Disukai
0
Dilihat
10
Anu-Anu
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi hari yang cerah menyembul, membasahi wajahku yang masih setengah sadar. Pukul tujuh pagi, dan bagiku jam segitu adalah waktu yang masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Namun, apalah daya, bagi mahasiswa semester tiga yang menghuni lingkungan pendidikan penuh perlombaan, aku harus selalu mengejar kelas pagi agar tak tertinggal. Dengan motor rongsok ini, aku membelah jalanan yang kusut nan berdempul tebal menuju sebuah kampus tempatku menimba ilmu.  

Pukul tujuh lebih empat puluh lima menit dan empat belas detik, aku telah tiba di halaman kampus yang dapat disetarakan dengan nilai aset sertifikat tanah di pinggiran ibukota setelah bertarung membabi buta menyelinap di antara transformer-transformer bermuatan entah apa. Aku tiba di sebuah ruang kelas yang asing dengan teman-teman baru yang berbeda lagi. Maklum, hari ini adalah hari pertama kuliah di semester tiga, sedangkan aku mengisi sebuah kelas asing yang ingin aku pelajari, tapi tidak dengan teman-teman sepersekutuanku di semester sebelumnya. 

Hanya berselang lima menit setelah bokongku menempel pada kursi berlapis kapas tipis, lalu seorang dosen datang, lengkap dengan laptop, tas, buku-buku, dan mungkin juga dompet berisikan sim khusus pengendara spesial. Ya, dosen tersebut istimewa karena berpenyangga tunggal a.k.a kakinya sign out sebelah. Tidak banyak pembicaraan sampai pada akhirnya dia membagikan tugas kelompok berisikan dua orang. Ia menyebut namaku, Fransiskus Adi, dan sesumbar nama asing yang tidak pernah aku dengan sebelumnya: Gloria Asowksokw. Ya, aku kurang mendengar nama belakangnya. 

Kelas telah selesai. Aku duduk melamun sambil menunggu mood yang tepat untuk mencari sosok Gloria Asowksokw itu. Sebuah langkah kecil menderap pelan mendekati tempatku duduk di barisan hampir belakang.  

“Kamu Fransiskus, bukan?”  

Aku terbangun dan mengangguk. Rupanya dia, sosok perempuan bernama Gloria Asowksokw itu, wanita berkulit putih dengan poni tebal dan bertubuh kecil. Menurutku, ia lebih mirip anak sekolah menengah pertama dibandingkan mahasiswi semester tiga. 

“Ini kontak kamu, kan?” Ia menunjuk daftar nama di sebuah grup kelas, di handphone-nya. 

Aku mengangguk, “Iya, itu gue.” 

Dan dari sanalah semuanya bermulai menuju perasaan, kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, dan "ke-ke" lainnya. 

Aku merasa tidak perlu menceritakan lebih jauh soal bagaimana semuanya berjalan sampai pada akhirnya kami saling menjalin hubungan, terlalu klise. Mirip seperti sepasang burung dara pada umumnya saja. Namun, aku akui, ada satu hal yang berbeda dari Gloria, dia aneh. Oh iya, sekilas breaking news, ternyata nama lengkapnya bukan Gloria Asowksokw, tapi Gloria Arlienetta. Nama yang sulit untuk dihapal, bukan? Bahkan untuk tiga periode lamanya. 

Lalu, kenapa dia aneh? Awalnya aku tidak pernah mengira ini akan terjadi atau mungkin lebih tepatnya telah terjadi dan menimpanya. Semula tampak baik-baik saja, komunikasi kami lancar, dia bertambah cantik di mataku, dan tentunya ia masih menjadi wanita tajir yang entah kenapa mau berpacaran dengan chindo spesies miskin sepertiku. Di sela-sela hubungan kami yang semakin dalam, ia menyatakan sebuah hal mengerikan bagai petir Zeus yang membombardir bumi di hari yang sedang indah-indahnya. 

“Aku sebenarnya lesb*an.” 

Duarr! Aku yang sedang mengalami jatuh cinta begitu dalamnya merasakan bahwa ini hanya isu yang dibangun pemerintah untuk menutupi berita-berita panas yang seharusnya tersiar lebih luas. 

“Kamu bercanda.” 

“Bantu aku.” Jawabnya. 

Dua kata yang singkat, padat, tetapi tidak jelas itu melayang di layar handphone-ku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampirinya langsung. 

Kami bertemu di sebuah kafe kelas menengah yang berdiri ditengah-tengah peta antara rumahku dan rumah Gloria. Tentunya aku bertanya soal maksudnya, dan kalian tahu apa? Gloria mempertegas bahwa dirinya adalah seorang lesb*an!  

“Apa maksud kamu menyatakan hal seperti itu?” Aku bertanya dengan sangat seksama, runtut, dan dalam tempo yang sejelas-jelasnya. 

“Bantu aku untuk menjadi wanita normal.” 

Petir Zeus kembali menyambar di siang hari yang gac*r itu. Tak pernah ku sangkakan bahwa wanita bertubuh mungil bak anak kelas delapan yang menjelma menjadi mahasiswa dengan total SKS 69 mengajakku untuk berhubungan b*dan. Jujur saja, sebagai pria yang selalu merasa tampan, aku sempat berpikir bahwa Gloria tidak tahan melihat kemolekan badanku yang mungkin saja bisa disandingkan dengan Jung Hae-In atau Song Kang. Namun, ia menceritakan semuanya. 

Saat masih kecil, rupanya, Gloria adalah seorang korban dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh sepupunya sendiri. Kasus mereka berujung damai karena pada saat itu keduanya masih di bawah umur, pun juga karena mereka berstatus kerabat. Akan tetapi, aku yang sejak dahulu selalu ingin membunuh sosok belok (LGBT) yang berada di dalam radar tanganku kini berada dalam posisi dilematis. Aku baru mengerti bahwa pelecehan s*ksual juga dapat menyebabkan kecenderungan s*ksual bagi korbannya. Ya, Gloria takut dengan laki-laki. Dia merasa mencintaiku dan aku mencintainya, sehingga ia memercayai dan mengajakku untuk menjadi partner on s*x agar ia bisa kembali normal. 

Tentunya sebagai pria bermartabat yang sangat menghormati wanita, aku menolak untuk merusak Gloria. Namun, dia terus mendorongku untuk membantunya. Aku berpikir dua, tiga, hingga enam ratus tujuh puluh empat kali, dan hasilnya adalah aku berkomitmen untuk membantunya. Jujur, sebagai pria normal, aku juga tertarik merasakan gairah "on-air" itu, tapi motivasi utamaku adalah membuat Gloria kembali normal. Aku sangat mencintainya sampai-sampai tidak ingin ia terjebak bersama pria asing jahat dan harus berhubungan dengannya hanya untuk membuatnya kembali ke jalan orientasi s*ksual yang benar. 

Kami tiba di sebuah apartemen yang bisa disewa dalam waktu enam jam saja. Begitu aku dan dia masuk ke kamar, suasana senyap. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia memancing dengan membuka situs "anu-anu" demi memunculkan ketertarikan kami, hingga semuanya terjadi. Semula kami hanya berc*uman, lalu berp*lukan. Mengingat tujuan utama kami, tentunya kami menanggalkan seluruh bumper yang menjadi armour di kehidupan sehari-hari. Aku mulai terpancing dan hendak mengirimkan rudal ke titik target, lalu.... 

“NGGAAKKK!!!” Gloria berteriak, memukulku, lalu berlari ke kamar mandi dan menangis.  

Aku masih mencerna semua hal yang sedang terjadi. Jujur saja aku kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Anggota tim telah AFK sebelum permainan benar-benar usai. Aku membiarkan Gloria menangis di kamar mandi untuk waktu yang lama. Setelah ribuan detik berlalu, ia memanggilku, memintaku untuk membawakan pakaiannya ke depan pintu. Aku sontak mengambilnya. Tentunya, itu juga menjadi sinyal bagiku untuk kembali memasang armour kebanggaan ke tubuh binaragawan ini. 

Gloria keluar dari kamar mandi dengan kembali ber-armour lengkap bak peri yang suci. Satu ucapan singkat yang keluar dari bibirnya, “Maaf.” Aku memakluminya. Mungkin memori buruk tentang masa lalunya masih menempel kuat di kepalanya. Sisa waktu di apartemen itu hanya kami gunakan untuk bercerita. Ia menceritakan tentang partner lesb*annya, Hanna. Aku terkejut setengah mati karena mengetahui bahwa Hanna adalah sahabat Gloria sejak kecil. Gloria mengakui bahwa pada awalnya Hanna hanya berupaya untuk membantunya untuk melupakan kejadian buruk tentang pelecehan s*ksual yang dulu dialaminya. Namun, semenjak itu mereka justru terjebak dalam orientasi tersebut. 

Gloria kembali membuka handphone-nya yang terakhir kali kami gunakan untuk menyamar situs anu-anu. Tanpa di sengaja, di salah satu video yang terselip di bawahnya, terdapat konten yang memuat video peperangan antara seorang pria dengan dua wanita, atau yang lebih kita kenal sebagai “bis*ksual”. Sebuah niat baru muncul dari benak Gloria. Ia berpikir bahwa mungkin saja ia dapat memercayai pria jika melakukannya dengan ditemani Hanna, partner in crime-nya. Aku sebagai pria polos memilih pasrah dan mengiyakan keinginannya. 

Rencana diatur ulang. Aku harus bersiap berperang melawan Gloria dan Hanna. Dengan satu perjanjian tegas di bawah meterai sepuluh ribu: aku tidak akan pernah menarget rudal kepada Hanna. Lalu kami bertemu dan memulai permainan. Awalnya, semua terasa tidak berjalan dengan baik. Akan tetapi, pada akhirnya Gloria menerima dirinya menjadi target rudal. Hingga hari ini, aku dan Gloria masih terus menjalani hubungan baik yang memang berdasar pada perasaan. Sesekali aku menyesali hal "anu-anu" yang pernah kami lakukan, tapi aku berlapang dada bahwa perlahan Gloria mulai bisa menerima kehadiran pria baru dalam orientasinya. Tentunya, aku juga berharap bahwa meskipun perlahan, Gloria dapat menjadi wanita normal seutuhnya.

Aku bercerita tentang ini bukan untuk memantik b*rahi para pembaca. Aku hanya ingin berbagi sudut pandang baru, bahwa di luar sana, mungkin seseorang yang kita kenal berorientasi “belok” bukan terjadi dengan disengaja, tetapi karena kejadian buruk yang menimpanya di masa lalu. Aku dan Gloria tidak pernah membenarkan bahwa kami menerima dan mengampuni para penganut dunia perbelokan. Kami hanya berharap agar setidaknya para pembaca dapat mengetahui bahwa ada orang-orang diluar sana yang bernasib sama seperti Gloria. 

*Seluruh isi cerita, termasuk nama, waktu, dan tempat kejadian merupakan fiksi seratus persen. Tidak ada niat sedikit pun untuk mendiskreditkan apapun dan siapapun yang ada di cerita ini. Sebagai pembaca yang baik, mohon untuk membaca dan memahami maksud dan tujuan penceritaan dengan bijak.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi