Konon, sebuah toko kaca di pinggiran kota memberikan kesempatan padamu untuk mengungkap jati dirimu lewat sebuah cermin. Cermin yang menampakkan jati diri yang tersembunyi jauh di alam bawah sadarmu. Sebuah sosok yang mungkin sama sekali lain dan tak pernah kaubayangkan sebelumnya. Kalau kau tertarik, datanglah. Apa yang ‘kan kau dapat dari sana, itu semua bergantung padamu.
***
“Desain kaca patri untuk ruang tamu, lalu pemasangannya, ya?”
“Maaf, tapi yang benar ruang pertemuan, bukan ruang tamu.”
Cepat-cepat aku meminta maaf, dan segera mengoreksi catatan yang aku tulis. Pelanggan di hadapanku terkekeh pelan dan menganjurkan padaku untuk jangan lupa minum yang cukup. Itu memalukan, serius.
“Apa ‘ruang pertemuan’ tersebut semacam aula terbuka, Pak? Atau ruang yang lebih kecil?” tanyaku memastikan. Pelangganku menjelaskan kalau itu ruangan yang tertutup tapi juga tidak bisa terbilang sempit.
“Karena Anda datang di sore hari, desainer dan perajin kami mungkin baru bisa memeriksa tempatnya esok pagi. Apa Anda tidak keberatan?”
Beliau berkata tidak keberatan atas tawaran yang kuberikan tadi. Kemudian, aku memintanya menuliskan alamat tempat yang hendak diperiksa itu. Ternyata tempat yang dimaksud adalah sebuah gedung perkantoran dekat pusat kota. Setelah menyodorkan uang muka dan menerima nota, pelanggan ini berpamitan. Bel di atas pintu berdenting saat pria itu membuka pintu untuk keluar, meninggalkan bunyi nyaring yang kian memelan.
“Terima kasih banyak!” ucapku sebagai salam perpisahan.
Aku menghela napas lega. Tidak diragukan lagi, pria paruh baya itu adalah pelanggan yang terakhir untuk hari ini. Uang tadi kusimpan di dalam laci kasir. Langit di luar suda...