Disukai
1
Dilihat
2,630
Rumah Kedua
Drama

Dikerubuni udara dingin sembilan derajat yang menembus sweater turtleneck serta lapisan parka Zara seharga 15.000 yen hadiah ulang tahun dari Yuki san seminggu yang lalu, aku mengayuh sepeda seorang diri diikuti jejak kaki dijalanan basah yang mengekor sepanjang 5 kilometer dari apato menuju taman kota Shizuoka. Berbaur bersama rintik hujan dan para manusia idealis yang menjunjung tinggi kedisiplinan, aku tersesat dijalanan yang sudah empat tahun setiap hari kulintasi. Tak tertolong oleh GPS atau Polisi Jepang yang terkenal berdedikasi diseantero bumi , aku limbung ditelan keraguan dan ketidakpastian arah mana yang harus kutapaki. 

Namun selalu ada dia yang bisa kuandalkan manakala bimbang terombang ambing diambang kelam pekat dan terang benderang kehidupan. Seperti suluh dia menyalakan semangat yang terkadang redup, laksana air memadamkan amarah yang membakar dan membuncah, dialah Asiya wanita kedua yang sangat kucintai setelah ibuku.

Proses pernikahan kami terbilang singkat dan sangat sederhana. Aku mengkhitbah melalui kakak laki-lakinya yang merupakan sahabatku di kantor. Setelah mengutarakan niat baikku, selang seminggu aku bersama ibu silaturahmi kerumah Halim dan istrinya Nurmala di Pondok Kelapa Jakarta Timur untuk mendengar jawaban dari Asiya. Hatiku bergetar dan air mataku tak terbendung ketika mendengar syarat nikah dan mahar yang ia ajukan kala itu.

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Kurang lebihnya aku telah mendengar siapa dan bagaimana Kak Julian dari Mas Halim yang aku yakin tidak akan sembarangan dalam membawa calon suami untukku. Insyaallah tanpa paksaan ataupun dorongan dari siapapun aku bersedia menjadi istri Kakak.”

Kala itu jantungku berdebar kencang seolah tidak percaya bahwa gadis musmilah yang hanya duduk sejauh satu meter didepanku bersedia aku persunting.

“Namun ada syarat yang ingin aku ajukan untuk pernikahan kita selain mahar, apakah kakak tidak keberatan,” Asiya mengangkat wajahnya seraya memandang ke arah Halim.

“Apabila dalam Islam itu adalah hal yang lumrah atau diperbolehkan, maka aku tidak keberatan selama itu tidak memberatkan.”

“Apabila Kakak sungguh-sungguh menginginkan aku dan agamaku, insyaallah itu tidak akan memberatkan,” Asiya kembali menundukkan wajahnya.

“Baiklah, saya tidak keberatan.”

Asiya menarik nafas panjang seolah hendak berancang-ancang menerjang medan perang.

“Pertama saya meminta kakak untuk mengkhatamkan Al-quran serta kitab Bulughul Maram Ibnu Hajar Al Asqolani. Alhamdulillah Terkait hal itu Mas Halim bersedia membimbing dan membantu kakak.

Saya percaya bahwa kakak orang yang berpendidikan dan paham dengan maksud dan tujuan saya terkait dua hal ini, tanpa ada sedikitpun niat untuk merendahkan atau mempersulit, ” sejenak Asiya terhenti seraya menundukkan wajah.

“Yang kedua, selama saya bisa menunaikan kewajiban saya sebagai seorang istri. Kakak tidak boleh menikahi wanita lain. Dan apabila kakak bersedia dengan dua syarat yang saya ajukan tersebut, maka kita dapat menikah.”

Sejenak ruangan terasa hening.

Aku melirik ibu yang sudah terlihat menua dengan mata yang terus berkaca-kaca sejak pertama kali kami tiba, kedua tangannya menggenggam erat kalung salib yang menggantung dilehernya. Dari wajahnya tergurat kesedihan dan ketidakrelaan yang terselubung kasih sayang yang mengambang kepermukaan.

“Saya siap,” seraya menggemgam tangan ibu, aku menjawab dengan lantang dan tanpa sedikitpun ada keraguan dalam ingatan.

