Disukai
1
Dilihat
57
Sepuluh Tahun yang Selamanya
Drama

Masa lalu itu seperti susunan buku di lemari, meski kau baca ulang, ia tidak akan mengubah jalan ceritanya.

-----

Bram harusnya sedang sangat bahagia, perjalanan bisnisnya kali ini ke Bali bukan hanya menghasilkan kesepakatan baru tapi juga kesempatan untuk memasarkan produk ke luar negeri.

Ia baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya, bersiap kembali ke kamar hotel, berkemas untuk penerbangan malam kembali ke Jakarta, ketika dia berpapasan dengan perempuan itu.

Karina.

Sepuluh tahun. Perempuan itu kini tampak lebih anggun di usianya yang sudah kepala empat. Masih cantik. Tetap cantik.

Matanya yang indah mengerjap tak percaya ketika mereka beradu pandang.

"Bram?"

Suaranya membuat Bram melupakan kesepakatan bisnis dan transaksi miliaran yang baru diraupnya. Suara Karina masih sebening dulu saat memanggilnya.

"Rina ...." Bram bahkan tahu suaranya bergetar. Rasa terkejut itu bercampur rindu.

"Ya…." Karina mengangguk, tertawa, mengusap sudut matanya. Entahlah, Bram seakan melihat ia mengusap air mata. “Long time no see,” ucapnya dengan suara lirih.

Bram mengangguk. Sepuluh tahun. Dia tidak melupakan berapa lama itu. Tiap tahun ia masih merayakan perpisahan mereka.  

"Something wrong, honey?"

Belum sempat Bram menanyakan kabar, tiba-tiba seorang laki-laki berpostur tinggi dengan wajah Eropa yang khas memeluk bahu Karina. Bersama laki-laki itu ada seorang bocah laki-laki berambut pirang. Rambut pirangnya menegaskan kalau dia anak laki-laki tadi, tapi matanya mirip mata Karina.

“Bram, ini James, suamiku, dan ini Andy, anakku,” Karina mengenalkan bapak dan anak berambut pirang itu. “Dan James …,” ucapnya sambil menatap suaminya. “Ini Bramantyo, my old friend.

Teman lama. Bram menelan dua kata itu seperti menelan obat. Pahit. Karina hanya menganggapnya teman lama. Tapi , memang dia bisa menuntut apa?

“Kalian berbincang dulu, aku bawa Andy beli es krim,” James mendekatkan wajahnya ke arah Karina, menyentuh dengan sangat samar rambut perempuan itu dengan ujung hidungnya yang mancung.

Gestur yang membuat Bram hampir tercekik. Dulu, ah dulu, lebih sepuluh tahun yang lalu, ia tak pernah bosan mencium aroma rambut Karina.

“Senang bertemu denganmu, Pak Bram.” James mengangguk. “Nanti bergabung dengan kami untuk minum kopi.”

Nice to meet you too, Mr James,” sahut Bram. “Terima kasih atas tawarannya.”

“Kami tunggu di sana, Sayang.” James pamit pada Karina yang dijawab dengan anggukan kepala oleh perempuan itu.

“Kau … maksudku, kalian mau kemana?” tanya Bram ketika James dan Andy sudah berjalan menjauh. Bukan pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi dia tak tahu harus memulai dari mana.

“Kami di sini,” jawab Karina, sedikit tertawa, seolah dia pun tahu jawaban itu bukan yang ingin didengar Bram. “Oh ya, aku sudah sepuluh hari di Indonesia. Enam hari di Jakarta. Ziarah ke makam Mama dan Papa. Aku juga sempat bertemu Kak Magda.”

“Kau tinggal di mana selama ini?” tanya Bram tak sabar.

Cerita enam hari di Jakarta, ziarah ke makam Mama dan Papa atau pertemuan dengan Kak Magda, Kakak tertua Bram, tidak begitu menarik bagi Bram. Dia ingin tahu, kemana Karina selama ini.

Sepuluh tahun tak ada kabar berita, tak tahu di mana rimbanya.

Sepuluh tahun dia menghilang, hanya sebulan setelah ikrar talak dibacakan Bram di Pengadilan Agama.

***

Dua tahun sebelum sepuluh tahun yang panjang, rumah mereka adalah tempat terbaik untuk pulang. Orang selalu bilang, rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Dan bagi Bram, rumah yang Karina ada di dalamnya adalah perpaduan antara pulang dan hati yang menerimanya.

Pernikahan Bram dan Karina adalah cermin bagi siapa saja di lingkungan mereka yang ingin melihat ‘template’ pasangan bahagia dan sempurna. Bram yang ganteng, pengusaha kaya dan punya reputasi sebagai lelaki green flag. Sempurna untuk Karina yang cantik, luwes dan pintar.

Tapi, seperti ironi yang sering diucapkan orang. Tak ada sempurna yang tak bercela. Pasangan sesempurna apapun akan pret pada akhirnya.

Tahun kedua pernikahan ketika tangis si kecil belum terdengar, orang di sekitar mereka mulak kasak-kusuk. Siapa yang salah? Siapa yang punya penyakit?

“Jangan pikirkan omongan orang,” bisik Bram suatu hari pada Karina. “Kebahagiaan kita tidak akan berkurang hanya karena belum hadirnya seorang anak.”

Karina mengangguk setuju. “Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku, Bram.”

“Tidak akan, Rina. Aku tidak akan melepasmu sampai kapan pun,” janji Bram.

Janji yang membuat Karina percaya cinta mereka tidak akan pudar hanya karena ketidakhadiran seorang anak.

Namun, selembar kertas dalam amplop putih berlogo sebuah rumah sakit terkenal dan ditandatangani oleh dokter spesialis obgyn mengubah segala-galanya.

Wajah Karina terpaku. Bram mencoba tegar, menggenggam tangan sang istri yang terasa membeku.

“Terima kasih, Dok,” sahut Bram pamit, wajahnya dibuat setegar mungkin. Memeluk bahu Karina erat, tak mau melepaskan.

Bram melihat Karina menangis.

Bukan. Dia bukan menangisi kenyataan bahwa dia tidak bisa mengandung. Dia menangisi Bram yang sedang ‘sakit’.

Maaf Pak Bram, dari sisi Anda mustahil untuk membuahi istri. Kualitas dan jumlahnya memang tidak memungkinkan.”

Suara dokter Obgyn itu menusuk sampai ke jantung Karina. Dia tak rela melihat Bram sakit.

***

Setelah vonis dokter kehidupan rumah tangga Karina dan Bram di titik nadir. Bram mulai pulang terlambat. Bau alkohol, bau parfum wanita membekukan ranjang mereka yang biasanya hangat. Bram mulai kasar, sesekali bahkan pernah mengangkat tangan pada Karina.

Karina tahu itu hanya reaksi putus asa Bram akan kondisinya. Karina coba menguatkannya, tapi alih-alih menerima perhatian itu, Bram malah menganggap Karina merendahkannya.

Pertengkaran yang terus terjadi dan sakit yang dirasakan Karina makin menjadi ketika Bram akhirnya menceraikannya.

“Aku sudah tidak bisa hidup bersamamu lagi, Rina. Kita pisah saja. Cari kehidupan masing-masing.

Karina terluka, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah perceraian itu, Karina keluar dari rumah mereka. Bagaimanapun kerasnya Bram memohon padanya untuk menempati rumah itu, Karina menolak. Ia lebih memilih kembali ke rumah Mama dan Papanya. Menolak pembagian harta gono-gini, bahkan mobil yang dibelikan Bram dikembalikannya.

Ia tidak membawa apa-apa, kecuali barang-barang yang sudah dipunyainya sejak masih gadis.

Begitu Karina pergi, hidup Bram kacau. Rumah mereka bukan hanya kehilangan aroma parfum Karina dan kopi seduhan perempuan itu. Rumah itu kehilangan cahayanya.

Sebulan setelah ikrar cerai, Bram mendatangi rumah keluarga Karina untuk menanyakan kabar Karina. Ia ingin minta maaf, ia ingin Karina kembali padanya. Jika perempuan itu sudah berikrar setia dan rela mendampinginya dalam setiap kekurangan dan kelebihannya, kenapa dia harus menyiksa diri dengan perpisahan?

Tetapi, Karina sudah pergi.

“Jangan tanya ke mana, dia pergi untuk harga dirinya. Kau sudah membuangnya, jangan cari lagi!” Ancam Papa Karina marah.

Sejak itu, memang tidak pernah lagi terdengar kabar Karina.

Sepuluh tahun, hari ini Tuhan mempertemukan mereka.

***

  “Kau tinggal di mana selama ini?”

Suara Bram kembali terdengar. Matanya menatap lekat ke manik mata Karina.

“Aku tinggal di London,” sahut Karina. “Aku meneruskan pendidikanku di sana, Bram. Lalu mendapat pekerjaan di sebuah sekolah.”

“Di sana kau berjumpa suamimu, eh … Pak James maksudku.”

“Ya,” Karina mengangguk. “Kami menikah tujuh tahun yang lalu dan punya Andy.”

Good for you,” Bram mengangguk tulus. “Aku senang kau bahagia, Rina. Kau pantas mendapatkannya.”

“Aku ….” Karina kehilangan kata-katanya. “Aku sudah dengar cerita Kak Magda tentang kiprahmu dengan yayasan sosial untuk anak-anak tak mampu itu. Aku bangga padamu, Bram.”

“Ah, itu …” Bram mengelus dagunya sekilas. Karina melihat sudut matanya yang sudah memiliki garis kerutan melebar. Karina ingat ekspresi saat Bram sedang senang.

Mereka berpisah tanpa kata-kata lagi.

***

Karina melihat bayangan Bram yang menjauh dan hilang di antara kerumunan orang-orang.

Ia menarik napas dan berbalik ke tempat James dan Andy.

Masa lalu memang seperti buku, kau bisa mengulang baca berkali-kali, itu tidak akan mengubah jalan cerita dan endingnya. Menerimanya. Itu saja

 

 

   

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)