Ambisi punya bunyi yang khas.
Ia terdengar dari kursi yang digeser tergesa, ujung pulpen yang diketuk tak sabar, hingga lembar soal yang dibalik sebelum instruksi selesai dibacakan.
Ia hidup di ruang berpendingin udara, di antara grafik kelulusan dan foto siswa berprestasi yang memenuhi dinding. Di bimbingan belajar terbesar di Kota Malang itu, masa depan terasa seperti garis start yang tak pernah benar-benar memberi aba-aba.
Semua orang berlari. Syafa termasuk yang paling depan.
Sejak kecil, ia mengenal angka sebagai ukuran harga diri. Rangking satu bukan sekadar prestasi, melainkan bukti bahwa dirinya layak dibanggakan. Setiap piala di ruang tamu menjadi pengingat bahwa ia tak boleh goyah. Tak boleh biasa saja.
Bagi Syafa, duduk di barisan paling depan bukanlah pilihan, melainkan naluri. Punggungnya selalu tegak, catatannya tersusun rapi, dan jawaban seolah telah tersedia sebelum pertanyaan selesai diajukan. Ia tahu bagaimana caranya menjadi yang unggul.
Hingga suatu sore, seorang siswa baru memasuki ruangan dengan langkah santai. Namanya Zidan.
Tidak ada yang mencolok dari penampilannya. Kacamata tipis, rambut sedikit berantakan, dan tas sederhana yang disandang tanpa banyak gaya. Ia tidak mencari kursi kosong di barisan depan. Sebaliknya, ia memilih duduk di tengah, seolah tempat duduk bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan.
Beberapa siswa berbisik memperhatikan kedatangannya. Syafa hanya melirik sekilas sebelum kembali menunduk. Baginya, Zidan bukan tipe laki-laki yang mampu membuat jantungnya berdebar. Penampilannya pun tidak cukup menarik perhatian.
Di tempat seperti itu, kebanyakan orang datang untuk membuktikan sesuatu. Namun, Zidan justru tampak seperti seseorang yang tidak sedang berusaha membuktikan apa pun.
Bagi Syafa, sikap seperti itu sama sekali tidak menarik.
Meski begitu, ketenangan Zidan justru menyisakan rasa penasaran yang sulit ia jelaskan. Di tengah orang-orang yang berlomba menunjukkan kemampuan, laki-laki itu seolah tidak merasa perlu melakukan hal yang sama. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang berada di tempat penuh persaingan seperti itu.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama yang nyaris sama. Latihan soal, pembahasan cepat, dan target nilai yang terus meningkat. Nama-nama siswa disebut ketika berhasil, sementara nilai terbaik dipajang sebagai penyemangat bagi yang lain.
Syafa menikmati semua itu. Setiap kali jawabannya benar, tentor kerap menyebut namanya. Ketika keliru, ia segera memperbaikinya. Pujian dan kekaguman teman-teman menjadi semacam bahan bakar bagi dirinya, sesuatu yang diam-diam ia butuhkan lebih dari yang ingin ia akui.
Zidan jarang menjadi pusat perhatian. Ia menjawab seperlunya, mencatat, lalu menyimak setiap penjelasan. Jika jawabannya keliru, ia hanya mengangguk dan mencoret bagian yang salah tanpa banyak komentar. Ia tidak menunjukkan keinginan untuk mengungguli siapa pun. Sikap seperti itu masih terasa asing bagi Syafa.
Seminggu kemudian, hujan turun deras selepas kelas. Lorong dipenuhi siswa yang menunggu hujan reda. Terdengar tawa kecil, keluhan tentang kemacetan, serta suara telepon yang bersahutan. Syafa berdiri di dekat jendela, memandangi jalanan yang mengilap diguyur hujan.
Jilbab kremnya terpasang rapi. Namun, satu kancing teratas blusnya dibiarkan terbuka, seperti biasa. Ia menyukai kesan modern yang menurutnya membuat penampilannya terlihat berbeda. Ia tahu, tanpa perlu melakukan apa pun, penampilan itu cukup membuat orang meliriknya.
“Syafa.”
Ia menoleh. Zidan berdiri beberapa langkah darinya. Sejenak, laki-laki itu tampak ragu sebelum akhirnya membuka suara.
“Aku mungkin lancang,” ucapnya pelan.
Syafa hampir tersenyum sinis. “Kalau sudah tahu lancang, kenapa masih mau bicara?”
Zidan menarik napas singkat. “Karena kalau aku diam, aku takut niat baikku justru berubah jadi pengecut.”
Hujan di luar semakin deras. Butir-butir air menghantam kaca, mengisi jeda di antara mereka.
“Aku cuma mau bilang ... kamu itu pintar. Cara kamu menjawab soal, cara kamu berdiskusi, semuanya menunjukkan kalau kamu punya kemampuan. Kamu terlihat berharga.”
Syafa tak menyangka pujian itu keluar dari mulut Zidan. Ia menatap laki-laki itu sedikit lebih lama, mencoba memahami maksud perkataannya.
“Tapi, aku khawatir orang lain justru melihatmu bukan karena itu.”
Zidan tidak menunjuk atau mengarahkan pandangan pada penampilan Syafa. Ia tetap menjaga tatapannya, seolah ingin memastikan bahwa perkataannya tidak membuat gadis itu merasa direndahkan.
“Aku nggak bermaksud menghakimi,” lanjutnya, sedikit tergesa. “Aku juga masih punya banyak kekurangan. Cuma, sesuatu yang berharga memang sebaiknya dijaga. Termasuk diri sendiri.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, tanpa tekanan. Namun, entah mengapa, kata-katanya terasa seperti ketukan pelan dari dalam diri Syafa.
“Siapa kamu sampai merasa berhak mengaturku?” Suara Syafa terdengar lebih tajam daripada yang ia maksudkan.
“Aku nggak sedang mengaturmu.” Zidan menggeleng pelan. “Kalau kamu marah, aku paham. Anggap saja ini pengingat ... mungkin suatu hari nanti kamu akan membutuhkannya.”
Zidan mundur selangkah. Hanya itu. Ia tidak berusaha menjelaskan lebih jauh, apalagi memperpanjang perdebatan.
Namun, sore itu Syafa pulang dengan perasaan yang berbeda. Hujan yang tadi hanya menjadi latar percakapan kini seolah meninggalkan sesuatu yang belum selesai dalam pikirannya.
Malamnya, ia berdiri lebih lama di depan cermin. Selama ini, ia terbiasa melihat dirinya sebagai pemenang. Sebagai anak yang selalu bisa diandalkan. Sebagai seseorang yang merasa tidak pernah memiliki kekurangan.
Kini, ia mencoba mengancingkan blusnya hingga bagian teratas. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali membukanya, lalu menutupnya lagi. Gerakan sederhana itu terasa seperti pertarungan sunyi dalam dirinya.
Apakah ia berubah hanya karena teguran Zidan? Ataukah perkataan laki-laki itu membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah ia pikirkan: betapa besar keinginannya untuk selalu diperhatikan? Ia belum menemukan jawabannya.
Keesokan harinya, Syafa datang seperti biasa. Ia kembali duduk di barisan depan dan mengikuti pelajaran dengan serius. Tidak ada perubahan mencolok. Hanya satu kancing blusnya yang kini tertutup. Tak seorang pun menyadarinya. Namun, entah mengapa, ada bagian kecil dalam dirinya yang terasa lebih tenang.
Hari berikutnya, ia menutup satu kancing lagi. Perubahan itu berlangsung perlahan, nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Namun, bagi Syafa, setiap langkah kecil itu memiliki arti.
Suatu sore, Syafa mendapati Zidan tertidur di meja belajar. Sebuah buku terbuka di bawah pipinya. Lingkaran hitam samar tampak di bawah kedua matanya, membuat wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Ketika terbangun, ia segera mengangkat kepala, lalu tersenyum kecil sambil meminta maaf.
Belakangan, Syafa mengetahui bahwa ayah Zidan telah lama sakit. Sepulang bimbingan belajar, Zidan sering langsung menuju rumah sakit untuk menemani ayahnya.
“Kenapa dia nggak pernah cerita?” tanya Syafa kepada salah seorang temannya suatu hari.
“Katanya, nggak semua perjuangan perlu diumumkan,” jawab temannya.
Kalimat itu menetap lebih lama dari yang Syafa duga. Perlahan, ia mulai menyadari betapa sering dirinya menceritakan setiap pencapaian. Betapa takutnya ia jika suatu hari tak lagi disebut sebagai yang terbaik. Selama ini, ia selalu ingin unggul. Namun, ia tak pernah benar-benar bertanya pada dirinya sendiri, untuk apa semua itu ia kejar.
Seminggu sebelum ujian, bimbingan belajar itu mengadakan doa bersama.
Tanpa banyak pertimbangan, Syafa memilih mengenakan gamis panjang dan jilbab yang lebih lebar. Tak ada pengumuman, tak pula perubahan yang mencolok. Hanya sebuah keputusan sederhana yang lahir dari kesadaran dalam dirinya.
Aula yang biasanya dipenuhi suara pembahasan soal kini terasa lebih hening. Beberapa siswa duduk bersila. Tak ada grafik nilai ataupun daftar peringkat yang terpampang di hadapan mereka. Hanya suara kipas angin dan napas orang-orang yang terdengar lebih pelan dari biasanya.
Ketika seseorang meminta sukarelawan untuk memimpin sholawat, beberapa siswa langsung menyebut nama Zidan. Tanpa banyak bicara, ia bangkit dan melangkah ke depan.
Syafa hanya memperhatikan. Ia masih belum memiliki bayangan tentang apa yang akan terjadi.
Zidan mulai melantunkan sholawat. Suaranya tidak terlalu tinggi, tanpa dibuat-buat. Sedikit bergetar pada awalnya, lalu perlahan terdengar lebih stabil. Ada ketenangan yang mengalir dalam setiap lantunannya. Seolah ia tidak sedang tampil atau menunjukkan kemampuan, melainkan melantunkan pujian dengan sepenuh hati.
Untuk pertama kalinya, Syafa tidak lagi memandang Zidan sebagai siswa baru yang terlalu santai. Di hadapannya kini ada seseorang yang memiliki sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka. Di tengah ambisi yang selama ini memenuhi dadanya, ia merasakan ruang kosong yang perlahan terisi oleh sesuatu yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Air matanya jatuh tanpa disadari. Bukan semata-mata karena lantunan itu terdengar indah, bukan pula karena ia terpesona. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak terasa begitu kecil. Selama ini, ia sibuk mengejar keunggulan, ingin terlihat, dan haus akan pengakuan. Namun, saat mendengarkan lantunan sederhana itu, semua perlombaan yang selama ini ia anggap penting mendadak kehilangan makna.
Di momen itulah Syafa menyadari bahwa ada perasaan yang tumbuh tanpa pernah ia undang. Ia tidak merasakan debar seperti yang sering diceritakan dalam kisah-kisah cinta. Ia justru terdiam. Dan dari diam itulah, cinta perlahan menemukan tempatnya.
Hari terakhir sebelum ujian, Zidan tidak hadir. Ayahnya sedang dalam kondisi kritis.
Beberapa minggu kemudian, kabar duka itu datang. Ayah Zidan meninggal dunia. Setelah itu, Zidan memutuskan untuk bekerja membantu ibunya dan menunda kuliah.
Pesan terakhirnya di grup WhatsApp tertulis singkat...
[Terima kasih, dan maaf jika ada salah kata maupun perbuatan. Aku doakan kalian bisa terus berjuang menggapai impian masing-masing.]
Syafa membaca kalimat itu berulang kali. Tidak ada keluhan, tidak ada penjelasan panjang. Hanya jeda yang terasa lebih berat daripada kata-kata. Rasa sakit menyelimuti hatinya, meski ia sendiri tak benar-benar memahami mengapa.
Malam itu, ia kembali berdiri di depan cermin. Bukan untuk menilai, bukan pula untuk membandingkan. Ia hanya menatap sosok yang selama ini ia dorong terlalu keras. Ada perasaan baru yang perlahan ia kenali, sesuatu yang tak pernah ia beri ruang untuk tumbuh sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjadi yang paling menonjol. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri bahwa ia mulai jatuh hati kepada Zidan.
Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Bahkan, mungkin Zidan tak pernah tahu bahwa satu lantunan sholawat telah mengubah arah hidup seseorang.
Beberapa bulan kemudian, Syafa resmi menjadi mahasiswa Psikologi di kampus impiannya. Tak ada yang mengenalnya sebagai juara apa pun. Ia hanyalah satu dari ratusan mahasiswa baru yang berjalan cepat, membawa kecemasan dan harapan masing-masing.
Pada hari pertama kuliah, ia memilih duduk di tengah. Tidak terlalu depan, tidak pula terlalu belakang. Cukup untuk belajar.
Dari masjid kampus terdengar lantunan sholawat. Suaranya biasa saja. Namun, setiap kali mendengarnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang kembali pada sebuah aula sederhana di Kota Malang, pada seorang laki-laki yang tidak pernah berusaha menjadi istimewa.
Syafa tidak tahu di kota mana Zidan bekerja saat ini. Ia juga tidak tahu apakah mereka akan bertemu lagi. Ia hanya tahu bahwa perasaan itu tak pernah benar-benar selesai. Bukan karena ia terus menunggunya, melainkan karena sebagian dari dirinya pernah tumbuh di sana: pada perjumpaan yang tak pernah ia duga, pada lantunan sholawat yang membuatnya merasa kecil, dan pada perasaan yang diam-diam mengajarinya menjadi lebih baik.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Syafa berjalan tanpa perlu terlihat unggul. Langkahnya terasa ringan. Meski ada satu nama yang tetap ia simpan dalam diam dan doa.