Sinar mentari di hari itu tak lagi membakar kulit. Saat mata kuliah terakhirnya telah usai, Nada yang duduk di dekat jendela menyempatkan diri untuk mendongak, mengecek sekilas kondisi langit dan situasi di luar kelasnya.
“Mendung,” gumamnya dalam hati.
Setelah dosennya keluar dari kelas, Nada segera membereskan buku-bukunya di atas meja. Di tengah kesibukannya itu, matanya menangkap hal yang bertolak belakang sedang terjadi di sampingnya. Ternyata kesibukan itu tidak terjadi pada Laras yang duduk di sebelahnya. Sahabatnya itu malah masih duduk dengan santainya sambil menopang dagu dan tersenyum-senyum sendiri.
“Woi… gak pulang loe?!” seru Nada seraya menggebrak meja Laras.
Sontak Laras nampak kaget, lalu ia melemparkan tatapan kesal ke arah Nada. Namun Nada tidak menanggapi sikap Laras.
“Masih mikirin cowok yang kemaren?” tanya Nada lirih tanpa menatap Laras.
“Cowok kemaren?! Yang spesifik dong nyebutnya, Nad. Cinta pada pandangan pertamanya Laras. Gitu, Nad,” ujar Laras dengan ekspresi gemas dan kedua tangannya menekan pipinya sendiri yang sudah tembam itu sehingga tampak jadi lebih te...