"Dasar perempuan bodoh. Sudah tahu dia pria beristri, tapi masih saja kamu melebarkan kedua tanganmu, memeluk tubuh milik perempuan lain itu. Tubuh yang selalu dinanti kepulangannya di rumah. Tubuh yang dinanti kehangatannya. Tubuh yang tak lama lagi dipanggil 'ayah'."
Seperti itulah mantra yang ku ucapkan pada sosok di balik kaca. Pada bayanganku sendiri. Aku tidak berusaha membela diri. Mencintai seseorang yang sudah dimiliki orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Apa pun alasannya. Meski atas nama cinta. Aku tidak bisa sembunyi di balik rasa yang haram itu.
Jatuh cinta tak pernah salah memilih hati untuk disinggahi. Hanya saja, sering kali cinta datang di waktu yang tidak tepat.
Aku yang mencintainya.
Dia yang juga mencintaiku.
Perasaan yang tumbuh, tak akan mudah kau bunuh. Perasaan yang tulus, tak akan mudah pupus.
Tapi, demi Tuhan...
Aku juga tidak ingin bahagia di atas tangisan perempuan lain. Aku tidak ingin menghancurkan kehidupan orang lain. Anak yang masih di kandungan itu berhak atas rumah yang utuh, orang tua yang lengkap. Dia harus tumbuh dengan baik.
Kadang aku berandai-andai...
Andai dulu aku tidak jadi mengenalnya,
Andai dulu aku tidak membalas pesannya,
Andai dulu aku tidak menemuinya,
Dan andai-andai yang lain...
Sungguh, demi Tuhan..
Jika saat itu dia tidak kembali, mungkin lebih mudah untuk ku melupakannya.
Jika saja dia tidak mewajarkan cemburuku, mungkin perasaan memilikinya tidak pernah ada.
Perjalanan ini adalah perjalanan menuju kehancuran. Kehancurannya. Kehancuranku. Dan, kehancuran mereka yang menjadi korban keegoisan dua manusia yang saling jatuh cinta.
Sampai pada hari itu, hari dimana cinta yang untukku berubah menjadi benci. Aku yang memang sejak awal seharusnya tidak pernah ada di kehidupanmu, kamu hilangkan hari itu, malam itu.
Boom...
Kamu yang menyembuhkan luka, ternyata kamu juga yang membuat luka baru. Kamu yang memberi warna, ternyata kamu juga yang memudarkan warnanya. Kamu yang berjanji untuk selalu bersama, ternyata kamu juga yang meninggalkan.
Malam itu, aku hancur. Malam itu aku kehilanganmu. Dan malam-malam berikutnya, aku ditemani air mata berusaha menghapus kenangan-kenangan tentangmu. Tidur yang tak pernah nyenyak. Makan pun tak pernah enak.
Aku masih ingat, bagaimana tangan mu menggenggam tangan ku. Tepat saat kita sama-sama terlelap. Aku masih ingat, bagaimana tangan mu mengusap air mata ku. Aku masih bisa merasakan, bagaimana hangatnya pelukanmu. Dan, aku masih ingat, aroma napas dan tubuhmu. Aku masih ingat semua tentangmu. Aku masih ingat kesukaanmu. Pun dengan hal-hal yang kamu tidak sukai.
Katamu, aku harus hidup dengan baik dan bahagia. Katamu, aku tak perlu memikirkan kehidupanmu di sana. Bahagia atau seperti neraka. Bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia jika kamu tidak bahagia?
Jika saja malam itu, aku memilih untuk menerima kekalahan. Jika saja malam itu, aku berbesar hati untuk menanggung semua sakitnya sendirian. Mungkin tidak ada hati lain yang terluka.
Aku tidak membencimu. Pun aku tidak dendam. Aku hanya perlu waktu untuk menyeka air mata ku, lalu kembali menjalani hidup yang tak ada lagi kamu di dalamnya.
Tolong, jangan anggap aku wanita jalang. Aku hanya wanita yang ingin dicintai sepenuh hati. Dan, kebetulan itu kamu.