Reverse # 1 : 1998

·      Untuk Dhaka Fofana

 

 

Waktu terus menggulung ke belakang, ketika gedung pertokoan lima lantai itu mengisap gulungan asap hitam. Tampak beberapa orang lelaki tengah didorong mundur oleh mesin cuci dan kulkas yang bergoyang-goyang keasyikan di atas lorinya masing-masing. Gulungan asap hitam makin mengental, berebut masuk ke celah-celah gedung. 

Tepat di pintu masuk gedung, seorang lelaki yang belum bisa dikenali terkapar sendirian hanya ditemani sekotak kardus penyok di dadanya. Wajahnya tertutup patahan-patahan papan kapur yang siap beterbangan hampir tegak lurus di atas kepalanya.

Suara berderap meredam di lantai, ketika tepat belasan pasang kaki berlari mundur dari pelataran gedung mendekati arah pintu masuk. Mereka siap melenyapkan jejak kakinya masing-masing di perut dan wajah lelaki itu. Mereka terus berlari mundur. Terus mundur ke dalam, menjauhi lelaki itu.

Dengan sekali lompat, ingatan lelaki itu mulai berangsur pulih. Dia mulai mengingat-ingat sesuatu, lalu berlari mundurlah dia dengan kencang ke arah toko tempat di mana kardus penyok itu berasal.

Praaang! Prang!! Bunyi-bunyian seperti perang menyelimuti sekujur gedung. Pecahan gelas, percikan bensin, dan api menyatu sebelum terbang ke udara. Bidadari bersayap api terbang dari berbagai arah. Hujan ledakan turun dari langit, saat botol-botol berkepala api melengkung di langit. Suuuuing! Suing! Sekarang bintang-bintang terang beterbangan menggores langit kelam.

Air-air mulai berkejaran meninggalkan lantai dasar gedung. Sampah hitam serupa patung-patung kehilangan bentuk masih bertumpuk-tumpuk di dekat pintu mati. Sisa-sisa rongsokan hitamnya masih terpencar di antara pipa, dinding, dan langit-langit, jadi belum ada yang bisa dikenali bagian-bagian tubuh milik siapa saja itu semua.

Di lantai tiga pertokoan, kepingan-kepingan kaca berlompatan dari arah patung-patung arang berhias manik-manik. Mereka beterbangan di berbagai sudut. Hujan kristal adalah badai yang paling cepat reda di gedung itu.

Patung-patung arang itu menggeliat, kini menjelma orang-orang hitam yang mulai menguncupkan api sambil melepaskan sebagian arang di badan mereka masing-masing. Mereka berpencar sambil terus memancarkan sinar. Mirip kembang api saat malam lebaran yang dibawa anak-anak berlarian.

Air, kaca, dan sekotak kardus penyok telah menyusuri jalan kenangannya masing-masing. Mereka semua kembali utuh, dan sudah kembali ke tempat asalnya masing-masing. Begitu juga dengan lelaki itu. Dia tengah menghapus satu demi satu tapak kakinya di jalan aspal saat kembali ke tempat asalnya.

Orang-orang ke luar masuk rumah. Gang sempit jadi bertambah sempit ketika puluhan orang sibuk bergerak mundur sambil membawa barang-barang dan gerobak. Saat lelaki itu terus berlari mundur sampai di depan bedeng kontrakannya, langit beranjak terang.

Bedeng reot kontrakan lelaki itu menyambut dengan ramah, pintu tripleksnya masih dalam keadaan terbuka. Saat dia berdiri tepat di mulut pintu, sayup-sayup terdengar suara dari arah belakangnya. Setelah itu, bantal kempot di lantai semen terbang ke atas kasur. Sungguh sayang, dia tak bisa menyaksikan ada bantal kempot bisa terbang sendiri.

Ketika lelaki itu sudah berada di dalam bedeng, barulah suara tangisan perempuan itu mulai jelas terdengar. Sesampainya di dekat kasur, dia duduk sambil menemani istrinya yang sedang menahan rasa nyeri di bagian panggulnya.

Lelaki itu mencium perut istrinya. Lagi, dan lagi, dia menghapus jejak bibirnya di perut perempuan yang tengah membuncit itu.