Sejenak kupejamkan mata untuk menahan linangan air mata yang tanpa aku sadari berderai begitu saja dari pelupuk mata.

“Hidupmu adalah pilihanmu nak!” kata-kata ibu itu terus terngiang dalam benakku.

Dapat kurasakan tangan lembut ibu membelai dan menepuk-nepuk punggung tanganku seolah menguatkan.

“Lalu apa yang Asiya inginkan untuk mahar ?” sambungku.

“Saya menginginkan ke-Islaman kakak sebagai mahar untuk pernikahan kita.”

Aku dapat merasakan genggaman tangan ibu yang seketika semakin erat begitu mendengar hal itu, seolah berteriak kedalam hatiku untuk tidak menerimanya.

“Apakah dengan itu saja cukup?”

“Insyaallah cukup kak.”

“Saya kira mahar itu harus berbentuk benda atau hal-hal yang berbau materi keduniaan?”

“Tidak kak, pada masa Rasulullah Shahabiyat Ummu Sulaim telah lebih dulu mengajukan mahar serupa ketika dilamar oleh Abu Thalhah. Aku ingin mendapatkan mahar yang paling mulia sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah kepada beliau,” Asiya mengusap air matanya.

Sekali lagi aku pandangi Amih tanpa berucap sepatah katapun, meskipun dari kedua matanya mengalir air mata yang aku pertanyakan maknanya, ia tersenyum.

Sejak hari itu aku resmi menjadi seorang muslim bernama Abdullah dengan mengucap syahadat dibimbing oleh Ustadz Amir dari Sukabumi disaksikan oleh keluarga Asiya serta ibuku. Disusul satu tahun kemudian kami menikah setelah aku akhirnya berhasil menjalankan syarat nikah yang sebelumnya telah diberikan padaku.

Dihentikan oleh lampu merah zebra cross yang berada diseberang Kitamikado Ato - Sunpu Park atau yang biasa disebut Sunpu Kouen, handphone disaku celanaku berderit.

“Ima doko ni iru no?”

“Sunpu Kouen ni tsuita toko”

“Wasurenaide ne”

“Un.”

“Hati-hati, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Seorang nenek tua dengan alat bantu berjalan yang berdiri tepat disamping stang sepeda tiba-tiba tersenyum manakala mendengar tarikan nafas panjangku.

“Dimana-mana wanita memang cerewet ya, sabar nak.”

Aku mencoba bersikap sopan dengan tetap membalas tersenyum meskipun sepertinya kentara dipaksakan.

Selain nenek tadi, dibelakangku ada dua orang anak SMA mengendarai sepeda serta ibu-ibu dengan dua ekor Shiba Inu yang dilehernya melingkar sabuk berwarna biru langit dengan ujung pangkal menyerupai meteran roll yang panjang pendeknya bisa disesuaikan.

Meskipun jalan didepan kami saat itu kosong tidak ada kendaraan yang melintas, namun kami semua tak bergeming dengan sabar menunggu di tepian yang hanya terpisah sejauh 5 meter dari seberang taman. Orang-orang yang tidak beragama itu kenyataannya lebih paham dengan konsep hak dan kewajiban ketimbang kami para muslim yang tinggal di Tanah Air. Padahal peraturan tentang rambu-rambu lalulintas itu sendiri sudah dengan sangat jelas dan baku ditetapkan oleh pemerintah yang wajib untuk diikuti.

Sebagaimana Hadits Arbain ke-28, Rasulullah bersabda

“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak”

Semudah mengikuti peraturan harus berhenti ketika lampu merah dan berjalan ketika lampu hijau saja dilanggar, apalagi aturan lain yang lebih kompleks.

Aku terkesiap dari lamunan manakala suara keras dari speaker yang tepat berada diatas kepalaku menjerit-jerit keras menandakan waktunya menyebrang.

Melesat menyebrangi jembatan yang menjadi penghubung antara jalan raya dengan area taman yang dibawahnya dikelilingi oleh parit buatan. Aku masuk melewati pintu gerbang utara yang merupakan akses terdekat ke area Momijiyama Garden dan kedai teh tradisionalnya yang serba autentik, Ryuureiseki Momiji-tei. Hampir 2 tahun aku berada di kota ini namun faktanya belum pernah sekalipun masuk kedalam kedai yang terkenal dan sepertinya mahal itu.

