Binti

“Ini tempatnya?” Tanya Fadli sembari mematikan mesin mobilnya.

Esa melihat catatannya lagi.

“Tak salah lagi. Kamu tunggu di sini ya.”

Esa keluar dari mobil dan mendekati rumah tak berpagar itu. Dia lalu mengetuk pintu rumah.

Seorang wanita mengintip dari balik jendela berkelambu.

“Siapa?”

“Apa benar ini rumah ibu Ratna Widyadhari?”

Wanita itu memperhatikan wajah Esa lebih teliti.

“Pulang!!”

“Tapi bu. Saya hanya mau bicara sebentar.”

“Saya tidak mau berurusan denganmu!”

“Bu, tolonglah. Saya seminggu lagi akan menikah dan saya perlu bantuan ibu.”

Hening.

“Bu…”

Tiba-tiba pintu terbuka. Esa melangkah masuk ke dalam rumah yang berantakan tak terurus. Dia mengambil kursi terdekat.

“Terima kasih bu.”

Bu Ratna mengacuhkan ucapan Esa sambil duduk di seberang Esa. Tapi pandangannya kosong memperhatikan jendela, sesekali dia bergidik seakan merasa gelisah akan kehadiran Esa.

“Jika uang yang kamu minta, saya tidak bisa menolongmu.”

“Ah, bukan bu. Kebetulan saya sudah punya pekerjaan yang lumayan.” Jawab Esa terburu-buru. “Bahkan jika ibu mau…”

“Saya juga tidak butuh pertolonganmu.” Potong bu Ratna. “Katakan segera apa keperluanmu!”

Untuk pertama kalinya Ibu Ratna menatap wajah Esa dengan jelas. Mata mereka saling berpandangan. Lalu Ibu Ratna bergidik sambil mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan kosong di balik jendela rumahnya.

Esa merasa tersinggung akan tingkah ibunya. Dia berniat segera menyudahi pertemuan canggung ini. Bagaimanapun, dia terpaksa ada disini menemui ibu yang tidak pernah peduli dengan kehidupannya.

“Baik. Seperti yang saya bilang, sebentar lagi saya akan menikah. Dan saya perlu nama ayah saya untuk ijab kobul saya. Untuk calon suami saya dapat menyebutkan nama saya binti nama ayah saya. Karena saya hanya punya akta lahir yang hanya bertuliskan nama ibu saja. Siapa ayah saya?”

 Pandangan Ibu Ratna berubah. Dia menatap wajah Esa dengan penuh iba. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ibu Ratna kembali bergidik dan membuang muka.

“Maaf. Pulanglah. Saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

“Kenapa bu? Apa maksud ibu?”

“Aku tidak tahu nama ayahmu. Atau wajahnya. Aku tidak pernah mengenalnya dan tidak pernah melihatnya lagi. Tapi matamu.” Nafasnya tercekat. “Matamu mirip sekali dengan matanya. Karena mata itulah yang sudah menghantuiku selama 25 tahun. Ketika mata itu, dibalik topengnya, datang menyergapku.”

Esa terhenyak.

“Maksud ibu? Ayahku?” Esa menutup mulutnya. Dia tidak sanggup berkata-kata

“Ini bukan salahmu.”

“Aku… Aku…” Nafas Esa menderu. Dia berusaha mengatur kalimatnya. ”Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengingatkanmu dengan peristiwa itu. Aku… aku tak semestinya datang kesini. ”

Esa segera berlari keluar dari rumah ibunya dan masuk ke mobil sambil berderai air mata.

3 disukai 766 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction