Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
2,306
Balas Dendamku Pada Dunia
Misteri

Dua hari yang lalu, sahabatku tiba-tiba menghilang. 

Dia mendadak jadi orang paling terkenal di kota. Orang tuanya sering muncul di TV, menangis sembari meminta agar putri mereka cepat ditemukan. Hari ini pun, polisi datang ke sekolah untuk mengadakan interogasi demi mencari jejak keberadaan sahabatku.

Sahabatku, Hara, tiba-tiba mendapatkan perhatian dari orang-orang yang tidak pernah memedulikannya sebelum ini. Manusia-manusia busuk bermuka dua yang segera bersikap tak bersalah seakan-akan hilangnya Hara tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan mereka. 

Aku sahabat terdekat Hara, tentu aku tahu perangai asli mereka. Mau di sekolah ataupun rumah, Hara selalu mendapatkan perlakuan kejam. Tidak pernah ada yang berusaha membantu kecuali aku. 

Darahku mendidih setiap kali melihat mereka pura-pura ikut bersedih demi mendapatkan simpati. Aku muak. Persetan dengan mereka. 

Karena itu, ketika tiba giliranku untuk diinterogasi, aku membeberkan semuanya. 

Kuceritakan tentang orang tuanya yang sering mencaci dan memukul, tentang orang-orang yang merundung dan melecehkannya, tentang pihak sekolah yang selalu memaksakan penyelesaian secara “kekeluargaan”, cukup minta maaf dan masalah pun beres. 

Bagi orang-orang dewasa di sekitar kami, tampaknya harga diri mereka jauh lebih penting ketimbang seorang gadis yang hampir diperkosa oleh gurunya sendiri. 

Tak lupa kusampaikan juga bahwa terakhir kali Hara bersamaku, salah seorang perundungnya meminta ia datang sendiri ke belakang sekolah. Hara meyakinkanku untuk tidak ikut, kesalahan besar. Sejak saat itu, Hara hilang seakan ditelan bumi. 

Kisah tentang Hara juga aku unggah ke media sosial, dengan harapan para bedebah itu bisa mendapatkan sanksi sosial yang patut mereka terima. 

Satu hari setelah interogasi, polisi ternyata menemukan tubuh seorang perempuan terkubur di kebun belakang sekolah. Kondisi jasadnya rusak akibat dibakar, identitasnya sulit ditentukan. Namun, berkat kesaksianku saat interogasi dan juga keberadaan ponsel Hara yang ikut dikubur, polisi bisa menyimpulkan bahwa mayat itu adalah Hara. Kasus orang hilang pun berubah jadi kasus pembunuhan. 

Tidak hanya para perundung itu, orang tua Hara dan pihak sekolah juga ikut diadili karena dianggap turut andil dalam penyiksaan terhadap Hara.

Aku tertawa puas dalam hati. Semua sesuai rencana. 

*** 

Pemakaman Hara dilakukan dengan segera. Ketika semua orang sudah pergi, aku tetap tinggal di depan nisan yang bertuliskan nama sahabatku.

Tiba-tiba pundakku ditepuk. Aku menoleh, melihat Hara tersenyum dari balik topi dan tudung yang menyamarkan wajahnya. 

“Sudah selesai, kita berhasil,” kataku berseri-seri. 

Seminggu yang lalu, aku menemukan Hara hampir melompat dari jembatan tinggi. Mati-matian berusaha kuyakinkan dia untuk tetap hidup. Aku tak sanggup kehilangan Hara. Sahabatku pun menangis, berseru ingin balas dendam lewat kematiannya sendiri. Di situlah aku mendapatkan ide. 

Kukatakan kepadanya bahwa bunuh diri hanya akan disesali sesaat, kemudian semua orang akan melupakannya dan melanjutkan hidup seperti biasa. Kematian Hara hanya akan membuat kami berdua menderita. Satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menyeret para pelaku kekejaman ke neraka yang telah mereka ciptakan sendiri. 

Maka kami berdua merancang skenario pembunuhan ini. Kami mencari gadis asing dengan perawakan yang mirip dengan Hara, kemudian membakarnya hingga tidak bisa diidentifikasi. Sisanya mudah saja, aku tinggal memancing polisi untuk menemukan tubuh itu setelah menceritakan kisah perundungan Hara. 

“Inilah balas dendamku pada dunia.” Hara menyeringai lebar. Aku tertawa sambil memeluk Hara erat-erat.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Kasihan gadis yang jadi korbannya. 😢
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi