Flash Fiction
Disukai
3
Dilihat
6,135
Pengantin
Thriller

  Di sebuah gedung, digelar acara yang dihadir oleh beberapa orang yang berpakaian menengah ke atas. Dilihat sekilas pun bisa diketahui kalau ini adalah acara untuk orang-orang kalangan atas saja.

  Pernikahan. Mereka semua datang ke tempat itu untuk menghadiri perayaan pernikahan. Pesta setelah kedua mempelai sah menjadi suami istri.

  Semuanya menikmati acaranya. Mereka berbincang-bincang, bercanda tawa meski lelucon mereka sangat tidak lucu. 

  Di atas panggung, duduk seorang wanita muda yang cantik. Didandani sedemikian rupa seperti seorang putri dalam dunia dongeng. Wajah melankolisnya terlihat menyatu dengan pakaian yang dikenakannya. Riasan yang dipakainya tampak natural. Senyumnya yang selalu menyambut para tamu terasa sangat tulus. Seolah bisa melelehkan segala dinding es yang tebal. Seolah bisa memadamkan perasaan emosi yang membakar jiwa. Sosoknya yang kalem membuat orang-orang di sekitarnya kagum. Menjadikannya sebagai panutan.

  Namun, sepanjang acara wanita itu hanya duduk sendirian. Tanpa ada yang mendampingi. Tidak terlihat bahkan sedetik pun suaminya berada di acara itu, hadir dan menemaninya.

  Rumor demi rumor mulai menyebar di ruangan yang luas itu. Langit-langit yang tinggi tidak lagi dapat membendung omongan orang-orang. Akhirnya sampai ke telinga wanita itu. Yang sedari tadi sibuk melihat jam tangannya dengan khawatir.

  Ada yang bicara, “Dia hanya memanfaatkan suaminya saja.” ada juga, “Wanita tak tahu diri, dia diselamatkan dari kemiskinan dan sekarang meminta lebih.” “Dia pasti cuman mau hartanya saja.” “Wanita itu paling akan meninggalkannya kalau sudah dapat semua yang dia mau.” “Wanita kurang ajar.” “Wanita hina.” “Parasit.” 

  Berbagai kata-kata kasar dilontarkan secara tidak langsung melalui bisik-bisik dan tatapan merendahkan.

  Apa yang bisa diperbuat wanita itu sendirian di sana?

  Wanita itu memeriksa jam tangannya lagi. Tak lama kemudian wanita itu pergi meninggalkan aula. 

  Sang pengantin kini sudah meninggalkan tempatnya.

  Wanita itu masuk ke toilet. Melihat-lihat kondisi dan keadaan di dalamnya. Lalu mengunci pintu toilet. “Sayang.” kata wanita itu pelan. “Kau ada di mana?” satu persatu bilik kamar mandi dibukanya berurutan dari ujung kiri sampai ujung kanan.

  Di bilik terakhir, duduklah sang suami. “Sayang, apa kau baik-baik saja?” wanita itu tiba-tiba tersenyum. “Sudah merasa baikan?” 

  Wanita itu melepas lakban yang menutupi mulut sang suami. “Sudah bisa bernapas?” tanya wanita itu yang kemudian menempelkan telunjuknya ke bawah hidung suaminya. Lalu menempelkan telinganya di dada sang suami. “Ah, kau sudah tertidur lelap rupanya.” wanita itu terkikik.

  “Tidur yang nyenyak ya,” lakban terpasang lagi di mulut si suami. “Sayang, jangan lupa bernapas ya di alam sana. Oh iya, kalau begitu biar kau tak kesepian, aku akan mengirim yang lainnya ke tempatmu ya? Tunggu sebentar lagi ya sayang. Masih ada waktu lima menit. Hihihi.” wanita itu kemudian tertawa geli dan melangkah pergi. Keluar dari gedung dengan tawa riang gembira.

  “Aku suka menjadi pengantin.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
kirain korban eh rupanya pelaku yang sosiopat. 🤣 Suka banget ceritanya. 🌟🌟🌟🌟