Centang dua

Untuk kesekian kalinya, aplikasi chat berwarna hijau yang digunakan hampir seluruh penduduk indonesia itu, kubuka. Namanya tertera di daftar teratas. Hanya centang dua bewarna abu-abu yang menghiasi chat terakhirku kepadanya, sebagai tanda ia belum membaca pertanyaanku.

“Kok ngelamun? Kesambet lo,” ujar salah satu kawan, sekaligus rekan kerjaku setelah ia berhasil memarkirkan 3 motor yang datang. Ya, kami hanyalah seorang tukang parkir, sebuah profesi yang kami ambil dengan terpaksa bukan karena pilihan.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala saja mendengar peringatan setengah bercanda darinya. Menyunggingkan bibir dengan harapan ada senyuman yang terbentuk di wajah. Ala kadarnya memang.

Mataku kembali terarah kepada smartphone hitam jadul yang masih menempel ditanganku. Sedikit berharap, gangguan dari kawan yang dipanggil Cak Jo itu, memberi cukup waktu baginya untuk membalas atau paling tidak membaca pesanku.

Sayang, nihil. Tidak ada perubahan berarti dalam chat kami. Aku hanya mampu menghela napas, untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Dalam hati aku berdoa, semoga,semoga dan semoga, ia segera membalas pesannya dengan jawaban yang melegakan, mengiyakan pertanyaan atau lebih tepat dibilang permintaanku ini. Agar besok aku memiliki cukup uang untuk melunasi tunggakan kosku yang sudah 3 bulan. Sebelum aku terusir dan mungkin harus hidup menggelandang.

7 disukai 3 komentar 1.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sedih banget, relate banget sama banyak orang. 😭
@lumbalumba14 : Semoga 🤭😅
Yah, semoga saja segera dibalas. Nggak enak nunggu sambil deg-degan ...
Saran Flash Fiction