Guru Killer

Saat aku duduk di kelas 5 SD, ada satu hal yang paling kutakuti, yaitu Pak Tarno, wali kelas yang berhak mendapatkan grammy award untuk kategori guru penindas murid laki-laki.

"Luca, dengar-dengar kamu murid paling bandel di kelas ini, ya?" Pak Tarno berdiri di mimbar kelas sambil memegang buku PPKN.

"Sebagian bilang gitu sih, Pak. Tapi yang paling bandel itu Riyu," kataku, mencari kambing hitam.

"Bukan saya Pak, tapi Menthol." Riyu mengelak.

"Enak aja, fitnah tu, Pak." Menthol tak terima.

"Sudah... sudah." Pak Tarno menenangkan suasana, lalu berkata, "Baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran PPKN. Buka halaman 5, bab 1, tentang kejujuran."

Akhirnya, semua murid mengikuti instruksi itu.

Pak Tarno pun mulai menerangkan definisi 'kejujuran' yang memiliki banyak makna. "Kejujuran akan membawa kita pada keberuntungan."

"Hahaha." Semua murid melirik Riyu, Menthol, dan Danang. Nama ayah mereka bertiga adalah Bejo, Untung, dan Slamet. Ketiga kata itu sangat berhubungan erat dengan kata 'beruntung'.

"Lho, kenapa pada tertawa?" Pak Tarno kebingungan.

"Tidak apa-apa, Pak!" teriak salah seorang murid.

Setelah jam istirahat pertama berlangsung, satu kelas dikejutkan dengan lelucon Pak Tarno yang menyebut-nyebut nama Bejo, Untung, dan Slamet. Satu kelas pun tertawa. Sedangkan Riyu, Menthol, dan Danang hanya menunduk sambil sesekali tersenyum malu.

Aku sendiri yang selalu mendapatkan predikat 'sang juara bertahan' daftar hitam di kelas 4 dulu, kali ini hanya bisa bersembunyi di balik tempurung.

"Luca, sebaiknya besok pagi kau berangkat sekolah pakai rok mini saja." Menthol tertawa lepas ketika beberapa murid laki-laki sedang makan di kantin.

"Benar, apa kau perlu lipstik ibuku supaya terlihat lebih seksi?" ejek Riyu.

"Berengsek, selamatkan saja diri kalian masing-masing," kataku sambil mendengus.

Beberapa hari kemudian, saat pelajaran IPA, Pak Tarno memberiku pertanyaan tentang pengertian dari Eritrosit, Leukosit, dan Trombosit.

"Kamu itu ketika bermain bola sangat bersemangat, tetapi ketika menjawab pertanyaan sangat melempem."

"...." Aku hanya bisa mengupil mendengar ocehan Pak Tarno.

"Sekarang bapak ingin bertanya tentang sepak bola saja. Siapa pencetak gol semata wayang pada pertandingan Barcelona melawan Real Madrid, kemarin?"

Aku diam.

"Luca, kau tidak tahu ya?"

Aku tetap diam.

"Jawabannya adalah RIVALDO."

Reaksi pertamaku adalah kaget. Berikutnya aku merasa muak dengan kekejamannya. Gumpalan kemarahan membengkak di kerongkonganku, lalu menjalar sampai ke hati. Sebegitunya kemarahanku sampai-sampai aku menggebrak meja, lalu keluar kelas.

Sejak kejadian itu, aku membolos selama seminggu. Begitu ibuku tahu, beliau sangat marah. Lalu, keesokan harinya beliau mengantarku sampai gerbang sekolah.

Setibanya di kelas, teman-teman langsung menanyakan kabarku. Namun, ketika mereka menanyakan alasan kenapa aku tidak berangkat sekolah, aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Hei, kalian tahu penyebabnya, kan?

Aku sangat takut. Entah dengan cara apa aku harus menghadapi kelakuan Pak Tarno nanti, yang pasti aku berharap supaya Dewi Fortuna menaungi kegelisahanku.

Seperti gayung bersambut, Bu Widya yang notabene adalah wali kelas 6A kini berdiri di mimbar kelas. "Semuanya, tolong dengarkan baik-baik. Mulai hari ini, Pak Tarno tidak akan mengajar di kelas 5A lagi. Beliau dimutasi ke SD XYZ."

Entah layak disebut keajaiban atau apa, yang jelas kepergian Pak Tarno adalah anugerah. Tetapi namanya bergaung. Ironisnya, bukan bertalian dengan prestasi, melainkan sensasi penindasan terhadap murid laki-laki.

3 disukai 948 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction