"Appaaa?"
Dennis berpaling. Melihat ke arah Lintang dengan kening berkerut. Ia tadi sampai terlonjak saking kagetnya. Ga salah kan, pendengarannya?
"Asyik, kan?" Lintang melambaikan selembar tiket di depan matanya. "Bagaimana menurutmu, Den?"
"Batalkan!"
Lintang mendelik keki.
"Enak saja! Lagian ini kan pa... kenapa melotot begitu, sih?" ujarnya santai, begitu melihat Dennis menatap tak suka. "Memang apa salahnya coba, pergi ke sana? Kalau menuruti keinginanmu, aku pasti bisa rugi. Teman-temanku pada cerita hal-hal yang seru dan menegangkan, saat berkunjung ke sana."
"Jangan didengerin!" seru Dennis, marah.
"Huh!" Lintang mendengus. "Apanya yang jangan? Aku sudah dengerin kok. Pokoknya aku mau ke sana. Penasaran tauk!"
"Ga boleh!"
Lintang melotot. "Seenaknya! Papa saja sudah setuju kok."
"Itu karena Papa nggak mau mendengar rengekkanmu, Bontot!"
"Kata siapa?"
"Ya kataku," jawab Dennis asal. "Makanya telinga tuh dibersihin biar bisa denger. Emang ga denger ya, yang barusan ngomong itu aku?"
Lintang c...