Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
3,467
Kata orang, jangan berhenti di satu titik.
Romantis

Aku masih mengenalnya. Sudah beberapa tahun lalu. Saat aku belum mengerti bagaimana bentuk perasaan suka itu dengan jelas. Saat yang ada di dalam fikiranku hanyalah masuk universitas impian. Saat yang aku kenal harus berjuang penuh ambisi. Kita bisa dibilang akrab, tapi... mungkin hanya aku yang menganggap kita begitu akrab. Tapi, mana mungkin kamu lupakan aku dari sejarah hidupmu.

Setidaknya, aku punya alasan untuk menyatakan kalau kamu ingat bagaimana posisiku bagi hidupmu. Kamu si paling teledor serta gegabah yang palingku kenali. Si sosok yang akan mencariku untuk bertanya atau meminta penjelasan jika ada mata pelajaran telah kamu lewatkan. Rasanya, sudah lama sekali. Bahkan setelah kita sama-sama memiliki kehidupan berbeda aku mengingat jelas detail ekpresimu ketika hal tidak sesuai kamu dapatkan. Perkataanmu berubah kecut, sikapmu nampak begitu egois, itulah saatnya aku menemukan beda dari dirimu.

Agak aneh, sih. Apalagi aku yang akhir-akhir ini sudah lebih jarang memperhatikan instastory-mu, mendadak menyentuk emoticon love. Berwarna merah yang dapat merubah sudut pandangmu terhadapku setelah beberapa tahun perpisahan ini.

Nyatanya, itu membawa pada sebuah percakapan yang tidak pernah aku prediksi. Pesan yang kembali menggetarkan hatiku ketika melihat notifikasi masuk, darinya.

"Relate?" Tanya dia menanggapi.

Ragu awalanya, tapi... gak apa kali hanya membalasanya, fikirku. Lebih dari itu hari berikutnya obrolan berlanjut. Sederhana itukah untuk dapat kembali berbicara denganmu? Kenapa bukan dari dulu saja. Aku jadi gak perlu repot menahan rindu ketika mengingat kenangan bersama kamu.

"Besok kita ngobrol langsung seru kali." pesan itu, spontan membuatku tersedak ketika sedang minum usai menghabiskan makan siangku bersama teman kerja.

Tidak. Ini aku tak boleh langsung luluh dibuatnya. Biarkan saja dia yang berusaha menarikku, sebab, aku tak akan sama seperti dulu. Tenagaku sudah bukan untuk dia lagi. Bagaimana tidak, dirinya yang terakhirku dengar masih memiliki kekasih. Seharusnya, tidak apa-apa bertemu dia sebab kita teman lama yang mungkin akan berbagi sedikit kisah perjalan hidup. Tapi, ini aku yang takut saja dikira mendekati pacar seseorang. Bukan sama sekali levelku.

Muncul lagi pesan dari dia, "Gimana, bisa?"

Aku cukup menimbang sedikit tentang dirinya yang terlihat jauh tergapai. Bergegas, dengan satu tarikan napas, aku mengetik. "Hari minggu jam sepuluh di pemakaman umum Lamuan."

Dia membalasa cepat. "Loh, kenapa di kuburan?"

Awalnya aku ragu, tapi aku sedikit teringat tentang satu hal. Ini seperti janji, dan janji... harus ditepati.

"Kamu ingat Milan, sahabat dekatku." pesan langsung ku kirimkan, namun takut membuatnya bingung aku langsung kirim pesan penjelasan lagi padanya. "Lima bulan lalu dia pulang, sebelumnya aku pernah menceritakan kepada dia kalau suatu hari dapat bertemu kamu lagi, dia harus mengetahui. Maka, aku minta kamu langsung ketemu disana."

"Ouh... " dia hanya membalas itu. Beberapa detik berlalu, berganti menit juga hari baru kembali kudapati pesan darinya, tepat hari minggu pagi jam setengah sepuluh. "Aku otw ke pemakaman umum Lamuan.

Kembali, aku tersedak karena kaget dia akan datang. Aku berulang kali memandangi pesan masuk di ponselku, benar. Bukan sebuah mimpi. Agak mustahil sebenarnya kalau dia akan menanggapi serius pesan itu sedangkan diriku sudah yakin dia tak akan pernah mau.

Cepat-cepat aku bersiap. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan pemakaman umum Lamuan. Jelas sekali, lelaki dengan celana panjang berwarna cream, berblut kaos hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya, serta aroma parfum tidak berubah itu menatapku ketika sepeda motor milikku berhenti di sampingnya.

"Ciee, udah beda sekarang?" tanya dia memperhatikanku dari ujung kaki hingha kepala. Nyaris membuatku salah tingkah. Helm berwarna hitam aku letakkan di atas spion motor. Tersenyum membalasnya.

"Aku kira kamu masih takut untuk mengendarai motor sendiri, tapi... setiap orang pasti akan terlihat perubahannya setelah lama gak jumpa."

Tidak, perasaanku tidak berubah. Mungkin saja kehidupan telah membawa berputar ketitik satu lanjut ketitik lainnya. Tapi, persoalan tentang kamu. Masih berada dititiknya sama, tidak berubah.

Aku berjalan lebih dulu, dia membuntut di belakang. Tepat pada sebuah makam yang belum berubah sejak sebulan lalu di kunjungi, aku berhenti lalu duduk bersimpuh memandangi nama pada batu nisan. "Aneh sebenernya kalau aku ajak kamu kesini langsung di hari pertama kita ketemu, ya."

"Ya... Sejujurnya aneh, sih." jawab dia tampak ragu, juga memandangi wajahku yang tidak berani kutengok.

"Tahun lalu pas aku sama Milan ketemuan, aku banyak cerita tentang kamu yang belum bisa sepenuhnya hilang dari pikiranku selama ini. Aku juga berdoa untuk bisa ketemu kamu walau hanya sekali saja gapapa, jadi... kalau bisa ketemu kamu sekarang mungkin jadi bagian doaku, aku pengen Milan tau. Setidaknya, kalau setelah ini aku sama kamu gak ketemu lagi, rinduku udah terobati. Ya... walaupun kita gak bisa sama-sama."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Cieeee 😍
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi