TAKDIR PEREMPUAN

    Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju dapur dengan rambut yang masih berantakan serta wajah khas bangun tidur. Saat melewati ruang tengah, mataku melirik jam dinding. Tepat pukul 08.00.

       “Jika bangun di waktu siang begini, lebih baik tidak usah bangun saja,” ucapnya.

       “Sudah ku duga. Kau akan mengatakan hal kasar lagi.”

       “Apa salah?”

       “Tidak, kau tidak pernah salah, Suamiku. Akulah yang tidak pernah becus mengurus segala kebutuhanmu.”

       “Bagus jika kau memahami kesalahanmu,” timpalnya dengan membawa gelas berisi kopi yang dibuat sendiri olehnya.

       Aku merutuki diri berulang kali di dapur. Sambil menyiapkan sarapan, tanpa sengaja air mataku terjatuh. Mataku mendadak sembab. Bukan kali pertama ia menyindirku. Ucapannya selalu terdengar biasa saja, tetapi sialnya aku selalu saja terbawa perasaan dan akhirnya berujung pada deraian air mata.

       Ketika pagi, perempuan-perempuan harus segera bangun sebelum matahari terbit. Jika tidak, mereka akan menjadi buah bibir tetangga atau bahkan Ibu mertua. Aku seorang wanita karir, bekerja mulai pagi hingga sore hari. Saat malam tiba, aku harus mengurus rumah dan segala keperluan suami serta anakku yang sekarang sudah berumur 5 tahun. Hariku sungguh sudah sesak, meskipun tanpa pagi. Tapi tidakkah mereka mengerti akan hal itu.

       “Jika dinasehati suami jangan hanya nangis saja kerjanya. Gimana bisa becus ngurus suami.”

       “Tidakkah kau penasaran kenapa aku bangun terlambat?”

       “Yang membuatku penasaran hanyalah kesungguhanmu menjadi seorang istri, menjadi seorang Ibu. Sudah ku bilang belajarlah membuat kopi seperti Ibuku, memasak nasi seperti masakan Ibuku, atau mencuci baju seperti cara Ibuku. Biar kamu menjadi istri yang benar-benar istri. Bukan hanya label status ktp belaka.”

       Aku terdiam sambil memandangnya. Bukan kali pertama ia mengatakan hal itu. Namun entah mengapa, mataku kembali berkaca-kaca tidak sabar untuk mengeluarkan cairan hangat dari dalam sana. Seperti sedang mengupas bawang, mataku mendadak perih. Dan hanya tangis yang membuatnya sedikit lega sekarang.

       “Aku adalah Istrimu mas, bukan Ibumu. Jika kau ingin aku melakukan semua pekerjaan rumah seperti Ibumu, maka tukarlah tanganku dengan tangan Ibumu. Tukarlah kepalaku dengan kepala Ibumu. Atau jika perlu, tukarlah rahimku dengan rahim Ibumu.”

       Mas Arya seketika bungkam. Napasnya tertahan di udara. Bahkan kopi yang sedang berada di dalam mulutnya pun enggan untuk turun di tenggorokannya. Mungkin ia kaget sekaligus tidak percaya dengan ucapanku barusan.

       Dengan langkah pasti aku berjalan menuju kamar untuk mengambil bingkisan yang ada di sana.

       “Ini, ambillah. Jika tahu kamu akan memakiku seperti ini, aku mungkin tidak akan membuatnya untukmu semalaman.”

       Aku berlalu pergi. Sementara Mas Arya, matanya masih terpaku pada kemeja biru yang kini ada di hadapannya.

7 disukai 1 komentar 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Solilokui.
Saran Flash Fiction