“Assalamualaikum, kamu dimana?”

“Aku sudah di patung Tokugawa Ieyasu

“Tunggu ya, aku kesana”

Tidak sulit bagiku untuk menemukan patung perunggu yang menjulang tinggi dari sosok Shogun atau jenderal yang hidup sekitar tahun 1600an tersebut. Tokugawa Ieyasu adalah pendiri Keshogunan Tokugawa, dinasti yang memerintah jepang dari tahun 1603 sampai 1868 yang meninggal karena kanker atau sejenis sifilis. Begitulah hakikat hidup manusia yang singkat dan fana, sehebat dan sekuat apapun tetap tidak akan mampu melawan ganasnya waktu.

Tidak banyak wanita yang mengenakan kerudung sejenis khimar di Shizuoka, sedikit banyak itu menguntungkan bagiku karena meskipun wajahnya tidak terlihat, namun dari kejauhan aku sudah bisa mengenali sosok istriku dari busananya. Setelan gamis panjang dibalik khimar dengan warna gelap polos dan sepedah berwarna putih motif bunga serta gantungan kunci yang terbuat dari rajutan benang berbentuk kura-kura, cara berpakaian yang membuatku jatuh hati dari pertama kali bertemu dengannya di acara employee trip kantor ke Batu Malang.

Waktu itu perusahaan kami mengadaan acara jalan-jalan rutin yang diadakan setahun sekali dalam rangka refreshing dari tekanan target dan beban kerja yang menggunung. Masing-masing karyawan mendapatkan jatah dua kursi, namun dikarenakan istri Halim sedang ada keperluan maka sebagai gantinya Asiya yang ikut bersama kami selama dua hari dua malam. Dan dari saat itu pulalah aku mulai mengenal Islam secara lebih dalam dari Halim yang menyerahkan kamarnya untuk Asiya sementara dia menginap dikamarku. Agama yang sudah lama secara diam-diam aku kagumi dan pelajari tanpa sepengatahuan siapapun bahkan ibuku sendiri. 

“Assalamu’alaikum”

“Waalaikumussalam,” Asiya meraih kedua tanganku lantas mengecupnya.

“Gomenne, okurechatte.”

“Iie, zenzen,” dia memeluk tubuhku erat.

“Kita mulai dari mana dulu ya baiknya?”

“Kamu sudah sarapan belum sayang?”Asiya menyandarkan kepalanya kepundakku dan mengencangkan dekapannya.

“Alhamdulillah sudah.”

“Tadi sebelum berangkat kesini aku telpon Dina.

Insyaallah katanya dalam minggu ini akan konsultasi rencana pemindahan perawatan ibu kesini. Dan mudah-mudahan bisa diproses paling lambat dalam satu atau dua bulan”

“Amin, mudah-mudahan semuanya lancar.”

Allahumma amin

“Sekarang kita mulai dari mana dulu sayang?”

“Kita ke toko perhiasan saja dulu yang paling dekat di Isetan.”

“Baik bos,” aku gantungkan senyum terbaikku didepan bidadari surga yang Allah segerakan menjadi milikku itu.

Kami berduapun beriringan menuju Mall yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari Sunpu Park.

Dari belakang kupandangi sosok istri luar biasa yang Allah anugerahkan kepadaku itu, bersama rintik hujan air mataku berderai tersibak angin dingin yang semakin terasa menyayat hati. Dia harus rela meninggalkan keluarganya demi untuk mendampingiku di negeri orang, melepaskan mimpi-mimpi yang sedang ia geluti hanya demi untuk laki-laki asing yang tiba-tiba saja masuk dalam kehidupannya.

Tiga tahun usia pernikahan kami, aku menjadi satu dari beberapa orang yang terpilih berkesempatan magang di kantor pusat perusahaan di Shizuoka. Asiya selalu mendukung setiap keputusan yang kuambil selama itu baik dan tidak menyalahi syariat. Meskipun dia lebih paham agama ketimbang diriku, namun tutur katanya selalu lembut setiap kali membenarkan, penuh hormat mana kala mengajarkan, dan berlimpah kasih sayang dalam setiap permasalahan.  Tidak pernah sekalipun aku merasa diremehkan olehnya, dia menghargai posisiku sebagai seorang pemimpin dalam keluarga.

Sudah hampir dua tahun kami hidup di prefektur yang sama dengan Gunung Fuji yang mendunia. Kini Asiya telah menemukan dunianya yang baru bersama komunitas muslim Shizuoka yang kebanyakan adalah mahasiswa-mahasiswa dari Asia Tenggara, orang Jepang yang menjadi muallaf, serta para pengusaha dari Pakistan dan Bangladesh.

“Aku sekalian ingin mampir ke Sanrio boleh?” Asiya langsung menarik tanganku setibanya di pusat perbelanjaan delapan lantai yang berada tepat di jantung kota Shizuoka itu.

“Iiyo, katte ageru”

“sangkyu,” dia mencium pipi lantas menggandeng tanganku erat.

Masuk kedalam area perbelanjaan asiya menarikku kesebuah toko perhiasan bernama Vendome Aoyama sesuai rekomendasi dari teman jepangnya di komunitas.

“Irasyaimase,” dengan ramah seorang wanita muda menyapa kami begitu masuk kedalam ruangan.

“Ada yang bisa saya bantu?” wanita itu langsung menghampiri kami

“Kami mencari cincin pernikahan,” Asiya tersenyum ceria seraya mengangkat tangan kami yang berkaitan.

“Gokekkon omedetou gozaimasu. Selamat ya atas pernikahannya.”

“Sebenarnya kami sudah lima tahun menikah, jadi tolong berikan cincin spesial untuk kami berdua,” Asiya tertawa geli.

"Oh untuk anniversary ya, yang paling laris dari kami ada disebelah sini,” wanita itu mengarahkan kami pada etalase yang diatasnya terdapat beberapa lambang hati.

Setelah memilih dan berdiskusi beberapa lama akhirnya kami memutuskan untuk membeli sepasang cincin Ruban De Mariee seharga 240.000 Yen termasuk pajak, harga diskon untuk spesial order karena kami meminta bahan cincin untukku agar tidak menggunakan unsur emas ataupun berlian. Seperti yang diungkapkan oleh Asiya bahwa haram bagi laki-laki untuk memakai perhiasan apapun kecuali yang berbahan perak, itupun berdasarkan pada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu yang mengacu pada cincin Rasulullah yang sekaligus berfungsi sebagai cap atau stempel.

“Bagus ya!” Asiya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Beberapa kali Asiya membolak-balikan tangannya serta menyeret jari tanganku untuk disandingkan dengan tangannya. Melihat senyuman manis merekah dari wajah cantiknya membuatku sadar bahwa selama hampir lima tahun usia pernikahan kami, belum pernah sekalipun dia meminta untuk dibelikan perhiasan. Dia tidak mau membebaniku dengan hal sekecil apapun, kalau itu masalah maka dia akan selesaikan sendiri dan apabila itu berkah baru dia akan terus berceloteh agar aku mengetahuinya.

“Kamu yakin?” kudekap tubuhnya yang yang hanya beberapa senti lebih pendek dariku.

“Insyaallah saya yakin sayang, cincin ini bagus banget,” Asiya mendorong tubuhku seraya tertawa cekikian.

“Sumimasen, chotto shasin torasete itadakemasenka ?” Asiya meminta tolong kepada wanita penjaga toko untuk mengambilkan foto kami berdua.

Tangan sebelah kanannya melingkar pada pinggangku, sementara tangan kirinya ia angkat setinggi bahu sebelah kanan berdampingan dengan tanganku. Dulu ketika menikah memang kami tidak terpikir untuk membeli cincin karena Asiya berpendapat bahwa itu bentuk Tasyabbuh yang dilarang oleh agama.

Proses pembuatan cincinnya hanya memakan waktu satu hari saja, karena kami bersedia membayar biaya tambahan agar besok sudah bisa selesai. Setelah melakukan pembayaran, kami lantas bergegas pergi menuju toko pernak-pernik Sanrio yang berada dilantai tiga. Asiya sangat menyukai hal-hal berbau Hello kitty dan karakter-karakter lucu yang memiliki tubuh kecil namun dengan kepala lima kali lebih besar. Saking Sukanya dengan karakter-karakter tersebut, sampai-sampai selalu berceloteh apabila memiliki anak perempuan maka semua perlengkapan bayi dan pernak-perniknya akan bertema Sanrio. 

Sumringah wajahnya seolah mengubur dalam-dalam semua rasa sakit dan pahit yang sudah beberapa bulan ini ia terima. Wanita tangguh yang sudah didiagnosis tidak dapat mempunyai anak pasca Histerektomi atau operasi pengangkatan rahim itu tidak pernah sedikitpun memperlihatkan kesedihannya kepadaku selain hari dimana kami menerima kabar tersebut dari dokter. Hari itu air matanya tidak berhenti berlinang, hanya mengurung diri dikamar sambil shalat, dzikir, dan mengaji, bahkan tanpa sesuap makananpun masuk kedalam perutnya. Saat itu ia berubah menjadi sosok yang berbeda karena sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya telah hilang terenggut.

“Apakah aku masih layak disebut seorang wanita?,” tubuhnya terus membelakangiku dalam perjalanan pulang ke rumah selepas dari Shizuoka Shiritsu Byouin atau Shizuoka City Hospital.

“Apakah aku masih layak disebut seorang istri apabila tidak dapat memberikan keturunan?”.

Momen dimana aku hanya bisa terdiam disepanjang jalan tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan perih harus menyaksikan istri yang sangat kucintai menderita karena kenyataan pahit yang harus ia terima.

Namun meski demikian, keesokan harinya ia kembali menjadi sosok yang ceria dan penyayang seolah tidak terjadi apa-apa pada hari sebelumnya. Senyumnya kembali merekah meskipun mata yang merah serta wajahnya yang pucat mengisyaratkan bahwa ia tidak tidur dan hanya menangis semalaman. Hal terbaik yang bisa aku lakukan adalah berusaha tidak mengorek kembali kesedihannya dengan tidak bertanya apa-apa.

Melewati toko Sanrio yang berada di lantai tiga, Asiya terus menarikku berjalan menaiki lift menuju lantai lima dan memasuki gerai Crestbridge.

“Kita mau apa kesini sayang?” aku berhenti tepat dipintu masuk toko.

“Aku punya hadiah untuk kamu,” Asiya tersenyum sambil menarik tanganku kuat.

“Irashaimase,” kembali terdengar suara beberapa orang lelaki dengan setelah jas rapi menyambut kedatangan kami.

“Kesa denwa sita, Asiya to mousimasu,” Asiya langsung menuju teller lalu tak lama kemudian menerima paperbag besar berwarna hitam dengan tulisan Black Label Crestbridge.

“Kamu beli apa?” aku mengernyitkan alis dan memukul lembut tangannya.

“Jangan diintip, nanti bukanya di apato ya ! ini hadiah dariku untukmu,” Asiya tersenyum lebar seraya menyerahkan bingkisan yang lumayan berat tersebut.

“Pake uang siapa belinya?” aku mencubitnya.

“Uang aku dong, enak saja.”

Setengah berlari Asiya keluar dari toko meninggalkan ku dibelakang.

Bukan hal baru kalau dia memberikan hadiah dan kejutan padaku serta orang-orang disekitar kami.

“Ingat surat An-nisa ayat 36.”

Selalu bertumpu pada ayat tersebut, Asiya baik pada siapapun tanpa terkecuali, bahkan pada orang asing tak dikenal yang hanya lewat depan pagar rumah.

Asiya terlebih dulu masuk kedalam Official Shop Sanrio yang dari luar sudah bisa terlihat didominasi warna pink. Pintu masuk yang terbuat dari kaca dihiasi wajah Hello Kitty membuatku agak ragu untuk masuk kedalamnya. Dari luar aku bisa melihat Asiya mondar mandir dengan cerianya sambil menenteng keranjang belanja berwarna pink.

hampir lima belas menit aku menunggu diluar namun asiya tak kunjung datang. Pintu otomatis telah terbuka ketika aku melangkahkan kaki hendak masuk kedalam toko manakala dari kejauhan baru kusadari Asiya tengah jongkok berlinang air mata di pojok kanan pintu tempat aksesoris bayi dan anak-anak berada. Seraya memegang erat kaos kaki rajut berwarna pink muda, matanya merah dan air mata berlinang membasahi wajahnya.

“Kamu tetap istriku dan akan selamanya begitu sampai Allah memisahkan kita untuk sementara,” aku jongkok tepat disamping Asiya yang langsung mengusap air matanya.

“Aku ikhlas dan ridha meskipun tidak memiliki keturunan, kelak ketika kita meninggal masih ada sumur-sumur yang bisa mengalirkan pahala untuk kita, atau masjid yang menjadi penyambung umur kita. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, tak sedikitpun ada yang berubah antara kita,” aku tarik tangannya sementara Asiya memalingkan muka.

“Aku ingin kamu jadi istriku di dunia dan di akhirat, maka jangan sekali-kali kamu merasa gagal karena sejatinya aku adalah bukti keberhasilanmu.”

Tangisan Asiya sayup-sayup terdengar dari balik wajah yang ia sembunyikan dalam kerudungnya. Sejenak aku biarkan ia menuntaskan hajatnya dengan tetap sabar menunggu disampingnya. Aku usap-usap kepalanya berusaha sedikit menenangkan dan berharap ia dapat merasakan ketulusan cintaku padanya. Asiya adalah karang yang kokoh dengan pondasi agama dan tauhid, maka tidak akan sekalipun goyah dengan pendiriannya selama itu sudah sesuai dengan agama. Kendati demikian, ia tetaplah seorang wanita yang rapuh dan membutuhkan pundak untuk bersandar atau sekedar aku yang memegangi kedua tangannya sambil menguatkan.

“Terima kasih telah mengabulkan keinginan-keinginanku,” tidak lama Asiya tersenyum seraya menaruh kembali kaos kaki bayi yang sedari tadi ia pegangi.

“Tolong bayar ini,” ia tersenyum sambil menyodorkan keranjang belanja yang berisi rupa-rupa pernak-pernik.

Gerimis tipis masih bertaburan dari langit ketika kami berdua keluar dari area parkir gedung yang langsung terhubung dengan jalan raya. Kulihat mata Asiya masih merah meskipun kini raut wajahnya telah kembali ceria dengan sekantong Oden panas yang tengah memenuhi mulutnya.

“Tunggu dulu hujan atau bagaimana?” aku ambil satu tusuk Oden berbentuk tahu berwarna coklat dari dalam kantong yang ia taruh dikeranjang sepedanya.

“Kita langsung ke rumah Yuki san saja, awas belanjaannya jangan sampai rusak atau basah ya,” Asiya menutup kepalanya dengan tudung jaket lantas bergegas pergi.

Yuki san adalah muallaf berkebangsaan jepang berdarah campuran filipina jamaah masjid Shiuzoka sekaligus anggota Komunitas Muslim Shizuoka teman dekat Asiya. Konon ibunya dulu datang ke jepang menjadi seorang TKW pabrik selama kurang lebih tiga tahun, sampai akhirnya bertemu dan jatuh cinta dengan ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai seorang dokter. Dia tidak beragama sampai ketika kuliah berteman dengan mahasiswa dari Indonesia dan mulai tertarik untuk belajar tentang Islam. Sudah hampir tujuh tahun ia menjadi seorang Muslimah meskipun belum istiqomah menutup aurat karena satu dan dua hal termasuk benturan dengan profesinya sebagai seorang dokter. Sejak pertama kali datang ke Jepang, Asiya dan Yuki chan langsung akrab karena mereka bisa lancar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa inggris. Selain itu Asiya merangkap sebagai guru yang mengajarkan Yuki chan ilmu Tauhid, Fiqih, serta Tajwid dan Tafsir.

Hanya berjarak sekitar 10 menit saja dengan bersepeda dari Sunpu Park, Yuki san tinggal di daerah Inagawa sekitar taman Morishita dekat Shizuoka Station. Rumahnya yang bergaya khas jepang didominasi warna kuning gelap dan abu-abu ditutupi oleh tumbuhan bambu kuning terlihat sangat asri dan nyaman meskipun terkesan sempit karena berdempet dengan rumah tetangganya yang bergaya kontras modern berwarna silver.

Pintu rumahnya terbuka dan terlihat banyak sepatu serta sendal berderet rapi didepan pintu.

“Assalamu’alaikum,” Asiya membuka pintu pagar berwarna kuning yang sepertinya terbuat dari sejenis kayu jati dengan cara digeser.

“Waalaikumsalam.” Seorang laki-laki separuh baya bertubuh tinggi besar keluar dari dalam rumah setengah membungkukkan badan karena pintunya terlalu kecil.

Dia adalah Hasegawa Omar, kepala komunitas Himpunan Muslim Shizuoka yang berasal dari Kazakhstan.

“Barakallah akhirnya pengantin kita datang,” sambil tertawa dia mempersilahkan kami masuk lantas merangkul badanku yang terlihat sangat kecil apabila bersanding dengannya.

Begitu masuk kedalam rumah, Ashiya langsung masuk kedalam ruangan TV yang diberi sekat pembatas kain putih transparan tempat dimana para perempuan berkumpul. Sedangkan para laki-laki berada di ruangan luas yang sepertinya adalah perpustakaan mini dengan bermacam-macam jenis buku yang ditata rapi diatas rak-rak panjang bertingkat. Sebagian besar yang datang hari itu adalah para jamaah Masjid Shizuoka dan anggota Komunitas Muslim Shizuoka bersama teman serta kerabat mereka yang beberapa diantaranya belum pernah sama sekali aku temui.

Dari balik kain transparan putih yang terbentang membelah ruangan, samar-samar aku melihat Asiya sumringah berbincang dengan beberapa orang wanita yang semuanya mengenakan hijab duduk berdampingan diatas tatami berwara coklat. Disamping kanannya adalah Hasegawa Khadija yang bernama asli Hasegawa Erika yang merupakan istri dari Hasegawa Omar. Dan disebelah kirinya duduk wanita yang hampir saja aku tidak kenali karena menggunakan abaya serta jilbab besar berwarna putih yaitu Yuki san.

Yuki san tiba-tiba melirik kearahku dan mata kami bertemu, sontak aku memalingkan muka seraya mencoba berbaur bersama kerumunan.

“Besok insyaallah yang hadir akan lebih banyak, mohon pada teman-teman untuk membantu agar acaranya berlangsung khidmat dan tertib. Mengingat disekeliling kita adalah orang jepang, jangan sampai tiba-tiba datang polisi karena kita menggangu kenyamanan mereka,” untuk beberapa saat aku terhanyut dalam obrolan dan petuah dari Omar san sampai Asiya datang menepuk pundakku.

“Kamu pulang saja sekarang istirahat di apato” ia menarik tanganku seraya memohon izin pada kerumunan.

Asiya mengajakku kesebuah ruangan yang sudah ditata rapi dilantai dua.

“Malam ini aku akan menginap disini, besok jangan sampai terlambat ya !” ia mengambil paperbag hitam dari tanganku lantas memasukkan sesuatu kedalamnya.

“Apa kamu yakin dengan ini semua?” aku menundukkan kepalaku karena air mata yang sedari tadi tertahan di balik mataku sudah tak terbendung dan bercucuran.

“Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu, kenapa harus seperti ini?” aku berusaha menahan tangisanku yang tanpa kusadari semakin menjadi-jadi.

Asiya hanya berdiri membelakangiku.

“Aku yang tidak bisa punya anak, bukan kamu.”

“Aku ikhlas.”

“Tapi aku tidak ikhlas,” Asiya duduk bersimpuh dengan masih membelakangiku.

“Kita sudah membicarakan ini, dan aku harap kamu teguh dengan apa yang telah kita sepakati sebelumnya. Yuki san adalah muslimah yang baik dan shaleha, insyaallah dia akan menjadi ibu yang baik dari anak-anak kita, selain itu dia membutuhkan bimbingan dari kita agar semakin istiqomah dalam Islam,” sejenak kata-katanya tertahan.

“Insyaallah dia akan menjadi istri yang baik untukmu, ibu akan lebih terurus di rumah sakit di jepang dibawah pengawasannya, Yuki san tidak mandul sepertiku karena sudah melahirkan Masao chan, dia cantik, berpendidikan dan pintar, kaya, tidak kurang apapun dalam dirinya. Nikahilah dia karena Allah, bukan karena kamu ingin punya anak atau hal-hal lain,” Asiya menangis sejadi-jadinya tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

“Selama ini aku selalu berharap menjadi Hannah binti Faqudah bin Qabil istri Ali Imran yang setelah lama mandul akhirnya Allah mengkaruniakan Maryam ditengah keluarganya, namun kini kesempatan hamilpun aku tidak punya. Aku ingin kamu memiliki keturunan meskipun tidak dari rahimku yang sudah tidak ada,” sejenak kami terdiam sampai seseorang masuk kedalam ruangan tempat kami berada.

“Assalamualaikum,” Yuki chan menghampiri Asiya yang tengah duduk bersimpuh sambil menangis.

“Maafkan aku karena lancang masuk, meskipun aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan tapi aku paham,” Yuki chan memeluk tubuh Asiya.

“Sekiranya kamu tidak mau menikahiku, maka jangan lakukan. Jangan sampai niat baik kita menjadi dosa, aku hanya ingin menjalankan perintah agamaku, bukan menodainya.”

“Butuh waktu lama sampai akhirnya aku bersedia menjadi istri kedua untuk seorang wanita shaleha seperti Asiya san, aku sangat menghormati dan menyayanginya. Apabila kamu tidak ingin pernikahan ini terjadi, utarakanlah,” Yuki chan membopong Asiya lantas meninggalkanku sendirian.

"Tidak ada yang memaksamu, maka tolong berpikir jernihlah sebelum semuanya terlambat," pintu kamar kembali tertutup rapat menyisakan aku, kesendirian dan dada yang bergejolak hebat.

“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Wahai imamku.

Semerbak wangi akhlakmu terus menggetarkan jiwaku.

Menebarkan kebahagian kepenjuru istana cinta kita, hari ini, kemarin dan hari-hari sebelumnya.

Hidupmu adalah sumur pahala bagiku.

Mencintaimu laksana meniti jembatan jihad hidupku.

Karena Allah aku mencintaimu, dan karena Dia pulalah aku harus merelakanmu.

Demi Allah aku ingin menjadi Khadijah.

Tapi takdir Allah maha indah, aku harus belajar dari Saudah.

Aku tak ingin rasa cintaku menjadi dosa, tak mau pula egoku membawa ke neraka.

Syarat itu telah gugur karena aku tidak dapat menunaikan tugasku.

Maka dengan pena ini aku tarik syarat nikahku, maka menikah lagilah.

Bangun rumah keduamu di dunia untuk istana kita di surga kelak.

Aku ikhlas menjadi yang kau bagi cintanya, tak sendiri dalam dekapan mahligai cinta kita.

Insyaallah aku ridha denganmu menjadi suami wanita lain.

Aku ingin jadi yang terbaik untukmu.

Jika tidak disini, atau hari ini.

Insyaallah nanti di Surga Allah Ta’ala.

Wassalam”

Tanganku bergetar dahsyat, aku tak mampu menahan tangis dan perih dikerongkongan ketika membaca secarik kertas yang Asiya selipkan didalam paperbag yang berisi tuxedo lengkap dengan sepatu dan sarung tangan berwarna putih yang telah ia pesan dari jauh-jauh hari.

Kupandangi belanjaan yang hari itu telah kami beli berdua.

Aksesoris serta mainan Sanrio itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Masako chan anak semata wayang Yuki san yang berusia 5 tahun.

Sementara cincin yang tak henti-hentinya ia bolak-balik dan kenakan ditoko itu bukan untuk anniversary kita berdua, melainkan mahar yang diajukan oleh Yuki san.

Dan setelan jas yang ia pesan dan design khusus untukku itu ia hadiahkan sebagai kado pernikahku yang akan diselenggarakan besok dengan wanita lain yang tak lain dan tak bukan adalah Yuki san.

Kenapa ia bisa begitu kuat dengan semua ini.

Air mataku meleleh bersama dilema yang menyesakkan dada kala harus memikirkan rumah kedua yang harus aku bangun diatas penderitaan wanita yang sangat aku cintai.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar