Disukai
0
Dilihat
890
SI-JJIN
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

SI-JJINKematian adalah Nasihat

Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja setelah kehilangan.

Begitu pula dengan Sandra. Remaja berusia enam belas tahun itu baru saja kehilangan ayahnya untuk selamanya. Rumah yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi tempat yang terlalu sunyi. Tidak ada lagi suara langkah kaki ayahnya dari ruang tengah, tidak ada lagi suara batuk dari kamar, dan tidak ada lagi panggilan kecil yang dulu sering terdengar, meminta Sandra mengambilkan air minum atau obat.

Semuanya hilang begitu cepat.

Padahal beberapa bulan terakhir, Sandra adalah orang yang paling sering berada di samping ayahnya. Penyakit yang diderita ayahnya sudah cukup lama membuat tubuh lelaki itu semakin lemah dari hari ke hari. Sepulang sekolah, Sandra hampir selalu langsung masuk ke kamar ayahnya. Ia membantu ibunya mengganti pakaian, menyiapkan makanan, mengambilkan obat, mengusap keringat di dahinya, bahkan menemani ayahnya sampai tertidur. Kadang, ketika ibunya sudah kelelahan dan memilih beristirahat, Sandra tetap duduk di samping tempat tidur ayahnya sambil mengerjakan tugas sekolah.

Sandra sangat dekat dengan ayahnya. Karena itu, ia juga tahu satu hal yang selama ini diam-diam membuatnya khawatir. Ayahnya bukan orang yang dekat dengan agama. Sholat sering ditinggalkan, bahkan ketika sakit pun ayahnya masih sering menunda-nunda.

"Yah, sholat dulu," kata Sandra suatu sore ketika ia membantu ayahnya duduk.

Ayahnya hanya tersenyum tipis. "Nanti saja, Sandra. Badan Ayah masih lemas."

"Kalau nggak kuat berdiri, sambil duduk aja."

"Iya... nanti."

Sandra tidak pernah marah. Ia hanya mengingatkan lagi dan lagi. Namun setelah keluar dari kamar, terkadang ia menangis diam-diam. Bukan karena kesal kepada ayahnya, tetapi karena takut. Takut kehilangan ayah sebelum sempat melihatnya benar-benar kembali kepada Allah.

Ketakutan itu ternyata bukan sekadar ketakutan.

Suatu malam, kondisi ayahnya tiba-tiba memburuk. Hujan turun deras sejak sore dan udara terasa dingin. Sandra yang sedang duduk di samping tempat tidur langsung berdiri ketika napas ayahnya terdengar semakin berat. Ibunya segera dipanggil. Keduanya berusaha membantu, tetapi kondisi ayahnya semakin melemah. Sandra menggenggam tangannya erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa membuat lelaki itu tetap bertahan.

"Yah..." suaranya bergetar. "Baca istighfar, Yah."

Bibir ayahnya bergerak sedikit. Sandra mendekatkan telinga.

"Astagfirullah..." terdengar sangat pelan.

Itulah suara terakhir yang Sandra dengar dari ayahnya.

Beberapa saat kemudian napas itu berhenti. Sandra masih menggenggam tangannya dan menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada lagi gerakan.

"Ayah?"

Tidak ada jawaban.

"Ayah..."

Untuk pertama kalinya Sandra memahami bahwa seseorang bisa berada begitu dekat di hadapan kita, lalu beberapa detik kemudian hanya menyisakan kenangan.

Sejak malam itu, rumah mereka tidak pernah terasa sama.

Hari-hari setelah pemakaman berlalu seperti mimpi bagi Sandra. Banyak orang datang, membaca doa, mengucapkan belasungkawa, lalu pulang. Mereka berkata Sandra harus kuat, harus sabar, harus ikhlas. Sandra hanya mengangguk setiap kali mendengarnya. Ia tahu mereka bermaksud baik. Tetapi setelah semua orang pergi dan rumah kembali sepi, ia selalu merasa kehilangan itu datang lagi untuk kedua kalinya.

Kamar ayahnya masih seperti dulu. Obat-obatan masih tersusun di atas meja. Bantal yang biasa digunakan ayahnya masih berada di tempat yang sama. Bahkan gelas yang terakhir kali dipakai ayahnya masih disimpan ibunya dan belum dicuci.

Suatu sore, Sandra sedang berada di dapur ketika tiba-tiba ia mendengar suara batuk dari kamar ayahnya.

"Uhuk... uhuk..."

Sandra spontan mengambil gelas dan mengisinya dengan air.

"Ayah mau minum?"

Ia berjalan cepat menuju kamar. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika langkahnya berhenti.

Kamar itu kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Sandra berdiri beberapa detik di depan pintu. Gelas di tangannya bergetar. Perlahan ia menunduk dan air matanya jatuh.

"Oh..." hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.

Sejak saat itu, Sandra mulai mengalami kesulitan tidur. Hampir setiap malam ia terbangun sekitar pukul tiga pagi. Kadang karena mimpi tentang ayahnya, kadang karena suara-suara kecil dari dalam rumah. Awalnya ia mengira semuanya hanya karena pikirannya belum bisa menerima kehilangan.

Namun suatu malam, suara itu terdengar lagi.

BRAAK!

Sandra langsung terbangun. Jantungnya berdegup kencang. Jam di meja menunjukkan pukul 03.07. Ia duduk di tempat tidur dan menatap pintu kamar. Beberapa detik kemudian terdengar suara benda bergeser dari ruang tengah.

Grrrk...

Sandra menarik selimut sampai ke dada. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin hanya kucing atau benda yang jatuh. Namun kemudian terdengar suara ketukan dari jendela.

Tok.

Sandra membeku.

Tok.

Ia menatap jendela.

Tok... tok... tok...

Ketukan itu terdengar pelan, tetapi sangat jelas. Sandra tidak berani bergerak. Kemudian, di antara suara hujan yang turun deras, terdengar suara seseorang dari luar.

"Sandra..."

Napasnya tercekat.

Ia mengenal suara itu.

Itu suara ayahnya.

"Sandra..."

Air mata langsung mengalir di pipinya. Untuk sesaat, ia ingin membuka jendela. Ia bahkan sudah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekatinya. Namun ketika tangannya hampir menyentuh tirai, tubuhnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bulu kuduknya berdiri dan dadanya terasa sesak.

Ia teringat perkataan guru ngajinya beberapa waktu lalu bahwa manusia tidak boleh mudah percaya terhadap sesuatu yang menyerupai orang yang sudah meninggal, terlebih ketika sedang berada dalam kondisi sangat sedih dan takut.

Sandra mundur perlahan.

"A'udzubillahi minasy-syaithanir-rajim..."

Ia membaca istighfar berkali-kali. Ketukan itu berhenti. Suara ayahnya juga tidak terdengar lagi.

Malam itu Sandra tidak tidur sampai subuh.

Setelah kejadian tersebut, rasa takutnya semakin besar. Beberapa kali ia merasa melihat bayangan hitam bergerak cepat di depan pintu kamar. Ketika ia menoleh, tidak ada apa-apa. Saat sholat, terkadang ia merasa seperti ada seseorang berdiri di belakangnya. Ketika membaca Al-Qur'an, ia beberapa kali merasa mendengar suara lain mengikuti bacaannya dengan suara yang pelan dan berat.

Sandra tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tahu bahwa dirinya semakin lelah dan semakin takut.

Di sisi lain, rasa kehilangan terhadap ayahnya tidak pernah berkurang. Ia masih sering teringat suara napas ayahnya ketika sakit. Ia masih teringat malam terakhir itu. Bahkan suara "Astagfirullah" yang keluar dari bibir ayahnya sebelum meninggal sering terngiang di kepalanya.

Di sekolah pun Sandra mulai berubah. Ia lebih banyak diam dan sering melamun. Teman-temannya beberapa kali bertanya, tetapi Sandra selalu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal hampir setiap malam ia menangis.

Sampai suatu hari, ketika pelajaran sedang berlangsung, Sandra tiba-tiba menutup kedua telinganya.

"Berhenti..."

Teman-temannya menoleh. Guru yang sedang mengajar langsung menghampirinya.

"Sandra? Kamu kenapa?"

Sandra menggeleng sambil menangis.

"Ada yang panggil nama saya, Bu..."

"Siapa?"

Sandra semakin menutup telinganya. "Ayah..."

Beberapa detik kemudian ia berteriak. Satu kelas langsung terdiam. Tubuh Sandra gemetar hebat dan air matanya terus mengalir. Guru kemudian meminta teman-temannya tetap tenang dan memanggil ibunya.

Atas saran guru agama, Sandra kemudian dibawa menemui seorang ustaz. Ruangannya sederhana dan tenang. Tidak ada suasana seperti yang selama ini Sandra bayangkan ketika mendengar kata ruqyah. Ustaz tersebut membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan doa-doa yang sesuai dengan tuntunan agama. Sandra hanya menangis. Tidak berteriak, tidak meronta. Tangisnya seperti tangis seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban.

Setelah beberapa saat, ustaz itu berkata lembut, "Menangis itu tidak apa-apa, Sandra. Kamu kehilangan orang yang sangat kamu cintai. Kesedihan seperti itu manusiawi."

Sandra mengusap air matanya. "Tapi saya sering dengar suara Ayah, Ustaz. Kadang waktu malam. Kadang saya juga mimpi Ayah seperti minta tolong."

Ustaz itu mengangguk pelan. "Karena kamu sangat merindukannya, bukan?"

Sandra mengangguk.

"Jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap suara atau mimpi itu benar-benar datang dari ayahmu. Dalam perkara gaib, kita tidak boleh memastikan sesuatu yang tidak kita ketahui. Bisa saja seseorang mengalami pengalaman seperti itu karena sedang berduka, kurang tidur, terlalu banyak memikirkan orang yang telah pergi. Dalam keyakinan Islam, kita juga diajarkan untuk berlindung kepada Allah dari gangguan jin dan tidak mengikuti atau berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak jelas."

Sandra menunduk.

Ustaz kemudian membuka mushaf Al-Qur'an dan membacakan ayat dari Surah Al-Muthaffifin tentang Sijjin dan 'Illiyyin. Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut berbicara tentang catatan amal orang-orang yang durhaka dan orang-orang yang berbakti. "Karena itu," katanya, "jangan menggunakan ayat tentang Sijjin atau 'Illiyyin untuk memastikan bagaimana keadaan ayahmu sekarang. Keadaan seseorang setelah meninggal adalah perkara Allah. Kita tidak mengetahui perkara gaib hanya berdasarkan mimpi, suara, atau perasaan."

Sandra terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya, "Kalau begitu... bagaimana dengan Ayah?"

Ustaz menatapnya dengan tenang. "Serahkan kepada Allah. Kamu tidak mampu melihat apa yang ada di alam setelah kematian, dan memang bukan itu tugasmu. Tugasmu sekarang adalah mendoakannya."

"Tapi saya merasa gagal, Ustaz."

"Kenapa?"

"Karena saya tidak berhasil membuat Ayah rajin sholat sebelum meninggal."

Air mata Sandra kembali jatuh.

"Saya sudah berkali-kali mengingatkan. Tapi Ayah selalu bilang nanti. Saya takut... jangan-jangan saya kurang berusaha."

Ustaz menggeleng perlahan. "Kamu sudah mengingatkan. Kamu sudah merawatnya. Kamu sudah menemani dia ketika sakit. Hidayah bukan berada di tanganmu, Sandra. Jangan mengambil beban yang bukan milikmu."

Sandra terdiam.

"Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah memperbaiki dirimu sendiri. Jaga sholatmu. Baca Al-Qur'an. Berdoalah untuk ayahmu. Jika ada kesempatan untuk bersedekah dan berbuat baik, lakukan. Jangan sampai kematian ayahmu hanya membuatmu takut kepada kematian, tetapi tidak membuatmu lebih dekat kepada Allah."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Sandra setelah ia pulang.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Sandra masuk ke kamar ayahnya tanpa rasa ingin melarikan diri. Ia melihat sajadah yang selama ini terlipat di sudut kamar. Perlahan ia mengambilnya dan membentangkannya.

Ia sholat.

Tidak ada suara ketukan.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada suara yang memanggil namanya.

Setelah salam, Sandra mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah..."

Suaranya bergetar.

"Kalau Ayah punya banyak kesalahan, ampuni dia. Kalau ada kebaikan dalam dirinya, terimalah. Rahmati dia dan tempatkan dia di tempat yang baik menurut-Mu."

Air matanya jatuh, tetapi kali ini ia tidak merasa sedang tenggelam dalam kesedihan.

Ia merasa sedang melepaskan sesuatu.

Sejak malam itu, Sandra mulai perlahan kembali menjalani hidupnya. Ia tetap merindukan ayahnya, tetapi tidak lagi membiarkan rasa rindu membuatnya kehilangan arah. Ia mulai menjaga sholat, membaca Al-Qur'an, belajar lebih sungguh-sungguh, dan tidak lagi mencari-cari suara yang menyerupai ayahnya.

Gangguan yang selama ini membuatnya takut pun perlahan menghilang.

Tidak ada lagi ketukan di jendela.

Tidak ada lagi suara memanggil namanya.

Tidak ada lagi bayangan yang membuatnya berlari ketakutan ke kamar ibunya.

Rumah itu memang tetap sunyi.

Tetapi untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak lagi terasa menakutkan.

Beberapa bulan kemudian, Sandra duduk sendirian di teras rumah. Tempat yang dulu sering digunakan ayahnya untuk duduk sore-sore. Ia memandangi langit yang mulai berubah warna.

Dulu ia mengira kematian hanya berarti kehilangan.

Sekarang ia mengerti bahwa kematian juga merupakan nasihat bagi orang-orang yang masih hidup.

Bahwa manusia bisa pergi kapan saja.

Bahwa kata "nanti" tidak pernah benar-benar kita miliki.

Hari ini kita masih bisa meminta seseorang menunggu.

Besok mungkin kita hanya bisa mengirimkan doa.

Sandra menundukkan kepala.

"Semoga Allah mengampuni Ayah."

Ia tidak lagi berharap mendengar suara ayahnya dari kamar kosong. Ia tidak lagi menunggu ketukan dari jendela. Ia tidak lagi mencari tanda bahwa ayahnya sedang datang.

Karena sekarang ia tahu, mencintai seseorang yang telah meninggal bukan berarti terus memanggilnya untuk kembali.

Kadang, bentuk cinta yang paling tulus justru adalah melepaskannya kepada Allah dan terus mendoakannya.

Dan mungkin, itulah nasihat paling keras dari sebuah kematian.

Bahwa suatu hari nanti, kita semua akan pergi.

Meninggalkan rumah.

Meninggalkan orang-orang yang kita cintai.

Dan ketika semua suara di dunia berhenti terdengar, yang akan kita bawa bukanlah harta, bukan rumah, bukan pula orang-orang yang kita sayangi.

Melainkan amal yang pernah kita kerjakan. .

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh."

— HR. Muslim

Sandra menarik napas panjang.

Kemudian kembali berdoa.

Bukan lagi dengan ketakutan.

Tetapi dengan harapan.

Karena akhirnya ia memahami satu hal:

Kematian bukan hanya tentang siapa yang pergi.

Kematian adalah tentang apa yang kita pelajari sebelum giliran kita tiba.

Sandra lalu memeluk ibunya dengan erat.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)