Halo Nak

Jam 8 Pagi.

Telepon Selular Hendra berdering.

“Halo nak..”

Suara Sang Ibu yang lembut dan penuh kehangatan itu terdengar jelas di telinganya. Sudah tiga tahun lamanya Hendra merantau di Jakarta, sedangkan sang Ibu masih tinggal di Surabaya bersama Anak bungsunya, Arini.

“Iya kenapa bu?” Jawab Hendra singkat.

“Gimana kabarnya disana nak? Kamu Sehat-sehat?”

”Ya begini-begini aja lah bu. Ini lagi mau berangkat kerja. Nanti aja kita ngobrolnya ya bu. Aku pergi dulu.”

Hendra segera memutus teleponnya.

”Oh ok nak. Nanti Ibu telepon lagi ya.”

Tidak ada jawaban . Hendra sudah memutus teleponnya .

Jam 6 sore.

Telepon selular Hendra kembali berdering.

”Halo nak..” Ibu membuka percakapan.

“Iya ada apa lagi bu?” Kali ini Hendra menjawab ibunya dengan nada yang kurang bersahabat.

“Kamu udah pulang kerja nak? Lagi apa sekarang? Udah lama sekali kita gak ngobrol.” Kali ini Sang Ibu berupaya semaksimal mungkin agar bisa berbicara lebih lama dengan anaknya.

”Iya ini lagi ada banyak kerjaan di kantor Bu. Dari kemarin lembur terus.“

”Oh, Jadi sekarang kamu masih di kantor nak?” Tanya sang Ibu.

Hening. Tidak ada jawaban dari Hendra.

”Halo nak? Kamu bisa denger Ibu?” Sang Ibu memastikan.

“Bu, ini aku barusan dipanggil teman kantor. Masih sibuk banget nih. Besok aku telepon ya. Salam buat Arini.”

Sebelum Sang Ibu sempat menjawab, teleponnya sudah ditutup Hendra. Sang Ibu tertunduk. Perlahan air matanya menetes. Ia tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. 

Si Bungsu, Arini, yang mendengar tangisan Ibunya masuk ke Kamar. Melihat Ibunya yang menangis tersedu-sedu, Arini langsung menghampiri Sang Ibu dan memeluknya.

Jam 10 malam.

Nama Ibu kembali muncul di layar Handphone Hendra.

”Ada apa lagi sih bu? Tadi kan Aku udah bilang kalau hari ini bener-bener sibuk banget. Harus banget ya nelpon tiga kali sehari?"

Kali ini suara Hendra semakin meninggi diiringi dengan nada emosi.

“Ini aku Mas. Arini.”

”Oh kamu dek. Kok kamu hubungi mas Hendra pake HP Ibu?”

”Iya. Nomor Mas Hendra sudah aku hapus di HPku soalnya.”

Jawaban Arini yang singkat namun menusuk membuat Hendra terdiam sejenak. Ia terkejut mendengar sikap adiknya.

“Jadi ada apa dek? Ibu dimana?” 

”Ibu udah gak ada. ” Terdengar jelas suara Arini yang mencoba menahan tangis.

”Hah? Ibu udah gak ada?”

”Iya. Ibu kena Serangan Jantung . Ini udah yang kedua kali dan langsung fatal. “

”Serangan kedua? Sejak kapan ibu sakit jantung?”

“Udah lama. Kenapa? Emangnya selama ini Mas Hendra peduli sama kabar Ibu?”

Hendra tertunduk malu dan menyesal. Ia yang saat ini sedang berpesta di kafe bersama teman-teman kantornya merasa sangat terpukul mendengar kabar ini. Baru empat jam yang lalu ia mendengar suara Ibunya, dan kini Sang Ibu tercinta telah meninggalkannya untuk selamanya.

”Selamat ya mas. Sekarang kamu gak akan pernah diganggu lagi sama telepon dari Ibu.”

Tak lama setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Arini langsung menutup teleponnya. 

Hendra masih terdiam. Kata maaf untuk Ibu tercinta tak sempat terucap dari mulutnya. Hanya tersisa rasa sesal tiada terhingga yang akan selalu menghantui dan terus Ia bawa hingga akhir hayatnya.                                      

TAMAT

12 disukai 5 komentar 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Makasih banyak andine . I Really really appreciate it! 🙏🏻
Pedih.. Tapi juga hangat. Kena sama cara nulisnya. Selamat mas Alvin. Keren
Masama (^_•) Iya, ngumpul sama keluarga itu enggak ada duanya...
Wah thank you ya utk supportnya.
Syukurlah Sekarang udah berkumpul lagi. Ikut Senang dengarnya. 🙏🏻
Nyeseeek...hiks. Aku lama tinggal jauh dari ortu, dan sekarang senang bisa ngumpul lagi setelah selesai sekolah.
Saran Flash Fiction