temannya, Udin.

“Sabar yaa... antre,” ucap Lazuardi menenangkan pembeli sambil membolik-balik risol yang sedang berenang-renang di penggorengan.

Berselang satu jam, satu per satu pembeli terlayani, beringsut pergi, pulang ke sarangnya masing-masing sambil menenteng plastik berisi risol, bersiap buka puasa.

Lazuardi ber-puhh pelan, mengelap keringat di keningnya, membereskan dagangannya yang ludes diserbu pelanggan. Udin sibuk menghitung-hitung penghasilan mereka hari ini, matanya berbinar-binar.

Sebenarnya, bulan Ramadan ini Lazuardi dan Udin sedang libur kuliah. Daripada gabut, akhirnya mereka sepakat untuk berjualan risol di depan kos, yang alhamdulillahnya setiap hari ramai pembeli. Seperti hari ini, ini rekor terbanyak selama mereka berjualan, bahkan sampai ada yang tidak kebagian.

Lazuardi menghela napas, menyelonjorkan kakinya sembari menatap langit yang mulai menguning indah, seakan ada yang melukisnya. Indah bangettt.

“Din... lo sadar nggak?” tanya Lazuardi tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya, tetap menatap langit.

“Sadar apa? Sadar kalau aku ganteng banget? Ya sadar lah!” jawab Udin dengan tampang sok serius, sok kece, sok keren!! Padahal nggak sama sekali!

Drtt... drttt... alarm HP berbunyi nyaring untuk kedua kalinya. Setelah kesal dari tadi dikacangin sama yang punya, Lazuardi tersentak, merogoh HP di sakunya.

“Din... 15 menit lagi azan Maghrib. Ke taman kota yok, cari makan buat berbuka,” ucapnya sambil mematikan alarm. Rupanya itu adalah alarm pengingat bentar lagi azan Maghrib.

“Bentar ya, Dick, abang naruh ini dulu ke dalam kos,” Udin cengengesan, beranjak masuk kos sambil menggotong peralatan yang habis dipakai jualan.

Lazuardi berdecak sebal. “Aku bukan adik kau! Dan ingat! Aku lebih tuaaa!!!” ucapnya setengah berteriak, melangkah mengeluarkan motor ninjanya dari garasi. Motor Ninja? Ya iyalah! Lazuardi kan kaya, nggak kayak Udin, ups.!

Dreng... dreng... dreng... knalpot Ninja menggerung, sesekali diselingi siulan burung yang sedang santai bertengger di kabel-kabel listrik. Tapi kok bisa burung itu tidak tersengat listrik? Jujur saja, penulisnya juga bingung. Kalian jawab aja sendiri.

“Woiii!! Dinn!! Lama amatttt!!! Ngapain aja sih!!” teriak Lazuardi sambil menaiki Ninjanya. Padahal tinggal gas doang, tapi gara-gara nunggu Udin lelet, keburu mencair nih gunung es di Antartika. Eh, nggak nyambung ya? Disambungin aja ��

Kriet... pintu kamar terbuka perlahan, muncullah sosok pria anomali. Berjas hitam-hitam, bercelana hitam, sepatu hitam, berkacamata hitam, topi hitam pula. Wuihhh, gaya banget si Udin. Sampai-sampai kucing betina yang kebetulan lewat pun tersipu malu, salting lihat si Udin.

“Gyahahahahah!!! Ya Allah, Din... Din... kamu mau cari takjil apa ngelamar cewek?!!!”

“Heh!! Ini justru penyamaran agar orang lain nggak tahu kalau aku ini Ultramen,” jawab Udin bangga.

“Mulai ngelantur nih anak. Serah dah! Cepetan naik!!” balas Lazuardi, mendelik seram.

Udin malah nyengir. Ia segera duduk di belakang Lazuardi. Mereka berdua pun melaju perlahan menuju taman kota, melewati persawahan, rumah-rumah penduduk. Terkadang berpapasan dengan anak-anak kampung yang lagi mabar game online, entah Mobile Legend kek, Free Fire kek, pokoknya game online.

“Heh!! Musuh di sisi kanan!! Jangan sampai lolos!”

“Arghhh!! Aku mati, gob***!!” umpat salah satu dari temannya.

“Gyahahahaha!! Kamu sih mainnya cupu!! To***!!!” timpal temannya toxic.

Lazuardi geleng-geleng kepala melihat perilaku anak kampung zaman sekarang. enteng banget ngomong kotornya! Padahal apa coba untungnya ngomong kotor? Nggak ada, kan? Yang ada malah dosa. ANEH!!

“Din... lu sadar nggak sih kalau kota ini tak sama lagi?” tanya Lazuardi sedikit keras, berusaha menyaingi suara berisik knalpot motornya. Percuma motor mahal, tapi bikin pekak telinga orang!!

“Iya, Di... sejak Sarah pindah, kota ini tak sama lagi... huhuhu...” jawab Udin nangis, entah nangis beneran apa nangis boongan tuh botak.

“Bukan gitu maksudnya, kocak!! Gini aku jelasin. Inget nggak Ramadan pas zaman kita masih bocil, masih imut-imutnya? Ramadan tuh terasa seru banget nggak sih? Sore-sore kita main bola sekalian nunggu buka puasa. Pas azan Maghrib, kita bubar. Kumpul lagi habis tarawih, ngaji bareng, terus lanjut main. Main petak umpet, gobak sodor, kejar-kejaran. Pokoknya seru banget dah. Nggak kayak zaman sekarang, semua pada main HP sendiri-sendiri. Nggak asik!!!!”

“Setuju!. Asal kamu tahu ya, Di... dulu aku pernah main petak umpet malam-malam habis ngaji bareng. Nah, aku sembunyi di tempat yang gelap banget. Eh, tiba-tiba aku kepeleset terus masuk got. Hitam semua deh badanku. Tapi yang paling serem itu, di dalam got ternyata ada puluhan katak. Terus aku refleks teriak lah. Eh, malah disamperin satu kampung, dikira ada penculikan anak. Wkwkwk!!!!” celoteh Udin antusias.

“Eh, kamu takut katak, Ya Allah!!! Hahahaha!! Nanti pas nikahan kamu, aku bawain hadiah kotak isinya full katak yaa!!!!” goda Lazuardi sambil tertawa terbahak-bahak. Udin tuh gayanya doang yang banyak, sama katak aja takut. Dasar anomali!!!!”

“Heh!! Jangan lah!! Harga diriku anjlok nanti!” balas Udin takut.

Tak terasa mereka telah sampai di pusat kota. Pemandangan bukan lagi persawahan, melainkan gedung-gedung pencakar langit, perkantoran, hingga rumah-rumah besar.

Satu persatu lampu menyala, menerangi jalanan kota, menandakan tak lama lagi waktunya buka puasa. Wajah-wajah lelah para pekerja, wajah bahagia seorang anak ketika digandeng ayah dan ibunya berjalan-jalan mencari menu buka puasa, wajah sendu seorang remaja yang sedang video call dengan keluarganya di rumah. Ia berkata berkali-kali, “Maaf, Ibu... Ayah... aku belum punya uang untuk pulang dan berbuka puasa bersama kalian.” Ah... kebersamaan, tidak ada yang bisa melewatkan momen itu.

“Eh, Di!!! Itu ada tahu campur. Enak tuh. Kita bungkus dua ya, terus makannya di taman kota,” ujar Udin girang, menunjuk-nunjuk gerobak tahu campur di tepi jalan.

Lazuardi pun menepi, parkir tepat di sebelah gerobak tahu campur. Udin langsung lompat menghampiri penjual tahu campur, memesan dua bungkus.

“Eh... masnya intel ya?? Bajunya kok hitam-hitam semua??? Eh... maaf,” tanya si kakek penjual tahu campur dengan gemetaran sembari menyiapkan pesanan.

Lazuardi yang mendengar itu langsung ngakak. “iya, Pak!! Intel dia tuh!!!”

Udin mah nggak bisa ngapa-ngapain selain memelototi Lazuardi yang masih tertawa di atas motor. Salah siapa pakai serba hitam!!!

Di perjalanan menuju kota, udin sedari tadi ngomel ngomel nggak jelas, lazuardi menimpalinya dengan tawa yang lebih keras, tanpa sadar..

HUP!!

Kantong plastik berisi 2 tahu campur seketika raib dari genggaman tangan kiri udin.

“di!! Maling!! Kejar itu motor astrea! Tahu campur kita dicuri mereka!!” teriak udin histeris sambil menunjuk nunjuk motor astrea tua yang sedang meliuk liuk dengan kecepatan penuh.

Tanpa aba-aba, lazuardi langsung memacu ninjanya, tampa mengurangi kecepatan, dengan mudah ia menyusul astrea tua yang terkentut kentut, kini hanya selisih 1 mobil didepannya.

Lazuardi berusaha fokus, mengatupkan rahang, dan mulai menyalip mobil di depannya, tinggal sedikit lagi ia sudah bisa menangkap pencuri tahu campur itu, tapi takdir berkata lain, dari arah berlawanan, sebuah truk tronton melaju kencang, melihat lazuardi yang berada di jalurnya, truk itu pun mengklakson keras sekali, lazuardi tersentak kaget, dengan cepat ia mengerem dan kembali ke lajurnya, tidak jadi menyalip, udin pun terdiam syok, hampir saja mati!.

Untungnya motor astrea itu berbelok , masuk ke gang sempit dan gelap, lazuardi langsung membuntutinya, jadi tifdak sampai kehilangan jejak.

Semakin kedalam semakin gelap, lazuardi yang mengikuti motor itu seketika merinding, jangan jangan ini jebakan penculikan ?!!, atau ini desa seluruh hantu hanu yang ada? GAWAT!!

Tampak dari kejauhan sebuah gapura berdiri, bertuliskan “desa seribu harapan”.

Tepat setelah lazuardi melewati gapura tersebut, ia terbelalak kaget, matanya berkaca kaca, udin malah udah nangis dari tadi, sungguh! Ini pemandangan tak biasa.

Rumah rumah reyot berjejeran, tak layak disebut rumah saking jeleknya, bahkan ada yang runtuh separoh, sejauh mata memandang tak terlihat 1-pun seonggok lampu, hanya ada obor yang menyala merah, menyinari sekitar, di sepanjang jalanan, anak-anak kampung bermain riang, ada yang main bola, bentengan, lompat tali, lupa sudah kalau 3 hari mereka tak makan, kurus kering, para orang tua bersenda guaru tanpa beban, ah.. inilah keserhanaan, tanpa pusing mikirin makan, makan 1 x pun sudah bersyukur tak karuan, yang penting bahagia, nikmati, jalani, syukuri,

Motor astrea yang sedari tadi dikejar kejar tampak menepi ke sebuah rumah yang lebih pantas disebut gubuk, lazuardi perlahan mendekat

“YEYYY!!, abang pulang bawa makanan!!” teriak gadis kecil kegirangan, sampai lompat lompat saking senangnya.

“iya nih.. abang bawa makanan, panggil semua temenmu kesini ya, kita makan bareng” ucap si pengendara astrea yang ternyata adalah abang dari gadis kecil itu.

Gadis itu pun berlari senang, memanggil teman temannya, lalu berkumpullah sekitaran 20 anak membentuk lingkaran, mengerubungi abang itu, 2 tahu campur buat 20 orang? Mana mungkin!!

Sebelum membagikan makanan, abang itu menatap lazuardi lamat lamat, seakan akan meminta maaf sekaligus meminta izin.

Lazuardi tersenyum, merelakan 2 bungkus tahu campur kepada mereka, inilah desa seribu harapan, ada ribuan harapan tumbuh di des aini, tanpa kecewa, menjalani hidup dengan Bahagia, secapek apapun kamu hari ini, hiduplah seolah doamu terkabul besok.

Lazuardi dan udin pun pulang, membawa pelajaran yang amat berharga.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)