517 disukai 30 komentar 21.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Cerita yang luar biasa. Audiens dapat dengan mudah terhanyut di dalamnya.
(disclaimer) Saya tak pandai menulis dengan baik, tetapi saya senang bercerita melalui tulisan. Oleh sebab itu, mohon maklum, komentar ini pun terlaksana atas kenekatan.
Entah kenapa kebanyakan penulis hebat tampaknya senang sekali menyiksa daya serapku yang terbatas, yang nutrisi sehari-harinya cuma mi instan.
Baru baca satu paragraf, saya langsung curiga, ini pasti tak boleh dibaca cepat-cepat. Andai kita tak berkawan (setidaknya sempat chit-chat), tentunya saya bisa langsung tulis di kolom kalimat singkat tapi manis tanda perkawanan... Keren, Mas Yesno!
Baiklah, saya baca pelan-pelan.
Hmm, kalimat-kalimat ini ternyata mundur, ternyata juga memaksa saya memunculkan gambar di kepala.
Akhirnya selesai. Belum! Untuk memastikan apa yang saya serap, saya pun mencoba membacanya lagi dari bawah ke atas.
Ini komentar saya.
Keren, Mas Yesno! Terimakasih telah membuat kepala ini berolah-raga.
Menceritakan tentang kejadian kerusuhan Mei 1998. Tapi ada keunikan dalam gaya bercerita, yakni memakai alur mundur atau return back. Bukan hal baru sebenarnya, karena dalam film-film juga dijumpai adegan mundur seperti dalam cerita ini. Namun kemahiran penulis cerita dalam menuliskannya patut diacungi jempol. Karya ini semestinya jadi pemenang utama. Karena unik dan beda. Selamat buat mas Yesno.
[sambungan] Sebagian cerita di dunia ini (kalau tidak semuanya), memakai konsep waktu linear. Tetapi, bagaimana jika segalanya tidak sesederhana itu? Bagaimana jika yang terjadi adalah yang Kak Yesno tulis pada cerita ini? Wow! Menurut saya, kisah yang baik selalu menginspirasi pembaca—saya, khususnya—untuk berkarya. Kisah ini adalah salah satunya. Membaca Reserve membuka banyak kemungkinan yang membuat saya taksabar untuk bereksperimen dengan berbagai pengalaman baru.
Aduh, saya menyesal baru (sempat) membaca FF ini sekarang. Jujur, karena terbiasa membaca cerita dengan alur linear (bahkan kilas balik pun linear dalam garis waktunya sendiri), saya tidak langsung memahaminya, apalagi menikmatinya. Saya harus membaca pelan-pelan sebelum gambaran utuhnya terlihat. Tetapi, bagai kepingan puzzle yang tersusun sempurna, ada kepuasan ketika saya berhasil memecahkannya. Setelah membacanya, selain terbayang salah satu film Nolan, alur mundur pada cerita ini mau tidak mau membuat saya teringat konsep waktu suku Bugis, yang—kalau saya tidak salah tangkap—tidak linear. Suku Bugis, konon, berjalan ke masa lalu dan memunggungi masa depan. Sulit dipahami, memang. Sampai sekarang saya belum mampu mencernanya.
Kenyataannya, ada banyak "konsep waktu" yang berbeda dari yang selama ini kita duga—atau bahkan jalani. Suku Indian Puri, contoh lainnya, hanya memiliki satu kata untuk "kemarin", "hari ini", dan "esok". Sebagi
Semua kata- katanya bertenaga. Selamat ya
tulisan yang luar biasa. lain daripada yang lain.👍👍
Tubuhku tak kuasa menopang berat dikepala yang terus menarik jatuh hantam lantai. Dua kata yang terbaca membayang dihadapan demi mengupas makna. Kalian tahu aku sudah seperti seorang pria berjalan dengan sebotol arak, terhuyung hantam apapun yang mengganggu kaki melangkah. Seperti itulah kenikmatan yang aku rasakan akan FF mas Yesno.
Terasa menyantap kenikmatan film Memento 🤩🤩🤩
Bukan tipikal flash story anak kekinian, tapi sy baru nemu naskah seantik ini. Congratz Kak!
Saran Flash Fiction