RACUT

Dalam suatu keheningan yang panjang, dari suatu alam yang gelap. Aku merasa disekujur tubuh hawa berubah dari hangat menjadi dingin. Getaran hidup itu beranjak dari telapak kaki menuju ubun-ubun. Sesaat setelahnya diubun-ubun nampak cahaya berwarna maya meninggalkan raga menuju ke suatu tempat sumber dari segenap energi di alam semesta. Aku tiba di sebuah gerbang, yang dijaga dua orang mahkluk hitam besar bersenjata gada. Mahkluk itu mengusirku pergi, namun aku bersikeras tanpa alasan yang jelas ingin melewati gapura besar itu. Mereka lalu marah dan menyerangku. Aku tak tinggal diam setiap serangan mereka berhasil kuhindari. Namun kedua mahkluk itu terus merangsek maju dan menyerang dengan gada mereka, sesaat aku berhasil merampas salah satu senjata gada dari mahkluk itu. Bahkan salah satu gada yang lain berhasil aku rampas. Dengan kedua gada itu aku menghajar kedua mahkluk hitam besar itu hingga tubuh mereka ambruk menjadi asap berwarna hitam dan merah. Akupun melanjutkan perjalanku melewati gerbang itu. Kulihat di dalam gerbang orang-orang yang menangis, ketakutan, dan berlarian entah karena alasan apa. Ada pula orang yang kebingungan dan juga kesusahan. Ada pula seorang wanita sakit yang berteriak-teriak menahan sakit ditubuhnya. Pikiranku benar-benar merasa resah di tempat itu.

Lamat-lamat terlihat sebuah cahaya dikejauhan yang semakin mendekat dari dalam gapura. Dari cahaya itu muncul sesosok tua berbaju putih berjenggot panjang juga berwarna putih melambaikan tangannya. Aku berjalan mendekat lalu seolah mengucapkan hormat kepada sosok itu. Kuamati wajah tua itu, aku merasa mengenali wajah itu. Sesaat kemudian wajah itu ternyata adalah wajahku sendiri! Sosok itu menegurku, "mari nak ikutlah denganku!" Orang tua itu mengajak pergi ke suatu tempat dimana tempat itu begitu menyenangkan, di kiri kanan nampak bukit ditumbuhi bunga-bunga dan pohon yang tidak kukenal namanya. Diantara kami, nampak juga berjalan orang-orang yang lain dengan raut muka yang riang. Salah seorang dari mereka mengajakku mengobrol panjang dan lebar. Hingga akhirnya kutanya namanya, dan orang itu menjawab , 'Budiman'. Aku lihat wajah itu yang ternyata adalah kakekku sendiri yang telah meninggal dunia. Kutatap wajah-wajah orang yang berjalan bersamaku, semuanya adalah orang-orang yang telah meninggal dunia! Lalu Pak Tua yang bersamaku lalu berkata kepadaku, "pulanglah! perjalananmu telah selesai sampai disini saja."

"Kenapa? aku masih betah disini."

"Bagaimana dengan anak-anakmu?" tanya Pak Tua itu.

Sesaat kemudian aku terbangun dari alam itu karena teringat kedua anakku dirumah.

1 disukai 689 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction