BAB 2
KOTA AWAL
(Kakak beradik yang unik)
Dari kejauhan, terdengar samar-samar suara orang ramai, menyatu padu dengan suara pohon yang tertiup angin, sinar mentari menerpa kulit, hangatnya menembus kereta kuda yang membuatku membuka mata, terbangun dan melihat kedepan. Dari kejauhan, terlihat sepasang penjaga berzirah besi lengkap berdiri di depan gerbang utama kota sofya. Kereta kuda mulai melambat dan mendekat sampai tepat di depan gerbang. Roda kayu berderit pelan, berhenti di atas batu-batu besar yang tersusun rapi membentuk jalan. Aku melompat turun, kakiku menginjak tanah kota untuk pertama kalinya.
"Akhirnya kita sampai di Kota Sofya," ucap rekan petualangku sambil menepuk pundakku. "Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus segera kembali membantu ketua dan yang lain."
Aku menatapnya, merasa khawatir dengan paman tua dan rekan yang lain. “pertarungan dengan naga hitam itu, apa mereka masih bertahan sekarang…”
Rekan itu tersenyum lebar. "Tenang saja. Mereka pasti sudah menanganinya. Wakil ketua kami memang terlihat santai, tapi dia sangat kuat. Lagipula, ketua Besi Pengelana, aku belum pernah melihatnya kalah dalam pertarungan seumur hidupnya."
Sebuah nama. Besi Pengelana. Orang tua misterius yang menyambutku saat pertama kali terbangun di dunia ini. Bahkan sampai saat ini, kata-kata dan cara bertarungnya masih terngiang dalam pikiranku, seolah memberi dorongan untuk membuka jalan baru.
"Kalau begitu... sampaikan terima kasihku padanya," ucapku.
"Akan kusampaikan." Rekan itu mengeluarkan pisau kecil dari tasnya “bawalah ini, siapa tau berguna untukmu”
Aku menganggukan kepala dan menerima pisau itu.
“Baiklah ini waktunya berpisah”. Rekan itu melompat kembali ke kereta, mengambil kendali kuda. "Oh ya, satu pesan dari ketua: carilah Mubia di balai kota. Dia bisa membantumu memahami dunia ini."
“Terimakasih”. Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan atas semua bantuan yang telah mereka berikan pada ku. Ku harap suatu hari nanti, bisa menemui mereka lagi.
Kereta mulai bergerak. Aku melambaikan tangan, meski ia sudah berlalu. Debu beterbangan ditiup angin, dan aku kini berdiri sendirian di depan gerbang Kota Sofya yang megah.
Gerbang itu sendiri sudah seperti karya seni. Terbuat dari kayu jati setebal dua tombak, dihiasi ukiran-ukiran rumit berbentuk sulur tanaman. Di atasnya, tergantung lambang kota, sebuah perisai dengan gambar menara dan sungai yang mengalir di bawahnya.
Sofya, Kota Kearifan.
Aku melangkah masuk.
Suara hiruk-pikuk langsung menyambutku begitu kakiku melewati ambang gerbang. Pasar Sofya, ternyata pasar ini langsung terhubung dengan pintu masuk utama. Banyak orang terlihat sedang berjualan.
"Pisau-pisau tajam! Dibuat dari baja pilihan!"
"Rempah-rempah dari ujung timur! Dijamin asli!"
“Potion berkualitas tinggi! harga menengah! Dijamin ampuh!”
"Susu murni! Susu murni! Ada yang mau susu sapi murni!"
Aku berjalan di antara kerumunan, mencoba menyerap semua pemandangan. Para pedagang duduk berjajar di kedua sisi jalan. Ada yang menjajakan sayuran segar, daging asap, kain tenun, hingga perhiasan berkilau. Di sudut lain, seorang pandai besi terlihat sedang menempa pedang, sura palunya yang khas “clink… clank… tangkt…”. Terdengar sampai ke gerbang kota, percikan api beterbangan di setiap pukulan palunya.
Anak-anak kecil berlarian di antara celah-celah orang dewasa, tertawa riang. Seorang ibu memanggil-manggil mereka sambil menggendong bayinya. Para petualang dengan berbagai macam perlengkapan terlihat duduk di kedai minuman, bercerita tentang pengalaman mereka di hutan atau reruntuhan kuno.
Sembari berjalan aku mencium banyak hal, aroma roti panggang hangat bercampur dengan wangi daging asap yang gurih dan sedikit bau ikan dari perahu di sungai sekitar. Perpaduan bau yang aneh, entah kenapa perutku jadi keroncongan.
Aku meraba sakuku, kosong. Tidak ada uang. Tidak ada bekal.
"Wajar saja," gumamku. "Aku bahkan tidak tahu dari mana aku berasal. Mana mungkin punya uang."
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seseorang menabrakku dari samping.
"Wah... maaf-maaf!"
Seorang gadis muda dengan rambut dikepang dua jatuh tersungkur. Di sampingnya berserakan beberapa lembar kertas dan kantong kain.
Aku segera membantunya berdiri. "Tidak apa-apa. Aku juga kurang hati-hati."
Gadis itu tersenyum cerah sambil mengusap lututnya yang sedikit lecet. "Untung kertas-kertas ini tidak basah!" Ia membereskan barang-barangnya, lalu menatapku. "Kamu petualang baru ya? Belum pernah aku lihat wajahmu sebelumnya."
Aku mengangguk ragu.
"Hahaha, ketebak!" Ia tertawa. "Namaku Triel. Aku juga petualang. Dari mana asalmu?"
"Entah… dari mana," jawabku jujur.
Triel mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Aku tidak ingat masa laluku. Aku baru sadar tiga hari lalu di padang rumput dekat hutan, lalu bertemu seseorang bernama Besi Pengelana dan groupnya. Dia menyuruhku untuk ke kota ini."
Mata Triel membelalak. "Besi Pengelana? Yang legenda itu? Kamu bertemu langsung dengannya?"
"Kamu kenal dia?"
"Semua petualang di Iruna pernah dengar namanya!" seru Triel antusias. "Katanya dia sudah menjelajah dunia ini lebih dari seratus tahun. Tapi tidak banyak yang pernah bertemu langsung. Kamu beruntung sekali!"
Aku terdiam. Lelaki tua itu ternyata lebih terkenal dari yang kukira.
Triel menatapku dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kalau kamu baru sampai Sofya, pasti belum punya tempat tinggal dan uang kan?"
Aku mengangguk malu.
"Nah, kebetulan sekali!" Triel menjentikkan jari. "Kakakku dan aku sedang mencari anggota baru untuk misi di Tanah Pembangunan. Lumayan lho, hadiahnya cukup buat hidup seminggu di Sofya. Mau ikut?"
"Tapi aku...". Sempat ragu karena tidak kenal siapapun disini dan lingkungan ini juga terasa baru bagiku.
"Ah nggak usah ragu-ragu!" Triel menarik tanganku. "Ayo ikut aku! Kakakku memang agak... hm... agak galak sama pendatang baru, tapi percayalah, kamu bisa membuktikan diri. Lagipula, aku sudah lihat caramu bergerak tadi pas aku jatuh. Refleksmu cepat. Pasti kamu bisa bertarung!"
Aku ingin menolak, di satu sisi aku belum punya banyak pengalaman dalam bertarung meskipun pernah di ajari cara menggunakan pedang oleh rekan petualang di perjalanan tapi aku yakin itu masih belum cukup. Namun melihat antusiasme Triel yang tulus, entah kenapa ada kehangatan aneh di dadaku. Sesuatu yang asing, tapi terasa... nyaman.
"Baiklah," ucapku akhirnya.
Triel bertepuk tangan. "Yess! Ayo ikut aku!"
Triel membawaku pergi melewati pasar, berbelok ke gang sempit di antara dua bangunan tinggi, lalu keluar di area yang lebih tenang. Di sini, rumah-rumah penduduk berjejer rapi dengan halaman kecil di depannya. Beberapa warga duduk di teras, menikmati sore yang teduh.
Di ujung gang, di sebuah rumah dengan pagar kayu sederhana, Triel berhenti.
"Ini tempat tinggalku," katanya. "Tunggu di sini ya, aku panggil kakakku."
Ia masuk, meninggalkanku di luar. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan sesosok lelaki keluar.
Posturnya tegap, sedikit lebih tinggi dariku. Rambutnya hitam disisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan garis rahang kuat. Dua bilah pedang terselip di punggungnya, pedang kembar dengan ukiran naga di gagangnya. Matanya menyipit begitu melihatku, mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau yang tadi bersama adikku?" suaranya berat, datar.
Aku mengangguk pelan, mencoba bersikap seramah mungkin.
“Katakan namamu”. Dia bertanya
Aku tidak tahu bagaimana harus meresponnya, aku tiba-tiba ada di dunia ini, tidak punya nama maupun jati diri. Mungkin jujur adalah pilihan yang terbaik, “aku tidak punya nama untuk saat ini…”
“Apa apaan itu…, bagaimana kau bisa menemukan orang aneh seperti ini triel” tanyanya kepada Triel.
“Meskipun begitu, dia cukup hebat lho kak! Aku lihat dari respon tubuhnya yang cepat” jawab Triel
Kakak Triel menggaruk kepala dan menghela nafas, “Huhhh…, sudahlah, tapi akan sulit memanggilmu ketika sedang menjelajah nanti. Begini saja, aku akan memanggilmu anjing pemburu, bagaimana?”
“Kak, sepertinya nama itu agak…”, respon Triel
“Baiklah, kalau begitu kau saja yang memberinya nama, sekaligus nanti buatkan dia kartu tanda pengenal di kota” jawab kakaknya.
Aku penasaran apakah kakaknya Triel ini membenciku atau hanya bersikap tegas. Tapi bagaimanapun dia terlihat seperti kakak yang penyayang.
“Kyle… bagaimana dengan nama itu”, ungkap Triel.
“Kyle ya…, sepertinya boleh juga”. Lanjut kakaknya.
Aku pun menganggukan kepala, aku suka nama itu singkat dan mudah di ingat. “Baiklah mulai sekarang namaku adalah Kyle”, aku menjulurkan tanganku.
"Balft." Ia tidak menjulurkan tangan. "Langsung saja, aku dengar dari Triel kau mau ikut misi kami. Tapi sebelumnya, aku perlu tahu, apa kau pernah bertarung?"
Aku terdiam sejenak. "Aku... tidak tahu. Aku tidak ingat masa laluku. Tapi tubuhku..."
"Tubuhmu?". Respon Balft
"Sepertinya ada ingatan samar-samar di tubuhku tentang caranya bertarung. Saat Triel jatuh tadi, aku bisa menangkapnya langsung. Seolah tubuh ku merespon dengan cepat saat ada sesuatu."Kurang lebih begitu jawabku.
Balft mengerutkan kening. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapanku. Sorot matanya tajam, seperti mencoba membaca sesuatu di dalam diriku.
"Keluarkan pedangmu," perintahnya.
"Apa?" Jawabku kaget.
"Keluarkan pedangmu. Aku ingin lihat caramu bergerak."
Aku ragu, tapi tanganku sudah bergerak secara refleks. Pedang kayu di punggungku terhunus dalam satu gerakan cepat. Posisi bertahan, kaki kiri di depan, lutut sedikit ditekuk, pedang di depan dada.
Balft mengangguk pelan. "Posisi dasar yang benar. Tapi gerakanmu masih kaku." Ia menghela napas. "Baik, kau bisa ikut. Tapi ingat, jika kau membahayakan adikku, aku tidak akan segan mengusirmu dan membuat perhitungan dengan mu. Paham?"
"Paham." Aku memasukan pedangku kembali.
Triel muncul dari balik pintu membawa selimut dan bantal ditangannya, ia tersenyum lebar. "Lihat kan, Kak? Dia baik kok!"
Balft hanya menghela nafas. "Kita berangkat besok pagi. Istirahat yang cukup. Triel, siapkan perbekalan."
"Iya, Kak!. Oh ya, kau menginaplah bersama kami malam ini, kau belum punya uang untuk menyewa penginapan kan” ucap Triel
“Terimakasih” jawabku sambil tersenyum.
“Hanya untuk malam ini, besok tidur di tempat lain!” Kata Balft sambil melangkah ke ruangan. “Triel kau juga tidurlah setelah menyiapkan bekal untuk besok” lanjutnya.
“Baiklah, aku akan menyiapkan bekal dulu untuk besok.” Triel melangkah ke dapur.
Malam turun perlahan di Kota Sofya.
Aku duduk di teras rumah Balft dan Triel, memandangi langit yang mulai bertabur bintang. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dari sungai yang mengalir di kejauhan.
Di dalam rumah, Triel sibuk menyiapkan perbekalan. Sesekali terdengar suara barang jatuh dan umpatan kecilnya. Balft duduk di sudut ruangan, mengasah pedangnya dengan gerakan lambat dan teratur.
Aku masih belum percaya, hanya dalam beberapa jam, aku sudah punya tempat berteduh dan teman baru.
Atau setidaknya, orang yang mau menerimaku.
"Kyle." Suara Balft memanggil dari dalam. "Masuklah. Malam di Sofya bisa dingin."
Aku melangkahkan kaki dan masuk ke dalam. Rumah itu sederhana, hanya satu ruang utama dengan dua kamar kecil di belakang. Ada meja kayu di tengah, beberapa kursi, dan dapur kecil di sudut. Dindingnya dihiasi peta-peta usang dan senjata-senjata yang tergantung rapi.
Triel keluar dari kamar dengan membawa selimut. "Ini untukmu. Maaf cuma ada selimut tambahan, nggak ada kamar kosong."
"Tidak apa-apa. Aku sudah sangat berterima kasih." Jawabku
Kami duduk mengelilingi meja. Triel menyajikan teh hangat dan roti sisa. Sederhana, tapi bagi perutku yang lapar, ini terasa seperti hidangan terlezat di dunia.
"Jadi, Kyle," Triel memulai, "kamu benar-benar nggak ingat apa-apa tentang masa lalumu?"
Aku menggeleng sambil mengunyah roti. “Tidak satupun”.
"Aneh," gumam Balft. "Aku pernah dengar kasus seperti ini. Kadang terjadi pada petualang yang terkena kutukan atau serangan monster tertentu. Tapi biasanya mereka masih ingat sebagian. Kalau kamu... benar-benar kosong."
"Mungkin itu lebih baik," ucapku pelan. "Masa lalu yang hilang berarti tidak ada beban yang harus dibawa."
Triel menatapku dengan sorot mata hangat. "Kyle... sedih ya, nggak punya kenangan sama sekali.”
Aku tersenyum kecil. "Aku tidak tahu apakah ini sedih atau tidak. Karena aku tidak punya perbandingan."
Suasana hening sejenak.
Balft tiba-tiba berdiri. "Aku akan berjaga-jaga di luar. Malam ini aku merasa ada yang tidak beres." Tanpa menunggu respon siapapun, ia keluar.
Triel menghela napas. "Kakakku... dia selalu seperti itu. Waspada berlebihan."
"Mungkin ada alasannya." Ucapku pelan.
"Mungkin." Triel menunduk. "Tapi dia tidak pernah cerita. Aku juga nggak tahu banyak tentang masa lalunya. Dia selalu menghindar kalau ditanya."
Aku diam. Setiap orang punya rahasianya masing-masing. Mungkin Balft juga menyimpan sesuatu.
"Malam sudah larut," ucapku. "Kau sebaiknya istirahat. Besok kita harus bangun pagi kan."
Triel mengangguk. "Kamu sendiri cepatlah tidur ya, ngga perlu bantu jaga"
"Aku akan tidur sebentar lagi. Tenanglah." Jawabku
Triel tersenyum, lalu masuk ke kamarnya. Aku duduk sendiri di ruang utama, mendengar suara jangkrik dari luar dan derit kayu rumah yang tertiup angin.
Toram. Iruna. Naga hitam. Dua belas dewa pilar. Benda tak dikenal.
Semuanya masih menjadi misteri. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya sejak terbangun di padang ilalang, aku merasa... punya tujuan.
Besok, aku akan ikut misi ke Tanah Pembangunan. Mungkin di sana aku bisa menemukan jawaban.
Atau setidaknya, menemukan lebih banyak pertanyaan.
Tengah malam.
Aku terbangun dari tidur ringanku. Bukan karena suara, tapi karena keheningan yang tiba-tiba. Jangkrik berhenti bernyanyi. Angin berhenti berhembus. Sofya seperti membeku dalam waktu.
Aku bangkit, melangkah pelan ke luar rumah.
Balft berdiri di halaman, menatap langit. Wajahnya terlihat tegang.
"Ada apa Balft?" tanyaku.
Ia menunjuk ke langit. Di antara bintang-bintang yang bertaburan, ada secercah cahaya ungu redup. Sangat redup, hampir tidak terlihat. Tapi semakin lama kutatap, semakin jelas bentuknya, itu seperti pusaran kecil yang berputar lambat.
"Itu lah yang kulihat sejak tadi" ucap Balft. "Awalnya hanya titik kecil. Sekarang mulai membesar."
"Maksudmu...?" Tanyaku penasaran
"Aku tidak tahu. Tapi firasatku bilang ini bukan pertanda baik." Ia menoleh padaku. "Kau lihat warna ungu itu? Sangat aneh bukan.” Jawabnya dengan tatapan yang serius mengarah ke pusaran itu.
Aku merinding. "Iya... sama persis."
“Jika ku lihat lagi, warna itu seperti yang ada pada tubuh naga hitam waktu pertama kali aku tiba di dunia ini”, ucapku pelan.
“Apa maksudmu?” Tanya Balft antusias.
Aku menceritakan kejadian itu. Dimana, saat pertama kali tiba di dunia ini dan bertemu dengan paman besi tua beserta yang lainnya, kami diserang seekor naga besar hitam yang muncul tiba-tiba dari langit, naga itu menyerang dengan kuat menggunakan ekor dan cakar besarnya, di tambah lagi dia sepertinya bisa menyemburkan api yang kuat.
“Kalau ku ingat-ingat lagi, saat naga itu muncul di depanku, tubuhnya di liputi Kristal berwarna ungu, seperti yang ada di langit saat ini. Apakah ini hanya kebetulan?” Tanyaku bingung.
“Mungkin saja, atau mungkin juga berhubungan” Jawab Balft sambil mengerutkan dahinya.
Kami berdua terdiam, memandangi pusaran ungu di langit malam. Sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Balft menarik napas panjang. "Hahh… Besok, kita harus selesaikan misi di Tanah Pembangunan secepatnya. Aku tidak ingin Triel berada di luar terlalu lama jika sesuatu terjadi."
"Apa kau yakin misi itu aman?" Tanyaku.
"Tidak ada yang aman di dunia ini," jawab Balft datar. "Tapi setidaknya, aku bisa melindunginya selama aku masih hidup."
Aku menatap lelaki itu. Di balik sikap dinginnya, ada cinta yang begitu besar pada adiknya. Mungkin itulah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras di dunia yang kacau ini.
"Aku akan bantu melindunginya juga," ucapku.
Balft menatapku. Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyuman, tapi setidaknya... penerimaan.
"Kau cukup aneh untuk jadi petualang," gumamnya. "Tapi sepertinya kau bisa diandalkan."
Itu pujian tertinggi yang bisa ku dapatkan malam itu.
Kami kembali ke dalam. Pusaran ungu masih berputar di langit, tak peduli pada dua petualang kecil yang merasa cemas di bawahnya.