“Matilah,”
“Cepatlah dan buat semua ini berakhir,”
Seseorang menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku, aku tersadar bahwa aku sudah duduk disini selama beberapa menit.
“Apa kau baik-baik saja?” ujar wanita paruh baya sambil memayungiku. Aku tersenyum tipis, mengangguk canggung, lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Ku kayuh sepedaku, melaju cepat menerobos hujan yang entah kapan turun. Kebiasaanku karena tidak memperhatikan sekitar, aku berpikir bahwa akhir-akhir ini aku menjadi sedikit pelupa, mungkin karena pekerjaan sampinganku yang semakin bertambah, juga tidurku yang tidak teratur.
Aku pun sampai di rumah, setelah mengeringkan rambutku dan mandi, aku membersihkan adikku, Sena, yang terbaring di tempat tidur, kamar tampak berantakan karena dipenuhi dengan coretan krayon, cat putih yang semula polos, terlihat kumuh karena terkena keringat dan debu. Ditambah bau menyengat dari air kencing adikku.
“Kau ingin makan apa hari ini?” ujarku sambil mengelapi sisa keringat dilehernya.
“Telur dadar,” jawab Sena singkat sambil menggaruk jari jemarinya.
Setelah itu aku membersihkan kotoran Sena yang berceceran, sepertinya ia melepaskan popoknya dan melempar ke sembarang arah. Sena yang malang, aku dan Sena adalah saudara kembar, tapi karena kecelakaan, membuat sebagian otaknya menjadi bermasalah, dan ia tidak memiliki kesempatan untuk menjalani hidup normal.
“Apa kau kesepian?”
Aku segera menoleh ke Sena.
“Apa kau mengatakan sesuatu?”
Sena hanya melihatku bingung, ia kembali sibuk dengan mainannya.
Setelah makan malam, aku bergegas menuju meja belajarku. Kemudian mulai mengetik sesuatu di komputer tua warisan Ayahku.
“Apa yang harus kutulis hari ini,” gumamku sambil menatap halaman kosong.
Mataku melirik ke tumpukan kertas pengumuman kelulusan, itu bahkan lebih tinggi dari meja belajarku, mungkin seharusnya aku berhenti menulis saja. Kemudian kulihat Sena yang tertawa girang karena berhasil membangun piramid dari balok.
Rasa sakit yang sudah kusembunyikan dengan rapih, muncul lagi. Serangan panik itu menyerangku, kemudian aku pergi ke toilet untuk mengatur nafasku.
Kulihat bayanganku terpantul dari cermin, apa yang orang lain pikirkan tentang kehidupanku? Mungkin mereka berpikir seharusnya orang sepertiku sebaiknya mati saja. Ah lagi dan lagi pemikiran itu lewat begitu saja. Aku pun teringat aku harus segera menyelesaikan naskahku, tenggatku adalah akhir tahun ini, aku harus segera mengirimkannya ke pembacaku.
Aku mondar mandir mencari inspirasi, padahal tinggal beberapa bab lagi menuju akhir, tapi aku tidak bisa memutuskan akhir seperti apa yang bisa dikenang banyak orang setelah membacanya. Aku tidak ingin karyaku bernasib seperti sebelumnya, begitu selesai dibaca, semua orang melupakannya, aku ingin karyaku dicintai sepanjang umur hidup mereka.
Tiba-tiba Sena merengek, membanting mainannya hingga terbelah. Aku yang sedang pusing karena naskahku, sontak naik pitam
”Sena, berisik!” teriakku, “aku tidak bisa konsentrasi karenamu,”
Tangisan Sena semakin keras, aku mendengus kesal lalu menghampirinya. Namun ia melemparkan balok mengenai keningku hingga berdarah. Lalu aku menarik Sena, dan menguncinya di lemari pakaian.
Sebuah ide muncul dipikiranku, kusambar laptopku dan mulai mengetik. Aku hanya fokus pada apa yang kutulis, sampai aku benar-benar lupa bahwa Sena sudah menangis berjam-jam.
“Sebentar, biarkan aku menyelesaikan naskahnya,” ujarku menggebu-gebu.
Akhirnya karyaku selesai, setelah itu aku langsung mengirimkannya ke websiteku. Suara Sena tidak terdengar lagi, padahal dia terus menangis dari tadi. Suara telepon berdering, lalu aku mengangkatnya.
“Hei jalang, apa kau tidak membersihkan kamarmu hah?!” teriak tetanggaku dari telepon,”bau apartemenmu sangat keterlaluan, jika kau tidak segera membereskannya, akan kulaporkan kau ke polisi,"
Tetangga itu menutup teleponnya dengan keras. Emosiku tersulut, berani-beraninya orang asing meneriaki tempat tinggalku dan menyebutnya bau. Aku selalu membersihkan apartemenku setiap hari, bahkan kuhabiskan beberapa pewangi untuk menghilangkan bau kotoran adikku.
Kemudian kubuka lemari pakaian, Sena sudah tertidur pulas, aku tersenyum ketika melihatnya. Saat tulisanku diterbitkan maka impianku akan tercapai. Sena pasti bangga padaku, bahkan Ayah yang brengsek itu juga pasti menyesal karena menelantarkan kami berdua.
Keesokan harinya begitu aku terbangun, notifikasi menumpuk di website. Beragam komentar dari pembacaku sudah mencapai 1000, hanya dalam semalam naskahku mulai dikenal semua orang.
Aku harus memberitahu Sena tentang ini. Namun tiba-tiba ketukan pintu terdengar, aku pun merasa kesal karena ada tamu disaat seperti ini, mereka benar-benar merusak momentumku. Begitu membuka pintu, terlihat dua pria berseragam rapi. Mereka adalah polisi, “Sialan, tua bangka itu benar-benar melaporkanku pada polisi,” batinku
“Kami dari kepolisian, mendapat laporan bahwa ada bau mencurigakan disini. Bolehkah kami memeriksa apartemen Anda?” Salah satu dari polisi menunjukkan surat penggeledahan.
“Sepertinya laporan itu salah, apartemenku tidak bau, aku selalu membersihkannya. Maaf lebih baik kalian pergi, kehadiran kalian hanya akan membuat adikku ketakutan,” ujarku membela diri.
Polisi itu mengernyitkan dahi, keduanya saling bertukar pandang seakan mengisyaratkan sesuatu. Kemudian mereka masuk ke apartemenku, aku sudah berusaha menahan mereka, namun tidak bisa. Begitu polisi tersebut masuk dan memeriksa kamar, mereka tersentak dengan apa yang dilihat.
Salah satu polisi dengan kepala polontos memborgol tanganku.
“Hei apa yang kau lakukan?!” tanyaku sambil memberontak.
“Anda ditangkap atas pencurian mayat,” ujarnya.
Aku terkekeh. ”Kau bercanda?” aku mencoba melepaskan diri,”berani-beraninya kalian menyebutku adikku sebagai mayat. Dia masih hidup,”
Aku yakin bahwa aku hanya korban salah tangkap, kenapa kehidupan ini tidak membiarkanku mencicipi keberhasilanku setelah usaha panjangku selama ini? Aku hanya ingin hidup tenang dengan Sena.
Ini pasti tipu muslihat Ayah brengsek itu, dia mencoba menghancurkan hidupku, aku harus melarikan diri. Perasaan itu menyelimutiku. Saat polisi lengah, aku melompat dari balkon, ketika mendarat aku tidak bisa menggerakkan tubuhku dengan rasa perih menjalar di seluruh tubuhku. Aku akan meminta maaf pada Sena, begitu aku terbangun.
…
Berita terkini, 28 Oktober 2002
Mobil Isuzu Elf yang ditumpangi 3 anggota keluarga mengalami kecelakaan, diduga kecelakaan tersebut adalah disengaja, berdasarkan penyelidikan, ditemukan surat wasiat dari Sapto sekaligus korban kecelakaan. Diketahui Sapto, sang Ayah, menyetir dengan kecepatan tinggi dan menabrak pembatas. Diketahui Sapto adalah Bos pertambangan PT A, yang terjerat kasus penggelapan dana. Dua korban lainnya adalah Sena dan Rena, putri kembar dari Sapto. Terkonfirmasi dari kecelakaan tersebut Sapto dinyatakan tewas ditempat, Sena mendapat luka serius dan dinyatakan meninggal dunia karena pendarahan diotak, setelah beberapa hari menerima perawatan. Sementara Rena hanya mengalami luka ringan.
Berita Terkini, 29 Oktober 2002R
Rena korban kecelakaan tunggal, setelah sebelumnya didiagnosis Shizophernia, dinyatakan menghilang pada Selasa (29/10/2002) waktu setempat. Polisi masih melakukan penyelidikan dan pencarian di berbagai lokasi.
Berita Terkini 28 November 2009
Penemuan jasad wanita di sebuah apartemen, diduga mayat sudah disimpan dari setahun yang lalu. Diketahui korban dan pelaku adalah saudari kembar. Saat penangkapan, pelaku melompat dari lantai 2 dan tewas di tempat.
…..
“Aku tidak menduga, bahwa orang ini adalah penulis dari novel favoritku,” ujar Arhan polisi muda yang baru saja bertugas.
“Kau serius?” tanya Deri tidak percaya,”jangan bercanda.”
Arhan mendengus kesal,”aku tidak bercanda, aku membaca novelnya semalam, aku sampai menangis karena akhir ceritanya,”
Deri terkekeh, menggelengkan kepalanya heran. “Kalau begitu, kau beruntung karena menjadi yang pertama bertemu dengan penulisnya, karena sepertinya wanita ini benar-benar menyembunyikan wajahnya dari pembacanya sendiri.”
“Aku tidak tahu ini kesialan atau keberuntungan,” keluh Arhan memandangi jenazah Rena, ia kemudian menatap Deri seolah terpikirkan sesuatu.
”Bolehkah kau mengamankan akunnya? Aku ingin menyimpan untuk diriku,”
“Apa kau gila?” pelotot Deri, “itu pelanggaran, kau bisa saja dipecat karena menghilangkan barang bukti,”
“Aku tidak ingin mendengar itu dari mantan napi sepertimu. Aku hanya ingin mengenang ceritanya, novel sebagus itu, sayang untuk dibiarkan dan dilupakan,” ujar Arhan penuh tekad.