Tangan di atas Tuhan

"Benar, Hafzan sahabatmu?" Tanya Pak Mario tenang. Lelaki berusia 40 tahun itu lantas menyulut rokoknya.

"Tentu saja, dia sudah seperti saudaraku."

"Di malam itu, kau yang memberi tahu petugas kepolisian soal Hafzan? Bukan begitu?"

"Iya, aku yang melakukannya."

Pak Mario menyesap dalam rokoknya. Ia membenarkan duduknya. Menatap mata remaja tanggung dihadapannya lamat-lamat.

"Ceritakan padaku sedetail mungkin." Pak Mario penuh penekanan.

"Anda tau, tidak ada yang lebih berharga dari Hafzan dalam hidupku. Aku yatim piatu. Tidak punya sanak saudara. Hafzan, dia hadiah dari Tuhan untukku. Tapi sayang, Hafzan lumpuh setelah kecelakaan. Aku telaten mengurusnya. Setiap pagi, ku mandikan dia dengan air hangat. Aku siapkan makan paginya beserta obat ..."

"Praba, jangan berbelit-belit. Jelaskan padaku tentang malam itu. Saya hanya ..."

"Hafzan sama sepertiku. Dia yatim piatu. Hanya bedanya, dia diwarisi harta yang cukup oleh almarhum orang tuanya. Sementara aku, anda bisa liat sendiri, aku miskin. Tidak ada uang ataupun benda yang tersisa. Dengan lapangnya, tangan Hafzan meraihku. Membawanya ke dalam rumahnya yang nyaman. Aku merasa hidup untuk kedua kalinya. Semua yang kubutuhkan, Hafzan memenuhinya." Praba tersenyum simpul, mengingat perlakuan Hafzan yang sempurna baik padanya.

"Lalu ..."

"Hafzan yang malang. Brandalan brengsek itu tega menghabisinya. Aku sudah berusaha semampuku. Tapi dia sangat cepat. Hafzan sudah bersimbah darah. Luka didadanya menganga. Aku panik, ku pikir, dengan menghubungi polisi, semuanya akan teratasi. Tapi sayang, Hafzan tidak tertolong." Praba terkekeh pelan.

Pak Mario sedikit tersentak. Ia bingung dengan kalimat yang diungkap oleh remaja tanggung dihadapannya. Pak Mario menelan ludah.

"Lantas, apa yang kau lakukan saat itu Praba?"

"Aku? Tentu saja membantunya. Apa lagi yang akan kulakukan untuk sahabatku selain membantunya?"

Pak Mario mengurut kening.

"Brandalan brengsek itu sungguh kejam. Tapi dia tau apa yang dia lakukan akan membuat penderitaan Hafzan berakhir."

Pak Mario menengadah, memelototkan matanya.

"Maksudmu, penderitaan apa?"

Dalam ruangan persegi empat yang hanya diterangi oleh bohlam redup, wajah Praba terlihat samar-samar menunduk.

"Anda ingin bertemu dengan brandalan brengsek itu, Pak?" Ujar Praba tanpa mengangkat wajahnya.

"Tentu, katakan, siapa dia?"

Praba pelan mengangkat kepalanya. Menatap Pak Mario datar, dingin, tanpa ekspresi.

Praba mengulurkan tangannya, "Aku Zadir. Orang yang telah berbaik hati menghilangkan beban hidupnya Hafzan, sahabat Praba."

4 disukai 5.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction